Berita Batola

Brondol Sawit dari Jenjangan, Kakek Sahuni Diupah 500 Rupiah Per Kilo

Meski sudah cukup berusia, semangat Sahuni tidak surut untuk bekerja. Pekerjaan sehari-hari warga Batola ini adalah membrondol sawit

Penulis: Muhammad Tabri | Editor: Hari Widodo
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri
Sahuni (62), warga Desa Antar Jaya, Kecamatan Marabahan, saat membrondol buah kelapa sawit di tempat pengepul, per kilo ia dibayar 500 rupiah, Jumat (9/9/2022). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARABAHAN - Meski sudah cukup berusia, semangat Sahuni, warga Desa Antar Jaya, Kecamatan Marabahan, Kabupaten Barito Kuala (Batola) tidak surut untuk bekerja. 

Kakek berusia 62 tahun ini tetap rutin setiap hari memaksimalkan waktu senggangnya untuk mengais rejeki, meskipun terbilang tidak seberapa. 

Pekerjaan sehari-hari Sahuni adalah membrondol sawit atau mengumpulkan buah kelapa sawit yang telah terlepas dari jenjangan atau tandanannya. 

Per hari, Kakek sebatang kara ini mampu membrondol buah kelapa sawit 40 hingga 50 kg yang ia kumpulkan dalam karung. 

"Per kilo saya diupah 500 rupiah dan beras oleh pengepul sekaligus pemilik usaha ini," ucap Sahuni, Jumat (9/9/2022). 

Baca juga: Lowongan Perusahaan Sawit Hingga Tambang Tersedia pada Jobfair di SMK-PP Negeri Banjarbaru

Baca juga: Bupati Banjar dan Wabup Tanam Sawit Perdana di Desa Sumber Sari Cintapuri Darussalam

Masih dari penuturannya, pekerjaan ini ia lakukan sudah sekitar beberapa bulan lalu, semenjak harga sawit meroket hingga 3 ribu rupiah lebih per kilo.

Sang pemilik pun menyayangkan buah yang terlepas dari jenjangan terbuang percuma, sehingga dikumpulkan dan masih bisa di jual. 

"Dari situlah awalnya saya dipekerjakan. Waktu sawit mahal per kilo brondolan dibayar 1.000 rupiah, sekarang ikut turun juga," timpal Sahuni. 

Meski dibayar murah, Kakek Sahuni tidak terlalu mempermasalahkan, ia tetap turun dan bekerja semampunya. 

Dulu, semasa fit bekerja, ia juga bertani dan menyadap karet di kebun seperti warga kebanyakan. Namun setelah termakan usia dan tenaganya berkurang, ia pun memutuskan untuk bekerja di dekat rumahnya saja. 

Baca juga: Petani Kelapa Sawit dari Kabupaten Kotabaru dan Tanah Bumbu Ikuti Pelatihan Teknis

Menurut kakek Sahuni, membrondol sawit memang tidak banyak resiko, ia hanya mengais buah sawit dengan gancu dari sela jenjangan, lalu di masukkan ke dalam karung. 

Sesekali ia memang menemui binatang kecil yang memiliki sengatan cukup kuat sehingga menyebabkan kulit merah dan bentol. 

"Ya seperti itu lah gangguannya, jadi tetap hati-hati," pungkas Sahuni. 
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri) 

 

 

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved