Mom and Kids

Paskibra Bikin Fairuuz Lebih Disiplin

Mengikuti ekstrakurikuler Paskibra atau pasukan pengibar bendera memberikan banyak manfaat bagi Fairuuz Nur Afiaty.

Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin Post
Fairuuz Nur Afiaty bersama sang ibu 

Mengikuti ekstrakurikuler Paskibra atau pasukan pengibar bendera memberikan banyak manfaat bagi Fairuuz Nur Afiaty.

Ya, anak pertama dari dua bersaudara ini tak hanya punya keterampilan baris berbaris tapi juga terbentuk karakter positif.

Putra dari Indra Firmansyah dan Dwi Hartati, warga Kayutangi, Banjarmasin ini, menjadi lebih disiplin.

"Dia disiplin dalam berbagai hal termasuk salat, karena memang juga sejak kecil sudah diajarkan salat," jelas sang ibu, Dwi.

Disiplin waktu juga menjadi perhatian Fai, demikian panggilan akrabnya. Kapan harus belajar, kapan bermain, kapan harus ibadah dan kapan harus istirahat.

"Dia juga punya tanggung jawab besar. Misal diberi amanah dia akan menjalankan dengan baik," kata Dwi.

Pastinya pula Paskibra menanamkan nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air. Kebanggaan mengibarkan bendera semakin memupuk jiwa nasionalisme.

Karena baris-berbaris memerlukan kerjasama tim dan kekompakan, jiwa kebersamaannya juga tertanam dan tertib aturan.

Terhadap adik lelakinya yang berjarak delapan tahun dan baru kelas satu SD, Fai juga penyayang dan mengasihi.

Fai yang kelahiran Banjarmasin, 21 Februari 2011, mengenal Paskibra sejak sekolah dasar kelas enam, sempat pula mengikuti kompetisi dan meraih juara harapan.

Saat SMP kelas 7 ia juga melanjutkan ekskul Paskibra dan hasilnya memang tak hanya prestasi tapi juga memberi pengaruh dalam sikap kesehariannya.

Fai yang sekarang kelas 2 di SMPN 2 Banjarmasin, dalam hal prestasi Paskibra meraih juara 1, 2, 3 bahkan pernah juara umum.

Prestasi lainnya, saat sekolah dasar juga pernah mengikuti Lomba Cerdas Cermat Pentas PAI tingkat Kecamatan Banjarmasin Tengah dan meraih juara 1.

Di sela aktivitas belajar dan berkegiatan ekstrakurikuler, Fai juga mendapat kesempatan bermain dengan teman-temannya.

"Dengan teman suka jalan-jalan, apakah nonton atau sekedar refreshing ke mal, tapi tetap dalam pengawasan dan kami mengenal teman-temannya," jelas Dwi.
Selain dalam pergaulan, Dwi dan suami juga mengawasi dan mengontrol Fai dalam penggunaan gadget. Sebab di era media sosial perlu pembatasan agar tidak kebablasan.

Bagusnya, Fai anak yang terbuka dengan ayah dan ibu, ia selalu cerita apa saja yang ia lalui di hari itu baik saat di sekolah maupun di pergaulan.

"Alhamdulillah, keterbukaan adalah modal dalam pembinaan terhadap anak. Kita bisa berikan nasihat agar ia tidak salah dalam bergaul," tandas Dwi. (Salmah saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved