Opini Publik

ChatGPT dan Kekhawatiran Guru

Berkat teknologi, generasi anak-anak masa sekarang tumbuh dengan limpahan informasi yang ada di ujung jari-jari mereka.

Editor: Eka Dinayanti
istimewa
Irma Suryani, (Pemerhati Pendidikan Anak) 

Oleh: Irma Suryani, Pemerhati Pendidikan

BANJARMASINPOST.CO.ID - KEKHAWATIRAN para guru mengenai aplikasi ChatGPT yang dinilai dapat membuat para siswa semakin mudah berbuat curang memang beralasan. Tapi, buru-buru melarang penggunaannya bukanlah hal tepat pula. Bagaimanapun, kemajuan pesat teknologi telah merasuk ke semua bidang kehidupan dan semestinya pula menjadi bagian inti dari pendidikan.
Tak bisa disangkal teknologi telah menciptakan disrupsi dihampir semua sendi kehidupan kita. Tak terkecuali sektor pendidikan. Hadirnya teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligent (AI) membuat sebagian pihak mengkhawatirkan mengenai dampaknya bagi proses pendidikan anak-anak kita di masa depan. Haruskah teknologi kita jauhkan dari dunia pendidikan kita?

Kita semua sekarang hidup dalam sebuah dunia di mana internet menjadi sumber segala informasi. Berkat teknologi, generasi anak-anak masa sekarang tumbuh dengan limpahan informasi yang ada di ujung jari-jari mereka.

Momen ketika anak-anak sekolah mengunjungi perpustakaan, memilih buku, dan kemudian memfotokopi sebagian isinya untuk dijadikan bahan rujukan tugas sekolah mereka bukanlah sesuatu yang tipikal buat anak-anak sekolah sekarang ini. Bahan-bahan rujukan yang mereka butuhkan dapat dengan mudah mereka dapatkan dengan memanfaatkan gawai yang mereka miliki.

Seiring teknologi dan budaya masyarakat yang terus berkembang, cara kita belajar juga akan terus berubah. Oleh sebab itu, dunia pendidikan juga harus berubah.

Munculnya beragam perangkat berteknologi mutakhir perlu dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kemajuan sektor pendidikan. Termasuk kehadiran ChatGPT, yang kini justru membuat panik sebagian kalangan pendidik.
Dirilis akhir November 2022 lalu, ChatGPT, yang dikembangkan oleh perusahaan OpenAI yang berbasis di San Francisco, AS, merupakan bagian dari sistem AI generasi baru yang memungkinkan kita melakukan percakapan dengannya, layaknya percakapan antarmanusia.

Menurut analisis UBS Swiss, ChatGPT adalah aplikasi dengan pertumbuhan tercepat dalam sejarah teknologi modern. Betapa tidak. Pada bulan Januari lalu, hanya dua bulan setelah diluncurkan, ChatGPT telah memiliki 100 juta pengguna aktif. Sebagai perbandingan, TikTok membutuhkan waktu sekurangnya sembilan bulan untuk bisa mencapai 100 juta pengguna.

Selain mampu menjawab pertanyaan apapun, ChatGPT juga dapat membuat gambar dan video baru berdasarkan apa yang telah dipelajarinya dari database besar buku digital, tulisan online, dan media-media lainnya.

Tidak seperti perangkat AI sebelumnya yang dikenal sebagai “model bahasa besar”, ChatGPT saat ini tersedia gratis untuk siapa saja. Perangkat ini juga dirancang agar lebih ramah pengguna. Jutaan orang telah memanfaatkan ChatGPT selama sebulan terakhir ini. Orang-orang menggunakannya antara lain untuk menulis puisi maupun lagu.

Namun, kehadiran ChatGPT tidak serta merta disambut antusias. Terutama di kalangan para guru. Mereka khawatir tentang dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh ChatGPT pada proses pembelajaran para siswa. ChatGPT dikhawatirkan akan lebih mendorong siswa bertindak curang, selain juga akan menumpulkan daya kritis dan kreativitas mereka.

Pasalnya, ChatGPT dapat menulis artikel tentang topik apapun secara efisien (walaupun belum tentu akurat) hanya dalam hitungan detik. Ia juga dapat menulis esai secara lengkap dalam hitungan detik pula, sehingga memudahkan para siswa untuk menyontek atau melakukan plagiasi. Karena kekhawatiran itulah, beberapa sekolah di AS langsung mengambil tindakan dengan memblokir akses ChatGPT di komputer dan jaringan internet sekolah mereka.

Sumber Informasi
Seperti telah dipaparkan di muka, teknologi dan budaya masyarakat terus berkembang. Cara kita belajar juga akan terus berubah. Maka, dunia pendidikan juga harus berubah. Guru kini bukan satu-satunya sumber pengetahuan dan sumber informasi bagi siswa. Informasi apa pun dapat mudah didapatkan. Tak menutup kemungkinan peserta didik telah lebih dahulu mengakses suatu informasi sebelum informasi itu disampaikan atau dijelaskan oleh guru di depan kelas.

Dengan program dan aplikasi kecerdasan buatan, siswa sekarang dapat memilih untuk belajar di mana saja dan kapan saja. Selain itu, dengan kemampuannya untuk mengadaptasi dan mempersonalisasi konten menurut setiap pengguna, siswa dapat lebih banyak mempraktikkan pembelajaran mandiri dan mengerjakan mata pelajaran atau topik yang mereka geluti.
Peran guru sendiri dewasa ini adalah untuk memastikan bahwa proses pembelajaran dan metode pembelajaran yang tepat dapat berjalan dengan baik, selain untuk memberi asistensi kepada siswa, seperti dalam masalah kesulitan belajar dan pengembangan pribadi, serta memberikan dukungan emosional kepada mereka.

Percuma saja, misalnya, melarang ChatGPT atau perangkat berteknologi canggih lainnya, toh para siswa sekarang memiliki ponsel pintar atau komputer jinjing. Mereka masih bisa membuka dan menggunakan ChatGPT di rumah mereka. Begitu juga dengan perangkat-perangkat teknologi canggih lainnya. Alih-alih melarang, sekolah justru perlu memanfaatkan produk teknologi canggih macam ChatGPT untuk turut membantu proses pembelajaran dan juga untuk membantu tugas-tugas administratif yang dibebankan kepada guru.

Suka atau tidak, kemajuan pesat teknologi telah merasuk ke semua bidang kehidupan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved