Book Lover

Termotivasi Kitab Kuning

Ahmad Syaukani selalu tergugah semangatnya saat membaca tulisan Jalaluddin Rumi dalam buku Mastnawi dan Fihi Ma Fihi.

Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin post
Ahmad Syaukani, kolektor buku 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Semua buku pada dasarnya berkesan, tetapi pemuda ini selalu tergugah semangatnya saat membaca tulisan Jalaluddin Rumi dalam buku Mastnawi dan Fihi Ma Fihi.

Menurut pemuda kelahiran Alabio 23 Juli 2001 ini, syair-syair Matsnawi syarat pembelajaran tentang asal-usul dan hakikat manusia, perjalanannya, hingga berbagai potensi yang ada dalam diri manusia. 

Karena begitu besarnya perhatian Rumi terhadap jiwa dan ruh manusia dengan segala persoalannya, kitab Matsnawi sering kali disebut sebagai insan nameh atau buku tentang perilaku manusia. 

Adapun buku Fihi Ma Fihi adalah tujuh puluh satu ceramah yang disampaikan Rumi dalam berbagai kesempatan kepada murid-muridnya dan merupakan karya prosa Rumi yang paling terkenal. 

Dia memberikan petunjuk bagi pencarian bentuk eksistensi kita sebagai manusia. Buku ini disusun sebagai risalah bagi para penempuh jalan sufi, sehingga ceramah demi ceramahnya terasa sebagai sebuah kurikulum yang tersusun rapi.

"Buku utama saya adalah buku yang berisi syair, sajak dan puisi karena hal ini adalah spesialis saya, juga buku usul fiqh, tasawwuf, dan sejenisnya. Setelah membaca buku-buku tersebut otak saya merasa tercuci," kata Syaukani yang juga suka baca novel Tere Liye dan buku karya Bertrand Russell.

Dari banyak buku ia yang baca, mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an Rasyidiyah Khalidiyah, Amuntai, Hulu Sungai Utara ini merasakan manfaat pengontrolan emosi, ketenangan dalam mengambil keputusan hingga bisa memberikan sedikit wawasan motivasi kepada orang-orang sekitar.

"Buku ilmu pengetahuan dan etika sangat saya suka. Saat ini saya terus menambah koleksi buku agar nanti bisa disusun dalam perpustakaan pribadi," kata warga Alabio, Hulu Sungai Utara (HSU) ini.

Adapun awal suka membaca, menurut Syaukani saat ia mondok di pesantren, tatkala ada Musabaqah Qiraatil Qutub ia sering menghabiskan waktu ke sana kemari mencari ustadz agar dapat memberikan pelajaran khusus supaya bisa membaca kitab kuning.

"Saya lakukan secara disiplin dalam dua tahun berturut-turut hingga kebiasaan itu terbawa ke dalam perjalanan baru saya di dunia akademisi kampus. Jadi, selain pembelajaran dari dosen, saya juga cari buku agar ada literatur tambahan,” jelasnya.

Kebiasaan Syaukani membaca buku adalah pada malam hari. Namun jika ia temui buku yang sangat menarik maka ia baca setelah selesai beraktivitas.

Syaukani memiliki komunitas literasi maka maka ia sangat memerlukan buku. Dan ia sering menyisihkan uang di awal bulan untuk membeli buku setelah terkumpul selama 3-4  bulan barulah ia beli buku baru. "Sekali belanja buku pernah sampai 10 judul, bahkan lebih," tandasnya. (dea)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved