Gempa di Cianjur

Kisah Tim SAR Tertua dari Yogyakarta di Gempa Cianjur, Jiwa Terpanggil Bantu Cari Para Korban

Inilah kisah anggota Tim SAR tertua yang turut membantu evakuasi korban Gempa Cianjur Jawa Barat. Ia adalah Supriyanta dan berasal dari Yogyakarta

Editor: Irfani Rahman
Tribunnews.com/Igman Ibrahim
Inilah Supriyanta (55), relawan dari Tim SAR Semesta Bantul, Yogyakarta untuk ikut andil dalam proses pencarian korban gempa Cianjur., Jawa Barat. Ia mengaku terpanggil ikut membantu pencarian korban gempa Cianjur 

BANJARMASINPOST.CO.ID  - Berikut ini sekelumit kisah para relawan yang berjibaku melakukan pencarian dan pertolongan terhadap para korban gempa Cianjur.Mereka rela meninggalkan pekerjaan guna membantu korban gempa. Salah satunya adalah Supriyanta (55), relawan dari dari SAR Semesta Yogyakarta.

Supriyanta satu dari ribuan relawan Tim SAR gabungan yang bergerak ke lokasi pencarian. Ia juga termasuk relawan SAR tertua.

Diketahui karena aksi para TIm SAR gabungan dan relawan, ratusan korban gempa Cianjur yang  tertimbun reruntuhan berhasil di selamatkan dan korban meninggal di temukan.

Tak hanya anak muda, ada pula relawan yang sudah berusia tua masih terjun langsung dalam pencarian korban.

Baca juga: UPDATE Korban Gempa Cianjur, BNPB: 318 Meninggal, 14 Warga Hilang, 7.729 Orang Terluka

Baca juga: Daftar Harga Emas Antam 0,5 Gram -1.000 Gram Minggu 27 November 202, Paling Murah Rp 540.500

Termasuk Supriyanta (55), relawan Tim SAR dari Yogyakarta.

Supriyanta sengaja datang jauh-jauh dari Bantul, Yogyakarta untuk ikut andil dalam proses pencarian korban gempa Cianjur.

Tribunnews juga sempat berbincang dengan ayah dari dua anak tersebut.

Perawakannya memang tak lagi muda, tapi semangatnya ikut andil dalam gerakan kemanusiaan patut diapresiasi.

Supriyanta berujar, dirinya langsung berangkat dari Bantul menuju Cianjur sesaat mendengar ada bencana gempa Cianjur pada Senin (21/11/2022) lalu.

Dia pun harus meninggalkan pekerjaanya sebagai karyawan swasta.

"Saya sehari-hari karyawan swasta, saya paling tua dari sekian pengikut operasi SAR saat ini. Saya hari Senin berangkat dari Jogja malam, sampai sini Selasa sore. Baru Rabu pagi kami ikut bergabung dalam operasi pencarian," kata Supriyanta saat berbincang dengan Tribunnews.com di warung sate Shinta, Cugenang, Cianjur, Jawa Barat, Minggu (27/11/2022).

Supriyanta mengakui usianya tidak lagi muda untuk turut andil dalam operasi SAR pencarian korban gempa Cianjur.

Apalagi, dia ditugaskan Basarnas untuk mencari korban yang tertimbun longsor di area Warung Sate Shinta.

Namun, dia mengaku rasa kemanusiaan menjadi satu-satunya alasan yang mendorongnya untuk tetap ikut membantu gempa Cianjur.

Baca juga: Jadwal Acara TV Hari Ini, Ada Robin Hood di Bioskop Trans TV dan Biar Viral di NET TV

Baca juga: Promo Alfamart Minggu 27 November 2022, Alfa Beras 5 Sak Hanya Rp 52.900, dan Filma 2L Rp 27.900  

Medan longsoran bukit Palalangon yang terjal pun tidak menjadi penghalang.

"Saya berangkat dari nilai kemanusiaan karena nilai kemanusiaan itu dipresentasi kalau orang sekarang itu hanya 40-50 persen. Saya sebagai orang yang punya empati terhadap kemanusiaan saya terjun ke dunia SAR karena SAR itu memang langsung ke titik pencarian dan pertolongan," ungkap dia.

Beruntungnya, niat Supriyanta membantu korban bencana didukung oleh sang istri tercinta.

Karena itu, keputusannya turun langsung menjadi relawan bencana alam diharapkan bisa menginspirasi generasi muda.

Pernyataanya itu pun tidak hanya pepesan kosong.

Menurut Supriyanta, nilai kemanusiaan tersebut kini telah diturunkan kepada salah satu anaknya yang kini juga terjun menjadi relawan gempa di Cianjur.

"Saya ada dorongan dari istri untuk selalu berbagi sekecil apapun, insya Allah nanti saya tidak tau kapan berhenti menjadi relawan SAR, yang penting saya menginspirasi kepada adik-adik dan anak-anak kita untuk bisa menunjukkan bahwa kita meskipun kita tidak punya materi tapi kita punya tenaga untuk berbagi untuk orang lain," jelasnya.

Supriyanta memahami bahwa dirinya juga kerap dihantui rasa takut dan bahaya yang mengintai selama proses evakuasi korban.

Karenanya, dia selalu memegang teguh standar operasional keselamatan dalam operasi.

"Secara naluri tetap ada rasa takut, ketika kita operasi SAR tentu ada SOP yang harus kita ikuti baik APD, cara kita masuk ke lokasi, cara kita beraktivitas itu tetap ada SOP yang diarahkan oleh Kasi Operasi Basarnas," ungkapnya.

Di sisi lain, Supriyanta ini bukan kali pertama dia terjun dalam kegiatan SAR.

Tercatat, dia pernah mengikuti hampir seluruh operasi kemanusiaan longsor maupun kecelakaan laut di sekitar Pulau Jawa.

"Untuk kegiatan SAR musibah itu pernah di tanah longsor Ponorogo, pernah di tanah longsor Magelang dan beberapa kejadian kecelakaan sungai hampir saya bisa hadir disana. Kecelakaan laut saya disana," tukasnya.

Baca juga: Siap-siap Pendaftaran CPNS 2023 Akan Dibuka, Ini Kata Kementerian PAN-RB

Baca juga: Kala 2.500 Orang Telanjang di Pantai Bondi Australia Terekam Kamera, Ternyata Ini Maksudnya

318 Korban Jiwa

Diberitakan sebelumnya, Deputi Bidang Penanganan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Mayjen TNI Fajar Setyawan menyampaikan, total korban di hari kelima pasca-gempa yang melanda Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, sebanyak 318 jiwa meninggal dunia.

"Untuk update sampai dengan hari ini, korban jiwa meninggal dunia jumlah 318 orang. Sedangkan untuk korban hilang ataupun masih status pencarian, 14 jiwa," kata Mayjen TNI Fajar saat konferensi pers yang disiarkan secara virtual, Sabtu (26/11/2022).

Fajar mengatakan, dari total korban tersebut, di antaranya termasuk 8 orang yang berhasil ditemukan dalam keadaan meninggal dunia.

"Adapun hasil pencarian, hari ini dapat kami sampaikan 8 orang jiwa (bertambah) per 17.00 WIB tadi," tuturnya.

Lebih lanjut, Fajar memaparkan terdapat dua korban yang berhasil ditemukan di dekat warung sate Shinta Cianjur.

"Pencarian hari ini atau ditemukan dan 2 korban di warung Shinta yang kemarin merupakan warga Cijedil," ucapnya.

Sedangkan total korban yang mengaami luka-luka sebanyak 7.729 orang. Lanjut Fajar, dari total tersebut, sebanyak 595 orang luka berat dan 7.134 orang luka ringan.

Warga yang mengungsi per hari ini, akumulasi dari hari pertama, 73.693 orang.

"Adapun untuk korban luka berat yang saat sekarang mash di rawat di Rumah Sakit berjumlah 108 orang. Untuk dinyatakan korban ringan dan sudah tertangani, mereka kembali ke rumah masing-masing," lanjutnya.

Sumber : Tribunnews.com

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved