Berita Banjarmasin
Pil Kecetit Menjadi Temuan, BBPOM Banjarmasin Peringatkan Waspada Obat Setelan
Saat ini obat setelan menjadi alternatif warga dalam mengobati penyakit mereka, seperti memilih pil kecetit, ini kata BBPOM Banjarmasin
BANJARMASINPOST.CO.ID - Oleh karena ingin cepat sembuh dengan mudah dan murah, sebagian warga membeli obat setelan. Ini juga dilakukan oleh Yanti Fauziah (23) warga Jalan S Parman Banjarmasin. Obat tersebut dibelinya di kawasan Pasar Lama untuk mengobati penyakit asam urat sang ayah.
Obat yang terdiri atas beberapa jenis itu didapat dengan harga Rp 8.000. “Obat sudah satu paket,” ujarnya, Sabtu (18/10).
Yanti membelinya karena obat dari apotek dirasa tidak cocok. “Sempat belikan obat lain, malah dimarahi ayah. Alasannya sih tidak cocok, makanya beli obat setelan,” akunya.
Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) mengeluarkan peringatan agar masyarakat berhati-hati terhadap maraknya peredaran obat setelan. Melalui unggahan di akun Instagram resminya @bpom_ri pada Senin (14/1), BPOM memaparkan sejumlah alasan mengapa obat setelan berbahaya.
Obat jenis ini kerap dijual bebas di warung bahkan e-commerce tanpa pengawasan ketat. Obat setelan adalah istilah yang merujuk pada campuran beberapa jenis obat. Baik dalam bentuk tablet maupun kapsul yang dikemas ulang dalam satu kemasan plastik kecil. Obat-obatan ini sering kali diklaim dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit tertentu.
Melansir unggahan akun resmi BPOM, terdapat dua jenis obat setelan yang banyak beredar.
Yakni obat setelan bermerek yang dikemas dalam plastik atau karton dengan merek tertentu. Umumnya, merek dalam kemasan obat setelan tidak terdaftar di BPOM.
Ada juga obat setelan tanpa merek yang dikemas dalam plastik klip kecil dan transparan. Obat jenis ini identitas tidak jelas.
Namun, baik obat setelan bermerek maupun tanpa merek, keduanya memiliki satu kesamaan, yakni tidak dikemas dalam kemasan asli dari produsen farmasi. Hal ini membuat mutu,
keamanan, dan khasiat obat menjadi tidak terjamin.
Dari pantauan di e-commerce, obat setelah dijual murah. Mulai dari belasan ribu hingga puluhan ribu rupiah. Bahkan ada e-commerce yang menggratiskan ongkos kirim.
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) Banjarmasin pun mengimbau masyarakat untuk berhati-hati terhadap peredaran obat setelan yang marak di pasaran.
Katim Pengawasan Sarana Distribusi, Leny, menyatakan obat setelan tergolong kategori obat tanpa izin edar (TIE). “Produk ini tidak terdaftar di BPOM. Sejauh ini kami pernah menemukan beberapa jenis obat setelan, seperti Obsagi dan Pil Kecetit, yang tersebar di berbagai tempat. Ini umumnya ditemukan di sarana yang belum pernah diperiksa,” jelas Leny, Sabtu.
Leny menegaskan konsumsi obat setelan sangat berbahaya karena tidak terjamin keamanannya. Obat-obatan ini sering tidak memiliki informasi penting seperti tanggal kedaluwarsa, jenis kandungan, dosis dan cara penggunaan.
“Biasanya obat setelan ini mengandung obat keras yang seharusnya digunakan berdasarkan resep dokter. Jika digunakan sembarangan, risiko kerusakan hati, ginjal, dan efek samping yang tidak diinginkan sangat tinggi,” tambahnya.
Selain itu, campuran obat yang tidak terkontrol dapat mengandung bahan berbahaya yang justru memperburuk kondisi kesehatan konsumen.
BBPOM Banjarmasin terus melakukan pengawasan melalui pemeriksaan ke sarana distribusi obat, termasuk toko dan pasar. Jika ditemukan obat setelan, petugas memberikan edukasi kepada pemilik usaha dan meminta pemusnahan barang di bawah pengawasan BPOM.
| Terdakwa Perkara Pembunuhan, Reza Tikus Peragakan Gerakan Saat Berhasil Membalik Serangan |
|
|---|
| FGD UCJ Kalsel Dorong Perluasan Perlindungan Pekerja, Kisah Arif Jadi Bukti Nyata |
|
|---|
| Permintaan Hewan Kurban di Banjarmasin Mulai Ramai, Setiap Minggu Datangkan 500 Ekor Kambing |
|
|---|
| Serapan Anggaran 14,3 Persen di Triwulan I, Wali Kota Banjarmasin Minta SKPD Percepat Realisasi |
|
|---|
| Temuan Inspektorat di RSUD Sultan Suriansyah, Dana Rp257 Juta Sudah Dikembalikan ke Kas Daerah |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/razia-obat-di-pasar-baru_20160316_164509.jpg)