Tribun Smart
Linggar Ingin Berbagi dan Menyemangati
Pengalaman menjadi asisten gurunya memberikan les atau bimbingan belajar, membuat Linggar berani membuka sendiri bimbingan belajar.
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
Sebagai anak muda harus kreatif dan inovatif, karena hal itu akan memberi jalan dalam menempuh kerasnya kehidupan. Gadis satu merasakan hal itu sehingga ia mampu mengatasi hambatan kehidupan.
Linggar Resti Noviani Sari, kelahiran Banjarmasin 21 November 2004, tak lagi punya keluarga yang lengkap sepeninggal sang ayah menghadap Ilahi. Namun Linggar bisa hidup mandiri sambil terus menempuh pendidikan.
Pengalaman menjadi asisten gurunya memberikan les atau bimbingan belajar, membuatnya berani membuka sendiri bimbingan belajar yang sekarang lumayan banyak muridnya.
"Kadang orang heran, saya kuliah di bidang sosiologi di FISIP ULM, tetapi kenapa bisa menjadi guru bimbel, ya itu tadi karena saya punya pengalaman," kata warga Sungai Baru, Banjarmasin ini.
Dari usaha pribadi tersebut, Linggar mampu membiayai hidup. Bahkan semasa kelas satu SMA ia sudah punya satu murid les yang honornya lumayan ditambah bekerja di industri rumah tangga. "Adapun les yang saya berikan khusus untuk anak-anak sekolah dasar," kata mahasiswi semester empat ini.
Beasiswa juga ia dapatkan semasa kuliah ini sehingga ia tak perlu khawatir dalam menempuh pendidikan yang harapannya bisa terbiayai sampai lulus.
Anak kedua dari dua bersaudara ini menyatakan bahwa sebagai anak muda maka kita harus terus upgrade diri.
"Jangan mudah menyerah. Sesuatu yang sudah dimulai maka harus dituntaskan, jangan takut melangkah dan harus berani ambil risiko," katanya.
Selain menjadi guru bimbel, Linggar juga beraktivitas dalam sebuah organisasi yaitu Duta Kepemudaan dan ia yang menjadi ketua.
Motivasinya mengikuti pemilihan duta adalah karena ia sempat terpuruk akibat masalah asmara. Sebab itu ia tak ingin galau berlama-lama dan memilih menyibukan diri dengan kegiatan.
"Syukurlah dengan berkegiatan organisasi membuat saya menjadi semangat dan optimis," terangnya.
Sebagai ketua Duta Kepemudaan Kalsel, ia memimpin berbagai kegiatan, selain kegiatan online juga ada offline berupa advokasi dengan berbagi ke panti asuhan.
"Spesifiknya, Duta Kepemudaan itu arahnya pada remaja. Disadari bahwa banyak remaja yang punya masalah pribadi namun kurang dukungan dari keluarga dan teman," jelasnya.
Sebab itulah tugas Duta Kepemudaan menjadi wadah berbagi, mereka bisa konsultasi atas permasalahannya melalui live IG dan dibantu solusinya. "Kalau sudah curhat maka hati pun lega," kata Linggar.
Solusi diberikan antara lain memotivasi supaya tidak terpuruk dan menaikan personal branding dengan mengikuti kegiatan positif seperti pengalaman Linggar.
Linggar yang semasa sekolah aktif di Paskibra dan Pramuka, memiliki jiwa yang senang berkumpul di masyarakat.
Penghobi menulis, membaca, dengar musik dan memasak ini merasa cocok dengan bidang kuliah yang ia jalani sekarang.
Semester tiga ia dan rekan-rekan meneliti asal usul Kampung Bali di Batola. Mempelajari asal usulnya kenapa ada Kampung Bali di sana.
Terjun ke masyarakat ini menjadi tugasnya pula saat semester satu atau mahasiswa baru yang harus terjun ke lapangan untuk observasi.
"Kami melakukan kegiatan di kampung, juga kawasan Batola yang masyarakatnya memproduksi kerupuk singkong. Ini kegiatan lapangan pertama tanpa dosen pembimbing," ujarnya.
Sat itu ia melihat masyarakat di sana berdaya, yaitu produksi hasil bumi berupa singkong diolah menjadi komoditas ekonomis.
"Kami juga sambil mempelajari apa permasalahan di sana, dan kesimpulannya peran pemerintah masih kurang dalam membina UMKM di sana, seningga masyarakat hanya memasarkan produk pada langganan, padahal semestinya ini menjadi kegiatan unggulan UMKM yang penasarannya dibantu lebih luas lagi," tandasnya. (dea)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Linggar-Resti-Noviani-Sari.jpg)