Berita Nasional
Penyakit Mycoplasma Pneumonia Sudah Ada Sebelum Covid-19
Mycoplasma pneumonia merupakan bakteri atipit. Merupakan salah satu penyebab infeksi saluran pernapasan sebelum pandemi Covid-19.
BANJARMASINPOST.CO.ID,JAKARTA - Kasus mycoplasma pneumonia belakangan terus menjadi sorotan dunia.
Ini setelah penyakit pernapasan akut tersebut menyerang banyak anak di Cina.
Spesialis Paru RSUP Persahabatan Jakarta yang juga Ketua Pokja Infeksi Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI), Prof Dr dr Erlina Burhan M.Sc, SpP(K), angkat bicara.
Dalam konferensi pers virtual, Jumat (1/12/2023), Erlina menjelaskan, bakteri ini sudah ada lama.
“Mycoplasma pneumonia merupakan bakteri atipit. Merupakan salah satu penyebab infeksi saluran pernapasan sebelum pandemi Covid-19. Kuman ini sudah ada sebelum ada pandemi yang menyebabkan pneumonia,” ujarnya.
Baca juga: Dinas Kesehatan Kalsel Waspadai Mycoplasma Pneumonia, KKP Periksa Penumpang dari Cina
Baca juga: Jelang Haul ke-77 Habib Basirih, Gubernur Kalsel Berikan Bantuan Empat Ekor Sapi
Namun karena tidak rutin diperiksa, bakteri ini umumnya ditemui saat pemeriksaan terhadap pasien yang mengalami gejala.
Erlina juga mengungkap gejala mycoplasma pneumonia yang dialami orang dewasa dan anak-anak berbeda. Pada dewasa gejalanya ringan.
“Ada batuk, demam tidak terlalu tinggi, kemudian dahaknya tidak banyak, tidak hijau atau kekuningan atau kecokelatan, tapi bening. Leukositnya tinggi,” ujarnya.
”Tingkat kesembuhan tinggi sehingga tidak perlu dirawat. Cukup istirahat di rumah, minum obat asymtomatis seperti obat flu, paracetamol. Minum yang cukup. Kalau memerlukan antibiotik yang makrolab. Itulah kenapa mycoplasma tidak jadi sesuatu yang dikhawatirkan,” urai dia.
Namun hal ini akan berbeda jika terjadi pada anak. Terutama pada anak yang memiliki riwayat alergi dan asma.
Baca juga: Pengertian Penyakit Pneumonia, Kementerian Kesehatan Jelaskan Kejadian di China dan Imbau Tak Panik
“Kalau anak punya alergi dan asma biasanya agak berat akan menimbulkan penyempitan saluran napas sehingga menjadi sesak. Demikian pula lansia. Ini akan lebih berat. Apalagi kalau ada komorbid, asma, hipertensi,” ujar dia.
Erlina juga mengungkap berdasarkan penelitian terhadap pasien pneumonia yang dirawat di rumah sakit, 26 persennya terdapat co-infeksi. “Akan lebih berat kalau Co-infeksi. Kalau hanya pneumoni tidak akan berat,” ujar dia. (vvn/kompas)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ILUSTRASI-Penyakit-pneumonia-sabtu-02122023.jpg)