Serambi Ummah
Pendosa Tak Sadar Lakukan Ibadah Besar
NABI Muhammad SAW pernah memaparkan dua hal kontadiktif ketika bercerita di hadapan sahabatnya tentang laki-laki yang bergelimang dosa sepanjang hidup
NABI Muhammad SAW pernah memaparkan dua hal kontadiktif ketika bercerita di hadapan sahabatnya tentang laki-laki yang bergelimang dosa sepanjang hidupnya.
Karena kelakuannya itu, lelaki tersebut berwasiat kepada keluarganya agar saat meninggal nanti jenazahnya dibakar. Tak hanya itu, dia juga berpesan kepada anak-anaknya agar usai hangus dilalap api, sebagian abu jasadnya dibuang ke daratan, sebagian lain di lautan.
Wasiat itu muncul dari ketakutan mendalam. Si lelaki sadar bahwa Allah SWT kelak menyiksanya, dan skenario pembakaran dan pembuangan abu tersebut adalah siasat menghindari siksaan itu.
Dosa-dosanya menggunung, sementara kebaikannya nihil. DIa berharap bisa lolos dari azab berat dengan menghilangkan jejak jasmani. Ketika kematian itu telah tiba, wasiat pun dijalankan dengan baik oleh putra-putranya.
Baca juga: Kalangan Muslim di Kabupaten Tanahlaut Sebut Dali Wassink Jadi Pelajaran Berharga
Baca juga: Muda Membara, Melangkah Bahagia
Allah Mahakuasa. Saat orang tersebut meninggal dunia, Allah memerintahkan daratan dan lautan untuk menghimpun abu itu dan menghidupkannya kembali.
Allah bertanya kepada si laki-laki, “Kenapa kau melakukan hal ini?” Karena khasyyah (takut), ya Rabb, dan Engkau lebih mengetahuinya.” Rasulullah mengabarkan bahwa lelaki itu akhirnya mendapat ampunan dari Allah. Lalu, di mana letak kontradiksinya?
Di satu sisi lelaki itu berlumuran dosa, namun di sisi lain menjelang kematian dia melakukan ibadah besar, yakni khasyyatu-Llah (takut kepada Allah). Kisah ini tertuang dalam sejumlah hadits antara lain Shahih Muslim (4/2.111) yang diriwayatkan Imam Muslim dari Abu Hurairah dan Abu Said al-Khudri (nomor 2.756, 2.757), juga diriwayatkan oleh Imam Bukhari di beberapa tempat dalam Shahih Bikhari.
Rahmat Allah selalu lebih besar dari dosa-dosa hamba. Karena itu harapan akan kasih sayang dan ampunan-Nya senantiasa terbuka selama seorang hamba tulus menaruh harap dan ketundukan.
Kata khasyyah dalam Al-Qur’an diidentikkan dengan sifat nabi dan ulama. Artinya, ketakutan tersebut bukan semata cemas akan bahaya sesuatu, tetapi dilandasi pula oleh ilmu dan pengagungan terhadap Allah. Wallahu a’lam. (nu.or.id)
| Hukum Biaya Tukar Uang, Ustadz Musthofal Fitri : Bedakan Nilai Tukar dan Upah Jasa |
|
|---|
| Zakat Tak Hanya Penggugur Kewajiban, Ketua Baznas Banjarbaru : Pembersih Harta dan Jiwa |
|
|---|
| Pengalaman Menarik Kepala KUA Tapin Utara, Nikahkan Pengantin di Rumah Sakit |
|
|---|
| Tradisi Bagarakan Sahur di Kalsel, Ustadz H Abdul Hafiz : Bagian Budaya Ramadan |
|
|---|
| Unik dan Menarik, Ustadz Hadi Purwanto Berdakwah Melalui Seni Kaligrafi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/3122018-ilustrasi-tewas.jpg)