BTalk
Tampilkan Petualangan Mistis Kalimantan
Berikut perbincangan jurnalis Banjarmasin Post dengan dua urang Banua yang terlibat dalam pembuatan Film Saranjana Kota Ghaib
BANJARMASINPOST.CO.ID - Tak hanya kisah misteri, kekuatan lain Film Saranjana Kota Ghaib, adalah pesona Kalimantan Selatan. Keindahan alam Banua dan budaya Banjar seperti dialog, pakaian adat, tarian hingga ritual pemakaman dengan sentuhan musik tradisional, menyedot perhatian masyarakat. Program B-Talk menghadirkan dua urang Banua yang terlibat dalam film tersebut. Yakni, sutradara yang juga penulis cerita dan produser film, Johansyah Jumberan (Bang Jo) serta grup musik asal Kalsel, Jef Banjar, dengan dipandu jurnalis BPost Risman Noor, Jumat (17/11).
Untuk Jef Banjar sejak kapan mulai berdiri?
Jefry: Jadi kalau kami berdirinya sudah dari tahun 2012. Awalnya mungkin masih belum di lagu Banjar. Dimana lagu Banjar itu masih selingan, satu atau dua lagu. Lalu kami mulai serius banget bikin lagu Banjar pada 2016. Jadi kami sekarang sudah bikin 3 album lagu Banjar.
Album pertama rilis di tahun 2017 yaitu album Wajah Sampai ka Puting yang ada lagunya Ayo ke Banjarmasin dan ada soundtrack film Pangeran Antasari dan tahun 2019 ada rilis album lagi Gawi Manuntung. Tahun 2023 ini judul albumnya “Seraba Kawa” dan di mana di album ini ada tiga lagu yang menjadi soundtrack film Saranjana.
Bagaimana awal mula melibatkan Jef Banjar?
Bang Jo: Sebenarnya saya sudah kenal lama dengan Jef Band dan inginnya membuat film musikal dengan banyak lagu Banjar. Bahkan saya pernah punya ide berlatarkan film Kalsel dengan latar lagu Banjar tapi karena pandemi kita nggak lanjut
Dari film musikal, lalu memilih film horor, bagaimana ceritanya?
Bang Jo: Kebetulan setelah pandemi merubah gaya hidup dan genre horor naik. Akhirnya saya memberanikan diri untuk mengangkat Saranjana dan itu pembicaraannya dari Ramadan 2022
Untuk tema dan cerita merangkainya darimana?
Bang Jo : Yang pasti sebenarnya saya tahu tentang Saranjana. Tapi tidak mungkin saya hanya mengeksplor sesuatu dari “katanya”. Akhirnya saya juga memberanikan diri survei lokasi sampai ke Kotabaru.
Saya juga tidak mau terfokus terhadap satu Kota Saranjana saja. Saya harus membawa Saranjana ini menjadi wakil Kalimantan Selatan. Sehingga dalam film itu harus semua tentang Kalimantan terbawa dan akhirnya saya pakailah Kotabaru sebagai gambaran laut, Hulu Sungai Selatan sebagai rawa dan sungai, Hulu sungai Tengah sebagai pegunungan itu mewakili Kalsel.
Semua budaya yang ada di Kalsel akhirnya saya bawa dari tari batopeng, kuyang, anak sima semua itu saya gabung untuk menjadi sebuah petualangan mistis di Kalimantan.
Untuk musik Banjar agak spesial dan Jef Banjar sudah mulai dikenal anak muda, untuk membuat ini idenya darimana?
Bang Ben: Awalnya sih setelah diminta untuk ost film Saranjana, kita cari inspirasi sampai membayangkan Saranjana itu seperti apa. Mencari nada dulu, baru kami diskusikan untuk liriknya. Di dalamnya kita masukkan pesan-pesan di dalamnya sehingga untuk lagu Banjar ini mengalir saja karena memang sebelumnya banyak lagu Banjar yang kami ciptakan.
Munculnya Saranjana mengangkat nama produser, ada film yang sudah dibikin?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/penayangan-perdana-film-Saranjana-Kota-Ghaib-di-bioskop.jpg)