Serba serbi BPK Banjarbaru

Meski Dimaki, Keberadaan Barisan Pemadam Kebakaran Tetap Dinanti

Peralatan komunikasi selalu stand by, baik di posko maupun yang dibawa secara portabel. Gunanya, saat ada informasi kebakaran maka bisa cepat saling m

Penulis: Salmah | Editor: Edi Nugroho
banjarmasinpost.co.id/salmah saurin
Para Pejuang BPK yang tergabung dari berbagai posko di Banjarbaru dan Kabupaten Banjar 

Editor: Edi Nugroho

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU-Peralatan komunikasi selalu stand by, baik di posko maupun yang dibawa secara portabel. Gunanya, saat ada informasi kebakaran maka bisa cepat saling mengabarkan. Upaya pemadaman pun bisa dilakukan sesegera mungkin.

Ya, begitulah Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) yang di Kalsel sangat banyak keberadaannya. Makanya tak heran, setiap musibah kebakaran selalu banyak armada yang datang.

Muhammad Hasan SAg, anggota BPK Regas (Relawan Generasi Sungai Ulin), Banjarbaru, mengatakan, menjadi relawan kebakaran itu dimotivasi rasa kepedulian, ingin menolong para korban. Tidak ada keinginan lain, apalagi mencari materi.

Sebagaimana Hasan, ia seorang guru berstatus pegawai negeri. Punya gaji bulanan. Juga ia punya usaha sampingan. Namun ia masih ringan tangan, ringan hati, turut membantu para korban kebakaran.

Baca juga: Rumah Duka Relawan Pemadam Kebakaran Dikunjungi Bupati dan Wakil Bupati HSS

Baca juga: Jalan Sempit, Petugas Pemadam Sulit Menjangkau Lokasi Kebakaran di Permukiman Mendawai Palangkaraya

Baca juga: Perkuat Tanggap Kebakaran, Tala Tambah Pos Pemadam di Kecamatan Panyipatan

Baca juga: Jelang Kemarau, Kalteng Siagakan Personel dan Peralatan Pemadam Kebakaran Lahan dan Hutan

"Begitulah. Malah saya dan rekan-rekan kadang tak mikir apa-apa lagi. Setiba di Posko kemudian langsung naik ke pikap atau truk tangki. Sementara sepeda motor yang diparkir posko kadang lupa dicabut kunci. Syukurlah rekan yang datang belakangan sering mengontrol dan mengamankan," paparnya.

Pengalaman sebagai relawan kebakaran, lanjut Adi, driver BPK Regas, pernah saat akan meluncur ke TKP kebakaran ternyata armadanya macet, maklum armada yang dipakai sudah berumur sedangkan beli baru tak mampu. Jadi semua sarana adalah hasil swadaya relawan dan donatur.

Bagi Abdurahman, anggota BPK Combat, Kabupaten Banjar, asalkan bisa berangkat, maka ia dan rekan-rekan dengan rela hati membantu memadamkan api.

"Termasuk ketika hari raya, kami tak bisa ikut shalat Idul Fitri. Karena saat bertepatan masyarakat berangkat ke tempat ibadah, terjadilah kebakaran," ungkapnya.

Waktu itu Abdurahman dan rekan-rekan harus menuju lokasi kebakaran di Komplek Amaco, Banjarbaru. Dari Martapura, armada BPK yang membawa mereka bergegas meluncur ke Banjarbaru.

Sementara dikatakan Bahrudin, anggota BPK An Noor, kadang mereka juga harus gigit jari tatkala mengejar api, sebab pernah dapat info hoax.

"Dukanya adalah ketika dapat info kejadian ternyata saat dicek malah hoax. Pernah saat enak tidur, terbangun karena ada info kebakaran. Sebagai relawan sigap meluncur ke tempat kejadian, tapi saat didatangi ke TKP tak ada kebakaran itu," ungkap Udin.

Sambung Hafidz dari BPK Antalangu, pernah dalam suatu penanganan kebakaran ada rekannya cedera. Saat masang peralatan, wajah terhantam alat semprot, sehingga harus dirawat di rumah sakit dan mendapat beberapa jahitan.

Mengenai pengetahuan dan kecakapan dalam hal darurat maupun bencana, kata Mahyu, Ketua BPK Regas, mereka juga mendapat pelatihan dari lembaga terkait.

"Secara berkala ada pelatihan dari BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah) dan PMI (Palang Merah Indonesia)," jelas Mahyu.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved