Berita Kotabaru

Pemanfaatan Void demi Air Bersih, Ini Tujuan Waduk Gunung Ulin Dibangun

Krisis air bersih, setiap tahun saat musim kemarau masih menghantui masyarakat Kotabaru, Kalimantan Selatan.

Penulis: Herliansyah | Editor: Kamardi Fatih
banjarmasin post
Wadung Gunung Ulin 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Krisis air bersih, setiap tahun saat musim kemarau masih menghantui masyarakat Kotabaru, Kalimantan Selatan. Menjadi penyebab kekurangan air baku, sedangkan populasi penduduk terus bertambah tak kecuali pelanggan PDAM.

Permasalahan klasik terjadi setiap tahun, saat musim kemarau titik-titik penampungan stok air baku menipis bahkan kering. Selain waduk atau embung, terlebih daerah-daerah hanya terdapat intake karena sungai kering.

Diakui Taufik Hidayah, warga Kecamatan Pulau Laut Sigam. Krisis air bersih hingga sekarang masih momok warga Pulau Laut. Meski tidak separah beberapa tahun silam.

Menurut dia, waktu itu krisis air bersih sangat dirasakan karena stok air hanya mengandalkan waduk Gunung Ulin.

"Sekarang ada embung Gunung Tirawan dan intake Sebelimbingan. Memang kurang lancar juga sih, tapi tidak separah yang dulu-dulu," katanya.

Sebelum ada embung Gunung Tirawan, ketika musim kemarau pipa leding tidak teraliri air hingga memaksa warga berburu air bersih. Misal membeli air ke pemilik sumur bor atau penjual air keliling.

"Mengalir ya mengalir kalau sekarang, cuma harus ditunggu. Tapi masih mendingan. Tapi kalau kemaraunya panjang ya tidak mengalir juga," ucap Taufik Hidayat.

Senada diakui Abdul, hingga sekarang krisis air bersih masih momok masyarakat atau pelanggan PDAM.

"Memang tidak seperti dulu. Kadang-kadang air di leding masih mengalir kalau sekarang. Tapi juga tergantung kemaraunya," jelasnya.

Kemarau 2023, sambungnya, hanya beberapa bulan, sehingga air mengalir walau bergilir. "Dulu waktu hanya ada embung Gunung Ulin, sebulan kemarau sudah susah," katanya.
Terkait krisis air bersih masih menggelayuti warga di Pulau Laut saat musim kemarau, tidak ditepis Sekretaris Daerah Kotabaru Drs H Said Akhmad Assegaf MM.

Menurut Said Akhmad, Pemerintah Daerah terus berupaya menanggulangi krisis air bersih. Meski selama ini terbantu embung Gunung Tirawan, selain intake Sebelimbingan untuk suplai air baku ke waduk Gunung Ulin.

Said Akhmad memastikan ke depan krisis air bersih bisa teratasi, saat stok air di void atau eks tambang dimanfaatkan untuk kebutuhan air bersih. "Jadi air di voit itu untuk air bersih, bukan air minum," tegasnya.
Air di eks galian tambang dapat memenuhi kebutuhan air bersih, karena debitnya banyak yakni 15 juta kubik.
Diakuinya, layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan air bersih misal mandi, cuci dan kakus (MCK).

Sebelumnya, stok air baku di void tersebut dikatakan Said Akhmad, sudah dilakukan kajian dan masih pada standar baku mutu. "Untuk memenuhi kebutuhan air bersih, bukan untuk air minum ya," ujarnya.

Memastikan apakah air di void tersebut kedepan bisa dipakai untuk konsumsi, masih perlu dilakukan kajian tambahan.

"Perlu dilakukan kajian tambahan apakah bisa dikonsumsi. Tapi yang pasti untuk memenuhi kebutuhan air bersih, airnya ada dulu," katanya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved