Ekonomi dan Bisnis

Lebih 50 Stok Rumah Belum Terjual, Begini Strategi Penjualan Developer

Melambatnya kredit pemilikan rumah (KPR) yang menjadi catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang turun cukup signifikan

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: Kamardi Fatih
Banjarmasin Post/Salmah
PERUMAHAN- Komplek perumahan di Banjarbaru, terus berkembang dari subsidi hingga komersial 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Melambatnya kredit pemilikan rumah (KPR) yang menjadi catatan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang turun cukup signifikan, dari 16,31 persen secara tahunan year on year (yoy) pada Maret 2025 menjadi hanya 4,79 persen yoy pada Maret 2026, dirasakan sejumlah pengembang perumahan di Kalsel. 

Diakui H Hasanuddin, developer perumahan sekaligus Direktur PT ABSY di Banjarmasin, memang saat ini terjadi penurunan daya beli masyarakat terhadap perumahan.

"Saat ini, kami analisa , calon-calon nasabah sedang wait and see. Ada banyak pertimbangan," katanya, Selasa (19/5/2026).

Pertimbangan itu, menjadi  kekhawatiran adanya PHK, keberlangsungan usaha dan inflasi dari impact kenaikan BBM.

"Penurunan daya beli ini baik untuk rumah subsidi maupun perumahan komersil," kata Hasan, panggilan akrabnya.

Penurunannya penjualan perumahan di Kalsel lumayan banyak, dikatakan Hasanuddin, angkanya sangat signifikan hampir 40 persen.

"Menyiasati ini kami melakukan promosi yang terus digencarkan dengan beberapa diskon-diskon untuk menunjang penjualan. Saat ini kami punya stok kurang lebih 50 buah dan belum terjual,” ujar Hasanuddin.

Ketua DPD REI Kalsel, H Ahyat Sarbini mengatakan, daya beli masyarakat terhadap perumahan menurun karena ekonomi sedang tidak baik-baik saja.

"Pertumbuhan ekonomi yang terjadi sekarang membuat masyarakat wait and see makin hari makin naik," katanya.

Saat ini, harga BBM naik, berakibat pada naiknya semua sektor sehingga turut naik pula biaya rumah tangga dan biaya usaha.

"MBG sudah banyak memakan anggaran, sehingga anggaran sektor lain dipangkas, akibatnya berefek pada pertumbuhan ekonomi," katanya.

Adapun serapan perumahan, dikatakan Ahyat, angkanya jauh dari tahun-tahun sebelumnya. Saat ini, di Kalsel baru terjual 2.300 unit rumah, sedangkan pada tahun sebelumnya di bulan yang sama, terjual 3.700 unit.

"Kami sudah mendekati pertengahan tahun, namun penjualan rumah masih 30 persen dari target," katanya.

Rumah subsidi FLPP penjualannya turun, apalagi rumah komersil yang tergantung kondisi usaha besar macam perkebunan sawit dan pertambangan batubara yang 60 persen lebih memengaruhi ekonomi.

"Strategi kami, ya mengadakan expo pada Agustus nanti. Dan secara jangka pendek melakukan promosi di media sosial," kata Ahyat yang mengaku punya stok 30 unit belum terjual.

Dikatakan Ahyat, para pengembang tetap semangat. Hanya, mereka meminta agar mudahkan perizinan, adanya aturan baru jangan memperlambat usaha.

"Kami sebagai pengusaha perumahan merangkul semua asosiasi pengembang agar dunia investasi terus bergerak," katanya. (Banjarmasinpost.co.id/Salmah Saurin) 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved