Geopark Meratus
Bukit Langara, Situs Geopark Meratus yang Memadukan Pemandangan Sungai dan Perbukitan
Mau melihat keindahan alam yang masih berada di Geopark Meratus, datang saja ke Bukit Langara di Desa Lumpangi, Kecamatan Loksado,
Penulis: Muhammad Syaiful Riki | Editor: Irfani Rahman
BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Bukit Langara, bisa dibilang merupakan destinasi wisata perpaduan sempurna antara sungai dan perbukitan.
Bukit yang berada di Desa Lumpangi, Kecamatan Loksado, Hulu Sungai Selatan (HSS) ini adalah situs ke-53 Geopark Meratus, rute bagian Utara.
Puncak Langara menawarkan keindahan hamparan Sungai Amandit, Bukit Kantawan, serta deretan Pegunungan Meratus.
Perpanduan ini yang biasanya dijadikan wisatawan sebagai latar belakang objek swafoto di puncak Bukit Langara.
Akses menuju Bukit Langara berjarak 200 meter dari permukaan laut atau 660 meter dari lokasi parkir kendaraan. Namun, treknya tidak bisa dianggap remeh.
Setelah sampai di akses masuk, pengunjung terlebih dahulu harus menyusuri perkebunan jati milik warga setempat.
Baca juga: Sekilas Makam Keramat Tenggelam di Aranio, Berada di Bawah Perairan di Situs ke-38 Geopark Meratus
Baca juga: Festival Nan Sarunai Tabalong 2023 Berlangsung Meriah, Bupati Anang Janjikan Digelar Setiap Tahun
Jalan setapak bertanah merah di kebun ini memiliki kemiringan yang curam dan licin. Apalagi saat musim penghujan.
Tak lama setelah menyusuri jalur tersebut, pengunjung lalu melewati trek bebatuan karst yang tajam dan terjal. Beberapa titik jalur mengharuskan untuk melipir bebatuan yang di sebelahnya adalah sisi jurang yang terjal dan dalam.
Di sini, harus ekstra hati-hati dalam memilih pijakan. Sebab, bila lengah sedikit saja dapat berakibat fatal.
Setelah mendaki sekitar 30 menit, di sisi kanan pengunjung bakal disambut pemandangan Bukit Ketawang dibalut pepohonan rimbun. Di bawahnya, tampak aliran Sungai Amandit.
Dalam Geopark Meratus, Bukit Langara masuk ke situs geologi. Bukit Lanhara terbentuk dari proses geologi yang tersusun oleh batugamping Formasi Batununggal, berumur 95-135 juta tahun lalu.
Ketua Harian Badan Pengelola Geopark Meratus (BPGM) Kalsel, Hanifah Dwi Nirwana menjelaskan batugamping ini terbentuk pada depan teran Patenoster (Australia) saat hanyut ketika zaman Kapur Awal.
Sebelumnya pada Kapur Tengah membentur teran lain yang sudah ada terlebih dahulu (SW Borneo/Schwaner).
“Kemudian proses kolisi membuat batugamping tersebut terdeformasi, teralihtempatkan lalu kontak dengan batuan ofiolit dan selanjutnya terangkat ke permukaan setelah benturan,” jelasnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)
Puncak Bukit Langara yang menawarkan pemandangan hamparan Sungai Amandit, Bukit Kantawan, serta deretan Pegunungan Meratus.
Geopark Meratus
Bukit Langara
Desa Lumpangi
Kecamatan Loksado
Kabupaten Hulu Sungai Selatan
Sungai Amandit
Banjarmasinpost.co.id
Berbarengan Negara Lain, UNESCO Bakal Evaluasi Usulan Geopark Meratus |
![]() |
---|
Batu Hapu dan Pulau Sewangi Masuk Geopark Meratus, Wisatawan Terus Berdatangan |
![]() |
---|
Miliki Empat Rute, Ini Daftar 54 Situs Geopark Meratus, Miliki Ciri Keindahan Masing-masing |
![]() |
---|
Sekilas Makam Keramat Tenggelam di Aranio, Berada di Bawah Perairan di Situs ke-38 Geopark Meratus |
![]() |
---|
Benarkah Geopark Meratus Upaya Penyelamatan Pegunungan Meratus? Pengelola Janjikan ini |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.