Ekomomi

Bawang Putih Tembus Rp 44 Ribu per Kilogram

data Panel Harga Badan Pangan Nasional, harga bawang putih, Jumat, Rp 44.150 per kilogram. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan April 2023 yakni

Editor: Edi Nugroho
banjarmasinpost.co.id/salmah saurin
Ilustrasi: Bawang merah dan bawang putih sampai saat ini stoknya masih cukup di pasaran. Harganya pun, stabil, Kamis (25/3/2021). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Tidak hanya telur dan pakan ternak, kenaikan harga juga terjadi pada bawang putih. Ini terjadi di sejumlah pasar tradisonal Jabodetabek, Jumat (26/5).

Berdasarkan data Panel Harga Badan Pangan Nasional, harga bawang putih, Jumat, Rp 44.150 per kilogram. Angka tersebut melonjak tajam dibandingkan April 2023 yakni Rp 33.950 per kilogram.

Tak hanya bawang putih, sejumlah bahan pangan lainnya juga mengalami kenaikan harga. Adapun kenaikan harga pada hari ini terjadi pada komoditas bawang merah, cabai dan daging ayam.

Untuk bawang merah, harga rata-rata di pasar Jabodetabek di kisaran Rp 53.350 per kilogram. Sementara, cabai rawit merah tembus Rp 52.500 per kilogram.

Baca juga: Merintis Bisnis Miniatur di Sosial Media, Hidayat Sulap Koran Bekas Jadi Rupiah

Baca juga: Ajak Pedagang Bakso saat Daftar ke KPU Kalsel, Bakal Calon DPD RI ini Ingin Dukung UMKM

Melejitnya harga bawang putih beberapa waktu belakangan, salah satu penyebabnya adalah suplai atau ketersediaan yang sangat sedikit. Sementara permintaan terus meningkat.

“Secara hukum ekonomi harga itu pasti berkorelasi dengan suplai, ketika suplai itu kurang, maka harga cenderung akan meningkat.

Begitupun sebaliknya,” ujar Analis ketahanan pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas) Retno Utami dalam diskusi publik Pusbarindo Carut Marut Tata Niaga Impor Bawang di Jakarta, Kamis (25/5).

Menurut Retno, 90-95 persen komoditas bawang putih di Indonesia dari impor. Ketergantungan Indonesia terhadap impor bawang putih sangat tinggi lantaran petani dalam negeri tidak bisa memproduksi dengan jumlah yang banyak.

Sedang Wakil Kepala Satgas Pangan Polri Helfi Assegaf menilai ada kendala dari distribusi terutama terkait ketersediaan bahan bakar minyak (BBM). “Kenapa BBM-nya? BBM (Subsidi) sudah tepat tapi ada penyimpangan ada yang lari ke pengusaha tambang, ke perkebunan, sehingga di SPBU yang seharusnya untuk transportir tapi karena langka dan harga naik otomatis cost transportasi naik dan ini mempengaruhi harga pokok penjualan (HPP), harga produksi meningkat,” ujarnya.

Baca juga: Memajukan UMKM Melalui Expo pada Rangkaian Hari Jadi ke-20 Kabupaten Balangan

Selain itu, ada juga kendala cuaca yang sangat mengganggu jalur pendistribusian. Hal ini banyak dirasakan oleh para pelaku usaha di wilayah Indonesia timur.

Dapatkan informasi lainnya di Googlenews, klik : Banjarmasin Post

(tribunnews/kontan).

Sumber: Tribunnews
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved