Keluarga SIGAP Buktikan Perubahan Perilaku Terintegrasi Bisa Dicapai Lewat Layanan Kesehatan Primer

Program ini berfokus pada penguatan praktik kesehatan keluarga melalui 3perilaku kunci: imunisasi, cuci tangan pakai sabun, serta pemenuhan gizi.

Tayang:
Editor: Content Writer
Istimewa
PROGRAM KELUARGA SIGAP - Diseminasi Nasional Program Keluarga SIGAP digelar di Artotel Mangkuluhur, Jakarta, Rabu (15/1/2026). Forum ini menandai perluasan Program Keluarga SIGAP ke Brebes (Jawa Tengah), Sukabumi (Jawa Barat), dan Banjar (Kalimantan Selatan), sebagai hasil kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, Gavi, the Vaccine Alliance; Unilever Lifebuoy; dan The Power of Nutrition. 

Ringkasan Berita:
  • Cakupan dosis akhir imunisasi meningkat signifikan di wilayah scale-up, termasuk perlindungan pneumonia yang naik dari sekitar 32 persen menjadi hampir 58 % .
  • Praktik pemberian makan anak membaik, dengan peningkatan pada inisiasi menyusu dini dan keragaman pangan, serta 96 % orang tua menyatakan alat bantu gizi SIGAP membantu mengarahkan pola makan harian anak.
  • Praktik cuci tangan pakai sabun semakin menguat di berbagai momen penting, dengan kepatuhan meningkat 6,4?n keterlibatan ayah naik 13 %

BANJARMASINPOST.CO.ID - Setelah keberhasilan pilot program, Program Keluarga SIGAP diperluas ke Brebes, Jawa Tengah; Sukabumi, Jawa Barat; dan Banjar, Kalimantan Selatan.

Program ini merupakan inisiatif kolaboratif yang mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat praktik kesehatan keluarga guna melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah, dengan fokus pada tiga perilaku utama yang saling terkait, yaitu imunisasi, cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan gizi sesuai usia untuk anak di bawah dua tahun (Baduta).

Fase scale-up ini dibangun melalui kemitraan lintas sektor antara Gavi, the Vaccine Alliance; Unilever Lifebuoy; dan The Power of Nutrition, yang bekerja bersama pemerintah serta sistem kesehatan di tingkat pusat dan daerah.

Alih-alih membangun struktur baru, Keluarga SIGAP memperkuat platform yang sudah digunakan keluarga, seperti layanan Posyandu, kunjungan rumah, satuan pendidikan anak usia dini, serta kanal digital. Pendekatan ini membantu mendekatkan pesan kesehatan ke rumah tangga dan membuatnya lebih mudah dipahami, dipercaya, dan diterapkan.

Dalam acara diseminasi pembelajaran program SIGAP, Direktur Promosi Kesehatan dan Kesehatan Komunitas, dr. Niken Wastu Palupi, menegaskan keselarasan Keluarga SIGAP dengan prioritas nasional.

“Di Kementerian Kesehatan, prioritas kita yaitu ke Pilar Pertama: Layanan Primer, melakukan upaya promotif dan preventif. Melalui Keluarga SIGAP, masyarakat tidak sekadar tahu soal kesehatan, tapi benar-benar mengubah perilaku mereka sehari-hari. Jika kita berhasil memperkuat layanan primer melalui Keluarga SIGAP, kita sedang menyiapkan pondasi bagi Indonesia Emas 2045,” ujarnya.

Seiring dengan perluasan program, Keluarga SIGAP menghadirkan pembelajaran penting tentang bagaimana perubahan perilaku terintegrasi dapat dijalankan melalui sistem layanan kesehatan primer, dengan menyoroti area kemajuan yang paling kuat, faktor pendukung keberhasilan, serta respons keluarga ketika dukungan diberikan secara konsisten pada berbagai perilaku kunci.

Imunisasi: Mengurangi Dosis Terlewat, Melindungi Lebih Banyak Anak 

Program Keluarga SIGAP mendukung upaya pemerintah dalam memperkuat imunisasi rutin di Indonesia, dengan dampak nyata pada peningkatan cakupan di tiga kabupaten scale-up. Rata-rata cakupan imunisasi dasar anak meningkat sekitar 15 % , dengan Banjar mencatat lonjakan paling signifikan dari 37 % menjadi 59 % .

Ini berarti hampir 6 dari 10 anak di Banjar kini terlindungi, dibandingkan kurang dari 4 dari 10 sebelumnya. Meningkatnya kepercayaan terhadap vaksin juga mendorong lebih banyak orang tua menyelesaikan jadwal imunisasi lengkap, tercermin dari hampir dua kali lipatnya cakupan dosis akhir pneumonia di Brebes dan booster polio di Banjar yang mencapai sekitar 80 % .

Peningkatan kepercayaan ini berkaitan erat dengan cara pesan imunisasi disampaikan bersamaan dengan praktik pengasuhan sehari-hari lainnya.

Augustin Flory, Managing Director of Innovative Partnerships di Gavi, the Vaccine Alliance, menyampaikan, "Keluarga SIGAP menunjukkan bagaimana agenda imunisasi nasional Indonesia dapat diperkuat melalui koordinasi lintas sektor. Dengan mengintegrasikan imunisasi ke dalam praktik pengasuhan sehari-hari seperti gizi dan kebersihan, program ini membantu membangun kepercayaan terhadap vaksin dan mendorong lebih banyak keluarga menyelesaikan imunisasi rutin, sehingga anak terlindungi dari penyakit yang dapat dicegah seperti polio dan pneumonia.”

Pendekatan terintegrasi ini tidak hanya meningkatkan cakupan, tetapi juga memperkuat kepercayaan orang tua. Pengasuh menunjukkan pemahaman yang lebih baik tentang efek samping ringan vaksin, melaporkan kunjungan ke fasilitas kesehatan yang lebih sedikit untuk reaksi ringan, serta lebih konsisten menyelesaikan jadwal imunisasi anak.

Permintaan terhadap dukungan praktis juga tinggi, dengan lebih dari 80 % orang tua pengguna WhatsApp Bot SIGAP memilih untuk menerima pengingat imunisasi yang dipersonalisasi.

CTPS: Menciptakan Lingkungan yang Mendukung Praktik Sehari-hari

Pembelajaran di bidang CTPS menunjukkan bahwa perubahan perilaku semakin cepat ketika keluarga memiliki motivasi sekaligus sarana yang memadai. Hampir 7 % lebih banyak rumah tangga SIGAP kini memiliki fasilitas cuci tangan dengan sabun, menciptakan kondisi praktis yang memudahkan penerapan kebiasaan cuci tangan dalam rutinitas harian.

Lingkungan yang mendukung ini berkontribusi pada perubahan perilaku di enam momen penting CTPS, termasuk sebelum memberi makan anak dan setelah membersihkan anak, dengan tingkat kepatuhan meningkat sebesar 6,4 % . 

Baca juga: Mewujudkan Generasi Emas Lewat Integrasi dan Sinergi untuk Masa Depan Anak Sehat dan Cerdas

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved