Tribun Smart

Nabila Menemukan Benang Merah Hasil Penelitian

Mahasiswi Psikologi ULM ini memiliki ketertarikan kuat pada bidang psikologi pendidikan, kesehatan mental, serta penelitian dan penulisan ilmiah.

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin Post
Nabila Regita Putri 

Mahasiswi Psikologi Universitas Lambung Mangkurat (ULM) ini memiliki ketertarikan kuat pada bidang psikologi pendidikan, kesehatan mental, serta penelitian dan penulisan ilmiah. 

Nabila Regita Putri, demikian namanya, aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan organisasi. Ia memiliki semangat belajar tinggi, keterampilan komunikasi yang baik, serta manajemen waktu dan diri yang terorganisir. 

Dengan pengalaman dalam publikasi, konferensi, dan kompetisi ilmiah tingkat nasional hingga internasional, ia berkomitmen untuk terus berkembang dan berkontribusi nyata dalam dunia psikologi.

"Saya tertarik dengan jurusan psikologi sejak  duduk di bangku SMP. Ketertarikan itu berawal dari pertanyaan sederhana, mengapa individu bisa melukai dirinya sendiri, sehingga membawa saya tertarik mendalami psikologi lebih jauh dan memahami dinamika psikologis individu, termasuk anak dan remaja," alasannya.

Selain itu, peraih Juara 1 Mahasiswa Berprestasi tingkat Universitas tahun 2025 ini memiliki ketertarikan di bidang pendidikan dan kesehatan mental karena keduanya memiliki keterkaitan dalam membentuk pribadi individu di masa depan.

Adapun pengalaman pertama yang membawa Nabila memiliki ketertarikan pada penelitian dan penulisan adalah ketika menjalani semester tiga, ia mengikuti perlombaan esai berbasis data dan dibimbing oleh dosen. 

"Perjalanan penulisan yang memakan waktu berbulan-bulan memberikan makna mendalam dan ketertarikan pada diri saya. Saya menyenangi bagaimana upaya yang harus dilakukan untuk menguraikan ide dengan sistematis dan berbasis data," katanya.

Pengalaman paling mengesankan baginya adalah ketika mengikuti perlombaan Pekan Kreativitas Mahasiswa (PKM) tahun 2024 di bidang Riset Sosial Humaniora. 

Tim Nabila berhasil mendapatkan pendanaan dalam Kompetisi penelitian ini dan melaksanakan penelitian selama kurang lebih empat bulan. 

Adapun judul penelitiannya; Mau jadi Alim, malah jadi gila (Hyper-religiosity): Menelaah kaitan gangguan mental akibat mengkaji Agama terlalu tinggi di budaya Banjar.

Selama prosesnya, ia mempelajari berbagai hal mengenai kepemimpinan, penelitian, pengambilan data, hingga pentingnya menjaga dinamika kelompok. 

Lomba tersebut juga membawa Nabila untuk berpartisipasi dalam konferensi internasional hingga publikasi artikel di tingkat internasional.

Sebagai Idea Champion 2024 ia juga menulis Foreshield: Advancing SDG 13 For Climate Action Through IoT-Based Wildfire Management Solutions atau mengkaji mengenai permasalahan kebakaran hutan di Kalimantan dengan menyoroti kesejahteraan pemadam kebakaran dan inovasi teknologi pemadaman api.

"Tantangan terbesar dalam penulisan publikasi ilmiah adalah menemukan benang merah dari hasil penelitian dan mendapatkan justifikasi ilmiah atas temuan yang ada," katanya.

Selain itu, menjaga motivasi menulis juga menjadi tantangan terbesar selama prosesnya. Kedua hal ini bisa ia hadapi dengan membaca dan menelusuri berbagai literatur dengan mendalam serta membagi waktu antara belajar dan istirahat agar motivasi terus terjaga dan tidak merasa jenuh.

Bagi Nabila, psikologi berperan besar pada bidang pendidikan melalui penyusunan kurikulum serta metode belajar yang sesuai dengan karakteristik individu. Baik berupa gaya belajar maupun upaya untuk menjaga hingga meningkatkan motivasi anak dalam belajar. 

Selain itu, psikologi juga berperan besar dalam asesmen anak guna mengetahui apakah anak membutuhkan bantuan lebih lanjut dalam belajar sehingga anak mampu berkembang secara optimal sesuai milestone perkembangannya.

"Hal yang cukup sulit untuk dilakukan namun penting adalah mendengar. Selama ini, pendekatan terhadap kesehatan mental anak muda sering kali terlalu berfokus pada memberi nasihat atau solusi cepat, padahal bisa jadi, yang mereka butuhkan adalah ruang aman untuk mengekspresikan diri," kata Nabila.

Ditekankan pula, peningkatan akses terhadap layanan psikologis yang ramah remaja dan dukungan dari lingkungan terdekat juga harus diperkuat agar anak muda tidak merasa sendirian.

"Visi saya di masa depan adalah mampu berkecimpung dan membantu secara langsung terhadap orang tua anak berkebutuhan khusus untuk memberdayakan orang tua dalam mencapai kualitas hidup dan kesejahteraan psikologis dan anak juga mendapatkan fasilitas yang mumpuni untuk mendukung perkembangannya," kata Nabila.

Nabila percaya bahwa akses yang lebih luas dan inklusif terhadap layanan psikologi adalah kunci perubahan nyata di bidang ini serta peningkatan pengetahuan masyarakat mengenai gangguan mental guna mengurangi stigma yang berkembang di masyarakat. 

Nabila juga percaya bahwa seluruh masyarakat memiliki hak yang sama untuk mencapai kesejahteraan psikologis dan mengakses layanan kesehatan mental dengan mudah.

Nabila sangat suka belajar. Baginya, belajar bisa dari mana saja dan dari siapa saja. Hal itu membuatnya terus bersemangat meskipun kesibukan datang silih berganti. 

"Saya juga suka mengajar, bagi saya, ketika saya memahami sesuatu, baik dari penulisan dan hal lain, maka saya bisa mengajar dan membantu rekan saya yang lain dalam menghadapi kesulitan yang ada. Melalui mengajar, tentu saya akan belajar kembali dan menerapkan pengetahuan yang saya miliki," katanya.

Nabila yang juga aktif berorganisasi, antara lain Forum Studi Ilmiah Mahasiswa dan Himpunan Mahasiswa Psikologi, memandang bahwa organisasi berperan dalam pengembangan pribadi dan profesionalitas diri.

"Organisasi membawa saya kepada berbagai pengalaman berharga dalam menjalin komunikasi antar anggota organisasi maupun kepada pihak luar. Melalui organisasi ini, ia belajar banyak hal untuk mengatur waktu antara akademik dan non-akademik serta memperluas relasi untuk bisa belajar dari orang lain secara lebih luas," katanya.

Dalam hal membagi waktu antara kuliah, organisasi, dan kegiatan ilmiah, Nabila merumuskan dalam skala prioritas. Ketika  mendapatkan tugas di perkuliahan, ia berusaha untuk mencicil dari jauh-jauh hari. 

Dalam mengikuti perlombaan, ia berusaha untuk membuat jadwal terlebih dahulu untuk mengetahui kemampuan diri dan waktu yang ia miliki sehingga jadwal yang ada tidak akan bertabrakan. (Salmah saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved