Berita Ekonomi Bisnis

Selesaikan Akad Rumah Sudah Terbangun, Ini Progres Perumahan di Kalsel 2025

Ketua DPD REI Kalsel, H Ahyat Sarbini menyatakan, mendukung program 3 juta rumah yakni 1 juta di perkotaan dan 2 juta di pesisir dan perdesaan

Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
Banjarmasin Post
Gelaran Expo Perumahan yang diselenggarakan DPD REI Kalsel di Duta Mall beberapa waktu lalu. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Presiden Prabowo Subianto memprogramkan pembangunan 3 juta  rumah untuk masyarakat selama masa pemerintahannya, hal ini agar kebutuhan rumah dapat terpenuhi.

Lantas bagaimana progres di awal 2025 ini. Apa saja yang sudah dilakukan para pengusaha pengembang perumahan khususnya membangun rumah bersubsidi?

Ketua DPD REI Kalsel, H Ahyat Sarbini menyatakan, pihaknya mendukung program 3 juta rumah yakni 1 juta di perkotaan dan 2 juta di pesisir dan perdesaan.

Adapun sementara ini hingga pertengahan Januari 2025, mereka masih konsolidasi dan pelaksanaan akad untuk menghabiskan kuota FLPP.

"Jadi, untuk melihat perkembangan pembangunan perumahan masih belum bisa. Februari dan Maret hal itu bisa kita lihat," ujarnya.

Jadi, saat ini menyelesaikan akad rumah yang sudah terbangun (stok ready) dan sudah SP3K (Surat Penegasan Persetujuan Penyediaan Kredit). Mengingat, pada 2024 hampir 6 bulan menunggu penambahan kuota.

"Mengenai backlog rumah atau selisih antara kebutuhan rumah dan ketersediaan di Kalsel adalah 200 ribu unit," jelas Ahyat.

Mengenai pencapaian, dari gabungan beberapa asosiasi pengembang di Kalsel minta kuota 10 ribu per tahun. Jadi, setidaknya perlu waktu 20 tahun mengatasi backlog tersebut.

"Kami usahakan terus membangun kalau kuota rumah subsidi yang disediakan pemerintah memang banyak," tegasnya.

Apalagi dikatakan Ahyat, anggota REI sebanyak 200 perusahaan yang aktif dan 90 persen menggarap rumah subsidi. Mengenai wilayah pembangunan terutama andi Kabupaten Banjar dan Banjarbaru sisanya Banjarmasin, Tanahlaut, Batola, Banua Anam, Tanahbumbu dan Kotabaru.

"Pembangunan perumahan itu juga melihat data statistik, antara lain pertumbuhan penduduk di suatu wilayah. Dan harga rumah subsidi tetap di angka Rp 182 juta," kata Ahyat. 

Mengenai rumah komersil, dikatakan Ahyat, tetap bisa bertumbuh hanya 10 persen pengembang yang membangun. Penjualannya memang berbeda, harus kerja keras apalagi ini menyangkut perekonomian masyarakat yang masih banyak dipengaruhi sektor tambang dan perkebunan.

Sekretaris DPD Apersi Kalsel, HM Fikri menyatakan, pasaran perumahan di awal 2025 sepi penjualan. Bahkan, ada yang membatalkan membeli rumah dikarenakan adanya program 2 juta rumah gratis dari pemerintah yang sebenarnya program ini sampai sekarang masyarakat pun belum tahu lagi seperti apa mendapatkannya.

"Tapi kami dari Apersi sangat mendukung rumah gratis tersebut, mengingat peruntukannya di perdesaan dan pesisir. Tentu, hal itu bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut. Jadi kami selalu mendukung program-program pemerintah lainnya untuk tercapainya asta cita dari presiden," katanya.

Mengenai persentase penjualan, Apersi di awal tahun ini masih menghabiskan stok batal akad di 2024 karena habisnya kuota, kebiasaan dari 2024, sebelum adanya program 2 juta rumah gratis presiden di pedesaan dan pesisir, permintaan di awal tahun itu naik sekitar 5 persen dari biasanya untuk rumah FLPP.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved