Berita HSS

Lahan Padi Apung di Daha Barat Dipanen, Tingginya Debit Air Tidak Menjadi Halangan

Inovasi metode tanam padi apung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) menunjukkan hasil yang menggembirakan, membuka peluang baru bagi petani

Penulis: Adiyat Ikhsan | Editor: Edi Nugroho
Dinas Pertanian HSS untuk BPost.
PANEN RAYA-Panen raya di Desa Siang Gantung, Kecamatan Daha Barat, HSS oleh kelompok tani Bina Bersama yang menggunakan metode padi apung. Lahan Padi Apung di Daha Barat Dipanen, Tingginya Debit Air Tidak Menjadi Halangan 

BANJARMASINPOST.CO.ID, KANDANGAN - Inovasi metode tanam padi apung di Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) menunjukkan hasil yang menggembirakan, membuka peluang baru bagi petani di wilayah rawan banjir. 

Kelompok tani Bina Bersama di Desa Siang Gantung, Kecamatan Daha Barat, menjadi salah satu lokasi di Daha yang berhasil memanfaatkan teknologi ini, baru-baru ini merayakan panen padi dari sekitar 400 unit styrofoam. Setiap unit styrofoam yang dimanfaatkan mampu menampung 21 tempat tanam (pot) padi. 

Kepala Bidang Penyediaan Sarana dan Produksi Pertanian Dinas Pertanian HSS, Rani, mengungkapkan bahwa hasil panen per satu styrofoam mencapai sekitar 2,45 kilogram gabah, Senin (21/4/2025). 

“Metode ini, tentunya membantu para petani yang berada di wilayah dengan debit air tinggi. Pemanfaatan metode padi apung menjadi solusinya kini,” katanya.

Baca juga: Dalam Satu Pekan, Polres Banjar Tangkap Pengedar Narkoba Hingga Pencuri

Baca juga: Jumlah Penumpang H+11 Lebaran di Pelabuhan Trisakti Banjarmasin Capai 2.700 Orang

Rani menjelaskan, saat kondisi normal pertanian di wilayah Daha memungkinkan penanaman padi pada musim kemarau, antara bulan Juni hingga Agustus, dengan panen rutin terjadi antara Oktober dan November. Namun, tantangan besar muncul di luar periode tersebut, dimana lahan pertanian kerap terendam air.

"Biasanya, dari Desember hingga Mei, debit air sangat tinggi, bahkan di lahan pertanian Desa Siang Gantung ketinggian air bisa mencapai dada orang dewasa. Kondisi ini jelas tidak memungkinkan petani untuk bercocok tanam," ungkap Rani.

Sebelum inovasi padi apung, masyarakat setempat hanya mengandalkan mencari ikan sebagai mata pencaharian alternatif saat lahan pertanian terendam. 

Hadirnya metode tanam padi yang memanfaatkan media apung ini membawa angin segar. Petani kini dapat memulai penanaman pada bulan Desember atau Januari, menyesuaikan dengan kenaikan debit air. 

Panen dapat dilakukan lebih awal, seperti yang terjadi pada bulan April ini, disusul perkiraan Mei nanti.

"Tanaman yang ditanam pada bulan Januari lalu akan panen lagi dalam waktu dekat, diperkirakan bulan Mei ini, karena padi sudah mulai berbuah," lanjut Rani dengan antusias.

Metode padi apung ini telah berjalan sekitar dua tahun di HSS, dan dampaknya sangat signifikan. Petani di wilayah Daha kini memiliki potensi untuk melakukan panen padi dua kali dalam setahun, sebuah terobosan yang meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani di tengah tantangan kondisi geografis yang unik. 

Inovasi ini tidak hanya mengatasi kendala banjir, tetapi juga membuka lembaran baru bagi ketahanan pangan di wilayah HSS. 
(Banjarmasinpost.co.id/Adiyat Ikhsan)

 

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved