Berita Viral

Kisah Mantan TKI di Korsel Kini Berpenghasilan Rp 150 Juta per Bulan, Kumpulkan Modal untuk Usaha

Kisah inspiratif datang dari seorang mantan TKI di Korea Selatan, yang kini hidup sukses viral di media sosial.

Editor: Mariana
Tribun Jabar
MANTAN TKI SUKSES - Didi Kusnadi, pria asal Desa Kebonturi, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon merupakan seorang pengusaha sukses yang bergerak di bidang konveksi busana muslim, di mana ia purna migran dari Korea Selatan. 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Kisah inspiratif datang dari seorang mantan TKI di Korea Selatan, yang kini hidup sukses viral di media sosial.

Tidak semua orang bisa memaknai perjalanan hidupnya sebagai kesempatan kedua.

Namun bagi seorang purna migran asal Desa Kebonturi, Kecamatan Arjawinangun, Kabupaten Cirebon ini, kisah perjuangannya justru dimulai ketika pulang kampung dari Korea Selatan.

Mantan TKI bernama Didi Kusnadi ini menceritakan perjuangannya setelah pulang dari Korea Selatan.

Sudah sukses mengumpulkan modal untuk usaha, Didi yang awalnya mengikuti temannya berakhir sukses.

Baca juga: Hasil Badminton Final Thailand Open 2025: 2 Wakil Malaysia Podium Tertinggi, Herry IP Full Senyum

Baca juga: Kunci Jawaban IPA Kelas 7 SMP/MTs Halaman 174 Kurikulum Merdeka, Identifikasi Ekosistem Taman

Namanya mulai dikenal di lingkungan sekitar sebagai pelaku usaha konveksi yang cukup sukses.

Ia adalah Didi Kusnadi, pendiri Mawar Fashion, sebuah konveksi yang kini fokus memproduksi busana muslim anak dan remaja.

“Saya ini sebenarnya sudah melewati tiga fase. Dari calon pekerja migran (CPMI), lalu menjadi PMI di Korea Selatan dan sekarang jadi PPMI (Purna Pekerja Migran Indonesia),” ujarnya saat ditemui di rumah sekaligus lokasi usahanya, Sabtu (17/5/2025), seperti dikutip TribunJatim.com dari TribunJabar.ID, Minggu (18/5/2025).

Perjalanan panjang itu dimulai pada 2008, ketika ia memutuskan bekerja ke Korea Selatan.

Menurutnya, saat itu, bekerja ke luar negeri adalah satu-satunya jalan untuk meningkatkan taraf hidup bagi sebagian warga di wilayah barat Cirebon.

“Gajinya di sana lumayan besar, jadi ketika pulang bisa untuk modal usaha,” ucapnya.

Namun, ia tidak langsung membuka usaha konveksi saat tiba di Tanah Air.

Berbekal lokasi rumah yang dekat dengan Pasar Tegal Gubug, sebuah pasar sandang legendaris yang dikenal hingga tingkat ASEAN, ia mulai melihat peluang.

“Awalnya ikut-ikut teman dulu, belum berpikir serius."

"Tapi setelah itu saya mulai benahi usaha, dari legalitas sampai sistem produksi,” jelas dia.

Tantangan datang ketika dunia digital mulai merambah berbagai lini usaha.

Ia pun tak tinggal diam.

Ia belajar memanfaatkan media sosial dan platform marketplace untuk memperluas jangkauan pasar.

“Sekarang 95 persen penjualan kami online, dari WhatsApp, Instagram sampai marketplace,” katanya.

Kini, Mawar Fashion memproduksi antara 2.000 hingga 4.000 potong pakaian per bulan.

Dengan karyawan tetap sebanyak 8 orang dan 15 mitra kerja sebagai penjahit, omzet usaha ini bisa mencapai Rp 50–60 juta per bulan, bahkan pernah menembus Rp 150 juta.

Lebih dari sekadar bisnis, ia menyebut usahanya juga sebagai bagian dari syiar. 

Fokus pada busana muslim bukan tanpa alasan.

“Kalau pakai baju muslim, kan ada identitasnya."

"Orang pakai koko atau gamis jadi malu kalau mau ke diskotik. Ini soal membangun citra,” ujarnya, sambil tertawa.

Tak hanya dirinya, sang istri pun adalah purna migran dari Taiwan dan sang ayah pernah menjadi pekerja migran di Malaysia.

Tak heran, keluarganya dikenal sebagai keluarga migran di kampung.

Kini, dari rumah sederhananya di pinggiran Cirebon, ia membuktikan bahwa kisah sukses tak harus dimulai dari kota besar.

Cukup dari niat, kerja keras, dan keberanian untuk pulang dan membangun dari nol.

“Saya ingin teman-teman purna migran juga semangat, jangan takut memulai usaha dari kecil. Karena rezeki itu, insya Allah, selalu ada kalau kita berani mencoba,” ucap Didi. 

Suksesnya Didi membangun konveksi hingga memiliki pendapat mencapai puluhan juta, membuat Menteri Perlindungan Pekerja Migran Indonesia, Abdul Kadir Karding pun mendatanginya, pada Sabtu (17/5/2025).

Kunjungan ini merupakan bagian dari agenda pribadi Karding untuk menyerap aspirasi sekaligus melihat langsung dampak positif pemberdayaan purna migran di daerah.

“Di hari libur ini saya berkunjung ke Cirebon, salah satu objek kunjungan adalah tempat usaha konveksi dari purna migran Indonesia."

"Namanya adalah Mawar Fashion yang dimiliki oleh Didi Kusnadi,” ujar Menteri Karding kepada awak media.

Menurutnya, Mawar Fashion menjadi contoh nyata bagaimana mantan pekerja migran mampu membangun usaha yang berkelanjutan dan berdampak bagi lingkungan sekitarnya.

“Didi ini dulunya purna dari Korea Selatan, istri beliau purna dari Taiwan dan ayah beliau purna dari Malaysia. Jadi ini keluarga migran."

"Di sini saya melihat lebih dekat bahwa ternyata potensi purna ini luar biasa, karena bisa membangun usaha yang cukup membanggakan dan membantu perekonomian keluarga dan masyarakat,” ucapnya.

Karding menyebut, Mawar Fashion saat ini memiliki omzet ratusan juta rupiah per bulan dan dijalankan dengan manajemen modern.

Ia pun mengapresiasi kehadiran Asosiasi Purna Pekerja Migran Indonesia (APPIK) yang aktif dalam mendukung pemberdayaan eks TKI.

“Ke depan saya minta tolong sama mereka untuk membuat badan usaha atau koperaTKI"

"Untuk membantu seluruh purna-purna yang pulang atau yang ada sekarang ini agar dilibatkan dalam pemberdayaan,” jelas dia.

Pantauan di lokasi, rombongan menteri tiba sekitar pukul 14.00 WIB.

Menteri Karding disambut langsung oleh keluarga pemilik usaha dan langsung meninjau area produksi serta melihat proses penjualan secara daring.

Bahkan, Karding turut serta dalam sesi live TikTok yang dilakukan oleh karyawan konveksi tersebut.

“Saya juga minta mereka terlibat dalam vokasi pelatihan, baik skill maupun bahasa."

"Karena kebutuhan utama salah satunya selain keterampilan adalah bahasa. Mereka ini sudah fasih bahasa Korea, jadi bisa langsung terlibat,” katanya.

Artikel ini telah tayang di TribunJatim.com

Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved