BTalk

BTalk, Mengenal Aplikasi Tunarungu Karya Guru Kalimantan Selatan Betya Sahara

Aplikasi Dara yang dibuat Betya, guru SLB C Negeri Pembina di Banjarbaru, sistematikanya adalah mengajar anak tunarungu masuk ke dunia bunyi.

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/SALMAH SAURIN
Acara BTalk hadirkan Betya Sahara, MPd, guru Sekolah Luar Biasa Negeri di Banjarbaru, mengenai karyanya membuat aplikasi untuk membantu anak tunarungu, Sabtu (5/3/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Tak hanya membimbing anak tunarungu, tapi Betya Sahara, MPd, guru Sekolah Luar Biasa Negeri di Banjarbaru, juga membuat aplikasi untuk membantu anak tunarungu. 

Ia juga banyak meraih prestasi baik di tingkat daerah, bahkan internasional, yaitu level Asia Tenggara.

Pada 2021 meraih Winner of SEA Educational Innovation Award SEAMEO Innotech Teacher Category atas karyanya berupa aplikasi Dara (Sadar Suara) yang mengajarkan bunyi dan suara pada anak tunarungu.

Pada acara BTalk, Sabtu (5/3/2022) pukul 16.00 Wita dibahas bagaimana proses pembuatan aplikasi tunarungu ini dan cara kerjanya? Apa saja karyanya dan bagaimana ia mendidik anak disabilitas?

Perbincangan yang dipandu Tania Anggrainy, jurnalis Banjarmasin Post ini ditayangkan langsung dan bisa disimak ulang di Youtube Banjarmasin Post News Video, Instagram Banjarmasin Post dan Facebook BPost Online.

Baca juga: Hindari Pohon Tumbang, Tronton Tabrak Pohon di Suato Tatakan Kabupaten Tapin

Baca juga: Speedboat Hilang di Perairan Tanjung Sebau Kabupaten Kotabaru Kalsel, Pencarian Masih Nihil

Menurut Betya pada dasarnya senang dengan dunia teknologi, sehingga ketika menjadi guru dipadukan kemampuan itu untuk membuat media pembelajaran berbasis teknologi.

"Saya terinspirasi membuat aplikasi dari tekan sejawat yang sudah membuatnya karya aplikasi. Kemudian saya juga banyak menyimak tutorial dari YouTube," ungkapnya.

Proses membuat aplikasi itu menggunakan open source sederhana yang mudah diakses di dunia maya, antara lain app builder atau MIT inverter yang gratis penggunaannya.

Ada beberapa aplikasi yang dibuat Betya, antara lain aplikasi Dara yang sistematikanya adalah mengajar anak tunarungu masuk ke dunia bunyi.

"Bagaimana dengan aplikasi itu mereka mampu mendeteksi bunyi, misal petir, klakson, suara ayah dan ibu juga saudaranya," terang Betya.

Baca juga: Reses Hj Aida Muslimah, Anggota DPR RI di Kawasan Jalan Benua Anyar Kota Banjarmasin

Baca juga: Sejarah Tikar Purun yang Memiliki Peran Penting dalam Kehidupan Masyarakat Kalsel

Tahapan selanjutnya, anak akan belajar mengidentifikasi, kemudian komprehensifnya si anak dari bunyi tadi akan tahu ini benda apa atau ini suara siapa.

Aplikasi itu berkoneksi dengan Google recognize yaitu mengkonversi suara menjadi tulisan. 

Jadi, ketika si anak misalnya mengucap botol, maka Google akan mengenali suaranya dan mengoversi menjadi tulisan botol jika suara yang diterima bunyinya betul. 

Jika suara anak  tidak dikenali merujuk ke tulisan apa, maka suaranya tadi masih belum betul.

Prinsipnya, menurut Betya, fungsi guru itu harus memberikan pengajaran yang mempermudah. Bukan memberikan mengajarkan dengan kerumitan.

(Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved