Korban Kecubung Berjatuhan
Marak Fenomena Mabuk Kecubung di Kalsel, Psikolog Klinis Ungkap Hal Ini
Inik ata psikolog klinis mengenai fenomeda mabuk kecubung di Kalimantan Selatan, Menurutnya, maraknya fenomena ini harus melibatkan psikolog
Penulis: Muhammad Syaiful Riki | Editor: Irfani Rahman
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Fenomena mabuk kecubung marak di Kalimantan Selatan. Hal ini setelah Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sambang Lihum melaporkan ada 28 pasien menjalani perawatan akibat kecanduan obat yang diduga dari kecubung.
Bahkan, dua orang di antaranya meninggal dunia. Keduanya merupakan pria yang berasal dari Banjarmasin dengan usia 20 dan 44 tahun.
Ketua Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Kalsel, Melinda Bahri turut memberikan sorotan. Menurutnya, maraknya fenomena mabuk kecubung harus melibatkan psikolog untuk mengidentifikasi latarbelakang pengguna.
“Kita harus mengetahui mengapa remaja melakukan perilaku negatif ini, sehingga dapat diberikan intervensi baik ke remaja dan keluarga agar kejadian serupa tidak terulang,” katanya, Rabu (10/7/2024).
Melinda mengatakan, salah satu perkembangan psikologis pada masa remaja adalah cara pikir yang lebih kompleks. Menurutnya, remaja memiliki rasa ingin tahu.
Baca juga: Pasien Racikan Kecubung di Kalsel Bertambah, RSJ Sambang Lihum Rawat 39 Pasien, Ada Tak Bisa Ngomong
Baca juga: Tak Hanya 2 Orang Tewas Akibat Racikan Kecubung, 28 Warga Kalsel Dilarikan ke RSJ Sambang Lihum
Rasa ingin tahu ini sangat berguna bagi dirinya. Karena dengan sifat ini, remaja bisa menjadi kreatif dan mau mencari sesuatu yang belum dia ketahui.
“Namun, dari sebagian remaja yang mempunyai sifat rasa ingin tahu tersebut bisa menjadi hal negatif bila mereka menggunakannya pada hal-hal negatif,” tuturnya.
Selain itu, faktor keluarga dan lingkungan juga mempengaruhi perilaku remaja ke arah negatif. Kata Melinda, remaja yang sangat ingin diterima di lingkungannya berusaha menyesuaikan diri dengan aturan yang ada.
“Merrka ingin menunjukkan kekuasaan tanpa menganalisa dampak dari pengaruh lingkungan,” ujarnya.
Laporan RSJ Sambang Lihum, rata-rata pasien pecandu kecubung berasal dari Banjarmasin. Ada pula dari Barito Kuala, Banjar, Hulu Sungai Selatan, dan Banjarbaru.
Meski begitu, Melinda menilai perilu negatif bisa terjadi di wilayah manapun.
“Setiap wilayah kabupaten kota memiliki kerentanan pada remaja untuk melakukan perilaku negatif, faktor yang utama adalah dari lingkungan atau peer grup dan keluarga,” paparnya.
(Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Syaiful Riki)
mabuk kecubung
kecubung
RSJ Sambang Lihum
Kalimantan Selatan
psikologi klinis
Banjarmasinpost.co.id
dampak kecubung
Sasar Lingkungan Sekolah, Satres Narkoba Polres HST Terus Sosialisasikan Bahaya Kecubung |
![]() |
---|
Ini Upaya DPRD dan Pemprov Kalsel Tangani Fenomena Mabuk Kecubung |
![]() |
---|
Polsek Pelaihari Berangus Kecubung di Desa Galam, Tumbuh Liar di Belakang Rumah Warga |
![]() |
---|
Begini Perilaku Pasien Korban Kecubung di RSJ Sambang Lihum Kalsel, Terpaksa Diikat di Ranjang |
![]() |
---|
Ditemukan di Jalan Batuah Pandawan, Tanaman Kecubung Dimusnahkan Personel Polres HST |
![]() |
---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.