Berita kotabaru

Jalur Berkelok Sering Makan Korban, Ini Permintaan Warga

Insiden serupa, truk terbalik karena tidak kuat menanjak berlangsung pada 4 Oktober 2022 yang merenggut dua korban jiwa.

Tayang:
Penulis: Muhammad Tabri | Editor: Kamardi Fatih
Banjarmasinpost.co.id/Muhammad Tabri
Pengendara melintas di Tanjakan Baharu, Jalan Raya Berangas, kecamatan Pulau Laut Sigam, Kabupaten Kotabaru, Jumat (25/10/2024).  

BANJARMASINPOST.CO.ID, KOTABARU - Kecelakaan lalu lintas di Tanjakan Baharu, Jalan Raya Berangas Kilometer 1, Kabupaten Kotabaru, Kamis (17/10/2024) kembali memperpanjang catatan insiden di jalur curam dan berkelok tersebut. 

Sebelumnya, insiden serupa, truk terbalik karena tidak kuat menanjak berlangsung pada 4 Oktober 2022 yang merenggut dua korban jiwa. 

Kemudian, Minggu 5 Mei 2024 juga kembali terjadi dan terakhir, truk bermuatan sirtu juga terbalik usai rem blong saat berupa menuruni tanjakan curam di Desa Batuah, Kecamatan Pulau Laut Sigam itu. 

Beruntung pada insiden terakhir ini tidak ada korban jiwa, namun kerugian material dan rasa takut tetap menghantui masyarakat yang biasa melintas dan bermukim di sekitarnya. 

Tiga orang dilaporkan mengalami luka dan harus dilarikan ke rumah sakit Pangeran Jaya Sumitra untuk mendapatkan penanganan dari insiden truk yang menerobos lawan arah lalu terbalik ini. 

Beberapa kerusakan juga menimpa barang milik warga, seperti sepeda motor, becak, pagar rumah, hingga dinding warung yang berada di sisi jalan. 

Berangsur dievakuasi usai kejadian, pertanyaan masyarakat pun kembali mencuat terkait upaya pelebaran jalan yang disebut Tanjakan Maut ini. 

Sebutan jalur berkelok yang sering memakan korban pun hampir melekat di Jalan Raya Berangas Kilometer 1 tersebut. 

Dari sejumlah data yang dihimpun, upaya pelebaran telah berlangsung sejak 2017 silam dengan langkah awal pembebasan lahan. 

Upaya tersebut telah terealisasi pada Desember 2023, dan juga masih diwarnai sebuah insiden kecelakaan serupa. 

Setidaknya, miliaran rupiah digelontorkan untuk membebaskan sekitar 20 lebih pemilik lahan dan bangunan yang turut digantikan. 
Sempat ditargetkan pada 2024 ini, pengerjaan pelebaran yang dilakukan melalui pihak ketiga, berupa dana kompensasi (CSR) perusahaan PT STC masih belum terealisasi. 

Penuturan Suparni, warga sekitar, sepanjang puluhan tahun bermukim di kawasan tersebut dirinya sudah kenyang melihat dan mengetahui insiden truk terbaik, kendaraan yang bablas hingga warga tertindih. 

"Saya tinggal di sini sudah mulai tahun 70-an, tapi sampai saat ini belum ada pelebaran yang benar-benar leluasa untuk pengendara melintas berpapasan," ujarnya. 

Pada kejadian terakhir Kamis (17/10/2024) sore itu, lelaki paruh baya ini juga nyaris jadi korban. Karena moncong truk terbalik hanya berjarak sekira semeter dari posisinya duduk di muara pintu. 
Pahanya pun turut tergores, sepeda motor, pagar dan dinding warung juga rusak dihantam truk yang rem blok tersebut. 

"Semoga saja pelebaran bisa cepat dilakukan, kita sudah was-was beraktivitas di depan rumah ini," ujar penjual pasir karungan ini. 

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved