BTalk
BTalk - Membiasakan Anak Disiplin Tanpa Paksaan
Mendidik anak disiplin kerap menjadi persoalan bagi sejumlah orangtua. Agar anak bangun pagi saja, tak sedikit orangtua yang kesulitan.
Penulis: Salmah | Editor: Syaiful Akhyar
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Mendidik anak disiplin kerap menjadi persoalan bagi sejumlah orangtua. Agar anak bangun pagi saja, tak sedikit orangtua yang kesulitan.
Belum lagi anak soal aktivitasnya seperti belajar. Sedangkan untuk mendidiknya secara keras, sejumlah orangtua kadang tidak tega.
Bagaimana sebenarnya membiasakan anak disiplin dalam berbagai hal? Hal ini dibahas dalam perbincangan menarik di BTalk Banjarmasin Post Bicara Apa Saja, Sabtu 6 November 2021 pukul 16.00 Wita.
Perbincangan menghadirkan narasumber Ketua Himpunan Psikologi Indonesia (Himpsi) Kalsel, Sukma Noor Akbar MPsi Psikolog.
Baca juga: Kebakaran di Kotabaru, Tujuh Rumah di Desa Tarjun Dilalap Api, Aula Kantor Desa Turut Terbakar
Baca juga: Warga Bongkar Kiosnya di Depan Gedung BTC Jalan Pramuka Kota Banjarmasin
Baca juga: Pasokan Ikan Laut Mulai Meningkat di Banjarmasin, Harga Per Kilogram Mulai Turun
Perbincangan yang dipandu Jurnalis Banjarmasin Post, Agus Rumpoko, ini tayang live dan bisa disimak ulang di kanal Youtube Banjarmasin News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online.
Dikatakan Sukma, semua anak pada dasarnya dilahirkan dalam kondisi baik hanya saja dalam perkembangannya ada beberapa hal yang memengaruhi prilakunya.
"Apakah karena masalah prilaku itu terbentuk dari keluarga, lingkungan atau media sosial. Ini sumber yang perlu dibenahi agar prilaku anak yang negatif bisa menjadi positif," jelasnya.
Dijelaskan bahwa disiplin itu adalah sebuah perubahan dan secara asal bahasa disiplin berasal dari bahasa latin yang artinya mengajar. Jadi disiplin itu mendidik menjadi baik.
"Orangtua mengajarkan anaknya cara yang baik, itu disiplin. Dan mengajarkannya itu harus konsisten. Artinya tidak berubah-ubah. Konsisten ini juga harus melibatkan banyak pihak," jelasnya.
Jadi disiplin positif itu mengajarkan prilaku kepada anak yang sebelumnya harus dikomunikasikan kepada anak. Kalau tidak konsisten anak akan bingung.
"Konsisten tadi tidak hanya kesepakatan berdua antara anak dan orangtua tapi juga anak dengan pengasuhnya, anak dengan kakek-neneknya, dan anak dengan lingkungan sekolahnya," papar Sukma.
Semua harus punya konsistensi yang sama. Misal orangtua melarang anak main game HP di hari sekolah, sementara nenek malah membolehkan. Ini namanya pihak di sekitar anak tidak sama konsistensinya.
"Dalam disiplin positif, jika anak melanggar maka tidak ada hukuman berlebihan.Tidak ada mencacimaki yang membuat harga diri anak jadi direndahkan. Ini tidak akan membuat anak sadar," ujar Sukma.
Orangtua perlu tegas tapi menyampaikannya dengan bahasa yang nyaman. Beri konsekuensi atas pelanggaran, bukan hukuman. Konsekuensi itu akan menumbuhkan kesadaran.
"Misal anak tidak membereskan mainan atau main Hp lewat waktunya, maka konsekuensinya adalah waktu bermainnya atau menggunakan Hp dipotong," jelas Sukma.
Sebaliknya saat anak mau disiplin maka beri reward atau hadiah baik berupa barang atau bentuk laim sesuai usia anak untuk memotivasinya. Dengan begini anak akan merasa dihargai atas prilakunya yang baik.
"Zaman sudah berubah, kita tidak bisa lagi mengulangi apa yang pernah kita alami semasa kecil yaitu dengan menerima hukuman akan disiplin. Apalagi sekarang ada Undang-Undang Perlindungan Anak dan mereka punya hak. Maka cari cara yang lebih efektif yang lebih humanis," tandas Sukma.
(banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/btalk-banjarmasin-post-bicara-apa-saja-sabtu-6-november-2021.jpg)