Jendela

Pertanyaan Pasca-Lebaran

Ramadan, Idul Fitri dan mudik kita lewati berulangkali. Namun, adakah keberulangan itu menggugah kita berubah, benar-benar kembali kepada fitrah?

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Mujiburrahman 

Oleh: Mujiburrahman

BANJARMASINPOST.CO.ID - SYAHDAN, menurut Gus Dur, ada empat kategori bangsa di dunia ini. Sedikit bicara dan sedikit kerja seperti orang Nigeria dan Angola. Sedikit bicara dan banyak kerja, seperti orang Jepang dan Korea Selatan. Banyak bicara dan banyak kerja seperti orang Amerika dan Cina. Terakhir, banyak bicara dan sedikit kerja, seperti orang India dan Pakistan. “Kalau orang Indonesia bagaimana, Gus?”, tanya wartawan. “Orang Indonesia tidak masuk dalam empat kategori itu. Masalahnya, bagi orang Indonesia, antara yang dibicarakan dan dikerjakan itu beda!” jawab Gus Dur.

Meskipun humor Gus Dur di atas sudah sering kita dengar, saya tetap merasakan betapa pedas dan cerdas pesan yang dikandungnya. Dengan cara ‘melawan melalui lelucon’, humor itu menggugat perilaku kita yang seringkali plin-plan, berubah-ubah, tergantung arah angin kepentingan pribadi kita. Pandangan ini sejalan dengan pidato kebudayaan Mochtar Lubis yang kontroversial pada 1977. Menurutnya, di antara ciri-ciri orang Indonesia itu adalah munafik dan tidak teguh pendirian. Kita suka berpura-pura baik, padahal di belakang berkhianat. Kita juga lemah memegang prinsip. Asalkan dapat bagian, sebagian kaum terpelajar rela ‘melacurkan’ kecendekiawanan mereka.

Orang sekarang menyebutnya krisis integritas. Ada kesenjangan antara kata dan perbuatan, antara peraturan dan pelaksanaan. Kesenjangan itu terutama terkait nilai-nilai moral seperti kejujuran dan keadilan. Para pemimpin dan tokoh masyarakat, yang seharusnya menjadi teladan dan panutan, justru berperilaku sebaliknya. Mereka pandai meneriakkan slogan dan semboyan indah, atau menyebarkan tagline simpatik di media sosial, tetapi tanpa penghayatan dan tanggung jawab. Jika elite masyarakat sudah demikian, sulit kiranya mengharapkan rakyat atau bawahan lebih baik. Seperti kata pepatah Arab, bagaimana mungkin bayangan itu lurus, jika dahannya sudah bengkok?

Jika kesenjangan antara perkataan dan perbuatan itu makin jauh dan luas, maka lambat laun kita akan mengalami relativisme moral. Apa yang baik, benar dan adil tergantung pada orang perorang belaka. Benar menurut si A, bisa tidak benar menurut si B, semata-mata karena kepentingan pribadi A dan B berbeda atau bertentangan. Hormat pada tokoh masyarakat tidak lagi karena keteguhan moral dan kemuliaan akhlaknya, melainkan sekadar basa-basi dan sandiwara. Adapun di dalam hati dan gosip sesama elite, mereka justru mencibir dan sinis. “Tokoh A dan B itu sama saja dengan kita. Dia mau begini dan begitu karena dapat uang. Dia juga mengincar jabatan,” katanya.

Kalau kita cermati lebih jauh lagi, kemunafikan, tidak teguh pendirian hingga relativisme moral yang terjadi, ternyata bermuara dari materialisme akut. Ketika mereka ribut menyalahkan orang lain, mereka seringkali mengatasnamakan rakyat, agama, organisasi atau lembaga. Namun, jika ditelisik dengan hati-hati, tidak jarang motivasi utamanya bukan seperti yang mereka katakan, melainkan sekadar kepentingan pribadi belaka. Orang lain akan tampak selalu salah di mata mereka, jika kepentingan pribadi mereka terganggu. Sebaliknya, jika kepentingan pribadi itu berjalan mulus, orang yang memuluskan kepentingannya itu akan dipuja-puji dan keburukannya akan ditutupi.

Demikianlah, materialisme menjadi pemandu hidup kita. Kita menilai, hidup yang terhormat dan bahagia itu adalah jika kita kaya dan berkuasa. Orang terpelajar, mau tunduk bersimpuh di depan orang kaya, demi mengharap pemberiannya. Ilmu sebagai petunjuk hidup tentang yang baik dan buruk, benar dan salah, tidak digubris lagi kecuali sebagai hapalan tanpa penghayatan. Ilmu hanya menarik jika dapat mendatangkan uang. Orang yang bekerja sebagai ikhtiar mencari yang halal dan ingin berbagi dengan sesama, atau orang yang menduduki jabatan dengan tujuan menjadikannya sebagai sarana untuk mengabdi dan berbuat baik, justru dianggap aneh dan asing.

Jika semua ini semakin merajalela, maka berarti kita semakin mendekati jurang kehancuran. Kita harus segera berbalik arah. Jalan kembali selalu tersedia, selama napas masih ada. Setiap tahun kita merayakan Idul Fitri, yang artinya kembali kepada fitrah, asal mula kejadian diri kita yang suci dan baik. Jika fitrah kita itu baik, maka perbuatan buruk adalah tindakan melawan diri sendiri. Agama juga adalah fitrah, yang memandu fitrah yang sudah ada dalam diri kita itu. Percuma kita mengaku beragama dan mengkritik materialisme Karl Marx, jika dalam kenyataan, kita justru hidup serakah. Kita menjadi materialis yang berlindung di balik slogan anti-materialisme. Sungguh ironis!

Alhasil, Ramadan, Idul Fitri dan mudik telah kita lewati berulangkali. Namun, adakah keberulangan itu menggugah kita untuk berubah, benar-benar kembali kepada fitrah? Inilah pertanyaan penting pasca-lebaran yang harus kita jawab dalam pikiran, sikap dan perilaku kita. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved