Kabar Kaltim

Warga Lok Tuan Bontang Utara Kalimantan Timur Resah Kematian Puluhan Ayam Mati Secara Mendadak

Warga Lok Tuan Bontang Utara Kalimantan Timur resah kematian puluhan ayam yang mati secara mendadak.

Editor: Edi Nugroho
viva.co.id
Ilustrasi Pasar unggas 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BONTANG -Warga Lok Tuan Bontang Utara resah kematian puluhan ayam yang mati secara mendadak.

Dari informasi yang dihimpun, kematian massal unggas tersebut dilaporkan pertama kali oleh warga Kelurahan Lok Tuan, Bontang Utara, Rabu lalu.

Ada 10 ekor ayam kampung yang tiba-tiba mati. Kabar tersebut cepat meluas karena muncul isu flu burung.

Puluhan ekor ayam kampung yang mati mendadak di wilayah Kelurahan Lok Tuan, Kota Bontang, sempat membuat panik masyarakat.

Baca juga: Polda Kalsel Lakukan Pengembangan Terkait Pengungkapan Produksi Ekstasi Rumahan di Manarap Tengah

Baca juga: Seni Banjar ke Korsel Kuntau Buktikan Bela Diri Tradisional Banua Bisa Mendunia, Tabas Pun Bangga

Namun, pemerintah menegaskan, penanganan sudah dilakukan dan sampai hari ini kasus serupa tidak ditemukan kembali.

Dikonfirmasi, Pejabat Fungsional Ahli Muda Medik Veteriner, Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Peternakan (DKP3) Riyono menjelaskan, laporan kematian unggas ini telah ditangani pihaknya dengan melakukan sterilisasi di lokasi, penyuluhan kepada masyarakat dan mengambil sampel swab dan darah terhadap unggas yang mati untuk dikirim ke laboratorium Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur.

Riyono mengungkapkan, tidak ditemukan lagi kasus serupa. Namun ia belum memastikan apa yang menjadi penyebab dari matinya puluhan ayam tersebut.

"Dugaan sementara, unggas yang mati diduga karena Newcastle Disease (ND) atau yang kerap disebut tetelo," kata Riyono saat dihubungi T, Jumat (26/7/2024).

Dilansir dari World Organization of Animal Health, ND biasanya menyerang unggas domestik, disebabkan oleh paramixovirus tipe 1.

ND menunjukkan gambaran klinis yang mirip dengan influenza, namun perlu dilakukan uji laboratorium untuk menegakkan diagnosis.

Menurut Riyono, ada 3 hal yang menyebabkan virus tersebut muncul.

Pertama keluar masuk unggas, transisi hewan ini tidak bisa dipungkiri juga berpengaruh.

Pasalnya, hewan yang datang dari luar daerah bisa saja membawa virus.

Kedua adalah faktor cuaca dan ketiga yakni kepedulian pemilik unggas.

"Kalau kandangnya kotor, atau cara pemeliharaan yang dilepas begitu saja juga berbahaya. Apalagi kebayakan pemilik ayam kampung ini hampir tidak pernah melakukan vaksin pada ayam miliknya," terangnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Kaltim
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved