Harga BBM Subsidi Naik

Aktivis PMII Kalsel Tegaskan Tolak Kenaikan BBM Bersubsidi, Rencanakan Aksi Serentak

Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalimantan Selatan (Kalsel) akan berunjukrasa menentang kenaikan harga BBM bersubsidi.

Penulis: Muhammad Rahmadi | Editor: Alpri Widianjono
BANJARMASINPOST.CO.ID/MUHAMMAD RAHMADI
Suasana pengisian bahan bakar di SPBU Jalan STM, Kota Banjarbaru, Provinsi Kalimantan Selatan, Minggu (4/9/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARBARU - Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kalimantan Selatan (Kalsel), tegas menolak kenaikan harga BBM bersubsidi.

Penolakan atas kenaikan harga BBM ditegaskan Ketua Pengurus Koordinator Cabang (PKC) PMII Kalsel, Khairul Umam. Pihaknya bahkan berencana untuk menggelar aksi serentak PMII se-Kalsel.

Menurutnya, kenaikan harga BBM tersebut tak pantas. Apalagi rakyat baru saja merasakan penderitaan secara ekonomi akibat pandemi Covid-19.

"Bahkan menuai polemik di tengah situasi ekonomi negara yang belum pulih seutuhnya," kata Umam, Minggu (4/9/2022).

Ia menegaskan, PKC PMII Kalsel sejalan dengan intruksi Pengurus Besar (PB) PMII, dan konsolidasi akbar PMII Se Indonesia di Ciloto pada tangga 29 hingga 31 Agustus 2022.

Baca juga: Harga BBM Naik, Stok Pertalite di SPBU Kota Banjarbaru Terpantau Masih Stabil

Baca juga: Harga Bahan Pokok Naik, Pedagang Sembako di Banjarmasin : Sudah Duluan Melonjak

"Yakni, menolak secara tegas kebijakan kenaikan itu, mendesak pemerintah untuk serius memberantas mafia BBM dan segera menerapkan kebijakan subsidi tepat sasaran, serta mendorong pemerintah untuk membuka keterlibatan masyarakat dalam pelaksanaan penyaluran BBM bersubsidi," ucapnya.

Umam juga menyebut, upaya pemulihan ekonomi yang dilakukan pemerintah melalui tiga cara, peningkatan konsumsi nasional, peningkatan aktivitas dunia usaha dan menjaga stabilitas ekonomi serta ekspansi moneter.

"Di lain sisi, justru pemerintah menaikkan harga BBM yang secara otomatis mengganggu, ketiga rencana tersebut yang berkaitan langsung dengan hajat hidup orang banyak," tegasnya.

"Kenaikan harga BBM berdampak buruk bagi masyarakat menengah bawah. Ini dapat mempercepat terjadinya inflasi yang tinggi dan meningkatkan jumlah orang miskin di Indonesia," tambahnya.

Menurutnya, menaikan harga BBM tentu menyentuh inflasi secara umum, sebab akan merambat ke seluruh sektor, termasuk harga-harga komoditas kebutuhan dasar masyarakat. 

Baca juga: Kantor Pertanahan Kabupaten Tala Bina Belasan UMKM, Produknya Tembus Pasar Luar Negeri

Baca juga: Harpelnas, Alfamart dan Alfagift Ajak Pelanggan Lebih Smart & Green

"Menaikkan harga BBM juga akan mengganggu perputaran roda ekonomi dalam sektor-sektor strategis negara. Sebagian besar aktivitas perekonomian nasional terutama sektor transportasi, industri, pertanian, kelautan dan perikanan, pariwisata dan lainnya," ungkapnya.

Umam juga mengatakan bahwa, saat ini pemerintah seharusnya fokus untuk memberantas penyalahgunaan penerima manfaat BBM bersubsidi. 

"Selama ini, sudah menjadi rahasia umum, bahwa terdapat banyak praktik mafia BBM bersubsidi yang sangat merugikan rakyat dan negara," terangnya.

(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Rahmadi)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved