Virus Zombie

Puluhan Virus Kuno Berusia 48 Ribu Tahun Ditemukan di Siberia Rusia, Disebut Virus Zombie

Penemuan mengejutkan terjadi di Siberia Rusia, ilmuan temukan virus kuno yang disebut Virus Zombie, berusia 48.500 tahun

Editor: Irfani Rahman
fastcompany.com
Ilustrasi Pandora Virus. Baru-baru ini ilmuan temukan virus kuno di Serbia Rusia. Virus berusia 48.500 tahun ini disebut virus zombie 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Penemuan mengejutkan terjadi baru-baru ini di bawah danau  Siberia Rusia. Puluhan virus kuno berusia sekitar 48.500 tahun ditemukan. Bahkan virus yang disebut Virus Zombie tersebut diduga masih hidup.

Puluhan virus kuno ini pun saat ini tengah diteliti oleh para ilmuan.

Termasuk apakah Virus Zombie ini  masih hidup dan bisa menginfeksi orang.

Yang jelas penemuan virus kuno ini membuat pihak peneliti menyelidiki lebih lanjut tentang virus-virus yang ada di jaman dulu kala.

Dilansir dari Fortune, Rabu (30/11/2022), peneliti tidak sengaja menemukan kembali virus-virus purba melalui proses pencairan permafrost kuno.

Baca juga: Penampakan Mumi Lidah Emas, Ahli Perkirakan Berusia 2.500 Tahun, Fungsinya Masih Misterius

Baca juga: Harga BBM Terbaru Jumat 2 Desember 2022 di SPBU Seluruh Indonesia Dari Pertalite Hingga Dexlite

Permafrost adalah tanah yang membeku yang biasa ditemukan di Kutub Utara, dan umumnya bekuan es itu berusia ribuan tahun.

Pencairan permafrost kuno yang terjadi karena perubahan iklim dinilai dapat menimbulkan ancaman baru bagi manusia, menurut para peneliti yang menghidupkan kembali hampir dua lusin virus, termasuk salah satu virus yang membeku di bawah danau lebih dari 48.500 tahun lamanya.

Peneliti Eropa memeriksa sampel kuno yang dikumpulkan dari permafrost di wilayah Siberia Rusia.

Mereka menghidupkan kembali dan mengkarakterisasi 13 patogen baru, yang mereka sebut "virus zombie", dan menemukan bahwa mereka tetap menular meskipun sudah ribuan tahun terperangkap di tanah beku.

Risiko menghidupkan virus

Ilustrasi virus corona SARS-CoV-2 penyebab Covid-19. Tonjolan menyerupai paku yang tersebar di permukaan virus corona disebut protein spike.(SHUTTERSTOCK/creativeneko)


Tim peneliti dari Rusia, Jerman, dan Perancis mengatakan, risiko biologis menghidupkan kembali virus yang mereka pelajari sama sekali tidak berarti karena strain yang mereka targetkan mampu menginfeksi mikroba amoeba.

Potensi kebangkitan virus yang dapat menginfeksi hewan atau manusia jauh lebih bermasalah.

Kemudian, mereka memperingatkan bahwa pekerjaan mereka dapat diekstrapolasi untuk menunjukkan bahwa bahaya itu nyata.

“Ada kemungkinan permafrost kuno akan melepaskan virus yang tidak diketahui saat ini saat pencairan,” tulis mereka dalam sebuah artikel yang diposting ke bioRxiv repositori pracetak yang belum ditinjau oleh rekan sejawat.

Baca juga: Waspada Begal Payudara Kembali Muncul di Depok, Terekam Kamera CCTV Saat Beraksi, Pelaku Diburu

Baca juga: Promo Alfamart Jumat 2 Desember 2022, Susu, Popok, Minyak Goreng Ditawarkan Dengan Harga Murah

Berbagai macam virus purba

Tak hanya itu, para ilmuwan juga mengatakan mengenai daya hidup virus saat terpapar udara luar. Menurut mereka, "virus-virus zombie" yang ditemukan ini tetap dapat menular.

“Berapa lama virus ini dapat tetap menular setelah terpapar kondisi luar ruangan, dan seberapa besar kemungkinan mereka akan bertemu dan menginfeksi inang yang sesuai dalam interval tersebut, masih belum dapat diperkirakan,” bunyi penjelasan tersebut.

Meski begitu, para ilmuwan juga memperingatkan bahwa kemungkinan risikonya akan meningkat dalam konteks pemanasan global.

Artinya, ketika tindakan pencairan permafrost akan terus meningkat, maka akan lebih banyak orang yang akan menghuni Kutub Utara.

Dilansir dari First Post, virus tertua dari daftar virus ini telah diidentifikasi sebagai Pandoravirus yedoma, yaitu virus beku yang diidentifikasi mampu kembali ke keadaan menginfeksi organisme lain. 

Sedangkan virus bernama Cedratviruses diekstraksi dari Sungai Lena Rusia, semenanjung Kamchatka, dan dari lumpur yang mengalir ke Sungai Kolyma.

Selain itu, ada pula satu sampel Pithovirus yang dikumpulkan dari sejumlah besar wol mammoth.

Varian lain dari Pacmanvirus, yang dikaitkan dengan beberapa kasus demam babi di Afrika, dilaporkan ada di sisa-sisa usus beku serigala Siberia yang berusia 27.000 tahun.

Baca juga: Siap-siap Pendaftaran CPNS 2023 Akan Dibuka, Ini Kata Kementerian PAN-RB

Baca juga: Ini Dia Tim yang Lolos ke -16 Besar Piala Dunia 2022, Jepang & Maroko Bersinar, Jerman Angkat Koper

Dalam studi yang ada, peneliti menyebutkan bahwa setiap kenaikan suhu satu derajat Celsius, terdapat sekitar 1,5 juta mil persegi permafrost yang bisa mencair dan melepaskan gas berbahaya, seperti karbon dioksida dan metana ke udara, dari tumbuhan dan hewan yang sudah membeku dan terperangkap ribuan tahun di bekuan es.

Sumber: Kompas.com

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post

Sumber: Kompas.com
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved