Tribun Smart

Rezvi Berusaha Disiplin dan Realistis

Rezvi aktif di berbagai organisasi, dari PIK-MA, Forum Genre, hingga Masyarakat Relawan Indonesia

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
banjarmasin Post
Rezvi Amalia Rahmah, Wakil Duta GenRe Kalimantan Selatan (Kalsel) 2025. 

Sejak kecil terbiasa hidup dalam lingkungan yang menjunjung tinggi pendidikan, doa, dan juga pengabdian. Hal itu yang membentuk karakter Rezvi Amalia Rahmah yang selalu ingin bermanfaat untuk sekitar.

Aktualisasi gadis 21 tahun asal Amuntai, Hulu Sungai Utara (HSU) ini, dalam menebar manfaat bagi sekitar adalah dengan aktif di berbagai organisasi sosial dan kepemudaan.

"Sejak madrasah aliyah, saya memang sudah aktif di organisasi kemanusiaan, jadi apapun bidangnya saya selalu ingin tetap bisa berdampak bagi masyarakat," ujar mahasiswi Fakultas Kedokteran ULM ini.

Baginya, membangun daerah adalah bentuk bakti nyata. Dengan berkuliah di ULM, ia tidak hanya menimba ilmu kedokteran, tapi juga berkesempatan berkontribusi langsung kepada masyarakat di daerah sejak dini.

"Awalnya, jujur, saya memilih kedokteran bukan dari keinginan pribadi, tapi karena dorongan orangtua. Saya awalnya ingin kuliah statistika, karen suka matematika. Tapi ternyata lolos jalur SNMPTN di Fakultas Kedokteran ULM dan saya yakin itu juga berkat doa orangtua," ungkapnya.

Selama menjalani perkuliahan di kedokteran, ia mulai sadar bahwa orangtua ternyata lebih paham passion anaknya. Jadi, meskipun awalnya terasa berat, lama-lama ia merasa justru di sinilah tempatnya berkembang. 

"Kedokteran membuat saya lebih menemukan jati diri, mengasah kepedulian, dan memberi ruang besar untuk berkontribusi ke masyarakat," tukas Rezvi.

Motivasi memilih Universitas Lambung Mangkurat sendiri karena inilah universitas kebanggaan Kalimantan Selatan, dan ia ingin tetap dekat dengan tanah kelahiran. 

"Hal yang paling membentuk karakter dan cara pandang hidup saya adalah pengalaman di organisasi dan relawan, ditambah dengan peran saya sebagai anak pertama perempuan di keluarga," ungkapnya.

Sosok yang paling menginspirasi perjalanan hidupnya adalah orangtua. Mereka sederhana, tapi selalu mendukung penuh mimpi Rezvi. Dari mereka ia belajar arti kerja keras, doa, dan ketulusan. 

Rezvi juga menyadari bahwa kadang orang tua lebih tahu tentang kita dibanding kita sendiri. Seperti saat ia diarahkan kuliah kedokteran, awalnya ia tidak yakin, tapi ternyata itu adalah jalan terbaik untuknya berkembang. Itu membuatnya percaya bahwa restu dan arahan orangtua adalah bagian dari jalan kesuksesannya.

Rezvi aktif di berbagai organisasi, dari PIK-MA, Forum Genre, hingga Masyarakat Relawan Indonesia. Motivasi terbesarnya sederhana: keberdampakan. "Saya percaya dalam hidup ini, setiap orang pasti membawa hak orang lain, entah itu berupa ilmu, kesempatan, atau bahkan sekadar energi positif dan menjadi kewajiban kita untuk menyalurkannya," tukasnya.

Baginya, organisasi adalah wadah yang paling tepat untuk itu. Karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, kita tidak bisa bergerak sendirian. 

Dengan organisasi, kita bisa bekerja sama, saling melengkapi, dan memperluas kebermanfaatan. Jadi apa yang awalnya mungkin terasa kecil kalau dilakukan sendiri, bisa jadi jauh lebih besar dampaknya kalau dilakukan bersama-sama. Hal inilah yang membuatnya selalu semangat aktif di berbagai organisasi.

Salah satu momen yang paling berkesan bagi Rezvi adalah ketika mengikuti program relawan ke pelosok Nusa Tenggara Timur. Waktu itu ia lolos sebagai peserta fully funded volunteer, jadi semua biaya ditanggung penuh. 

Baginya itu sebuah anugerah sekaligus amanah besar, karena diberi kesempatan untuk benar-benar melihat langsung kondisi masyarakat di daerah yang akses kesehatannya masih terbatas.

Pengalaman di NTT itu membuka matanya bahwa menjadi mahasiswa kedokteran bukan hanya soal belajar teori di kampus, tapi juga soal memahami realita lapangan. 

Bagi Rezvi, terpilih sebagai Wakil Duta GenRe Kalimantan Selatan 2025 adalah pencapaian yang sangat bermakna. Bukan hanya sekadar gelar atau penghargaan, tapi sebuah amanah besar untuk bisa membawa suara anak muda dalam isu kesehatan reproduksi, edukasi, dan sosial. 

"Sebenarnya, saya sudah menargetkan untuk ikut Duta GenRe sejak tahun 2022. Namun, saat itu saya merasa belum cukup siap, baik dari segi mental, pengalaman, maupun pemahaman. Baru di tahun 2025, setelah melalui banyak proses, belajar dari organisasi, dan mengasah diri di berbagai kesempatan, saya benar-benar merasa persiapan saya matang," katanya.

Jadi, bisa berdiri di titik ini adalah hasil perjalanan panjang, bukan instan. Itu yang membuat saya semakin menghargai prosesnya, sekaligus semakin bertanggung jawab untuk menjalankan peran ini sebaik mungkin.

Peran anak muda saat ini adalah menjadi agen perubahan yang bisa menyuarakan isu-isu penting dengan bahasa yang dekat dan mudah dipahami generasi sebaya. Karena kita hidup di era digital, anak muda juga punya kelebihan dalam menyebarkan edukasi lewat cara-cara kreatif, seperti media sosial atau kegiatan komunitas.

"Itulah kenapa saya bergabung di GenRe, karena di sanalah anak muda punya wadah untuk lebih dekat dengan generasi sebaya. Dengan begitu, edukasi yang kita sampaikan tidak hanya berhenti sebagai teori, tapi bisa benar-benar menyentuh dan mengubah pola pikir teman-teman seusia kita," tukasnya.

Menurut Rezvi, cara terbaik menginspirasi anak muda adalah dengan memberi contoh lewat tindakan. Karena sering kali apa yang kita lakukan lebih meyakinkan daripada sekadar kata-kata.

Ia menggunakan GenRe sebagai wadah utama, karena dari sana saya bisa lebih dekat dengan generasi sebaya. Selain itu, saya memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan edukasi dengan cara yang menarik dan mudah dijangkau. 

Melalui sosialisasi ke sekolah-sekolah bersama GenRe, ia punya kesempatan bertemu langsung dengan siswa, berdialog, sekaligus menyampaikan pesan-pesan penting tentang isu sosial dan kesehatan dengan cara yang sederhana namun tepat sasaran.

Keterampilan Rezvi lainnya adalah menjadi MC, moderator, dan narasumber di puluhan acara. 

"Awalnya, jujur saya tertarik ke public speaking itu karena FOMO. Sejak masih di MA, saya sering ikut berbagai kegiatan walau sebenarnya belum paham sama sekali tentang public speaking. Begitu masuk kuliah pun sama, saya FOMO ikut seminar sana-sini, bahkan sering sengaja bertanya di forum hanya untuk melatih keberanian berbicara di depan orang banyak," katanya.

"Titik baliknya ada di tahun 2023, saat prodi  mengadakan Training for Trainer. Dari situ saya belajar lebih serius tentang public speaking, dan alhamdulillah berhasil meraih penghargaan sebagai 1st Best Trainer. Itu yang membuat saya semakin percaya diri untuk lanjut ikut pelatihan di tingkat Wilayah hingga Nasional yang diadakan oleh Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia (ISMKI)," katanya.

Dari sana, ia akhirnya berhasil mendapatkan sertifikasi sebagai Certified Public Speaker Nasional. Itulah awal perjalanan di dunia public speaking, sampai kemudian mulai sering diundang jadi MC, moderator, maupun narasumber di berbagai acara.

"Menurut saya, kuncinya ada satu: kenal diri sendiri dulu. Kita ini diciptakan Allah pasti dengan tujuan, dan masing-masing sudah dikasih potensi besar langsung dari-Nya. Jadi kenapa harus meragukan diri sendiri?" tukasnya.

Seringkali kita gampang sekali menilai orang lain hebat, pintar, atau berbakat. Tapi ketika menilai diri sendiri, kita malah ragu. Padahal justru orang lain sering percaya dengan potensi kita, lantas kenapa kita sendiri tidak percaya? Apa orang lain lebih mengenal diri kita daripada kita sendiri?

Ketika kita sudah benar-benar kenal diri, yakin dengan potensi yang ada, maka rasa percaya diri akan tumbuh. Tinggal dibarengi dengan persiapan, latihan, dan pemahaman audiens. Baginya, percaya diri itu bukan tentang tampil sempurna, tapi tentang nyaman dengan diri sendiri dan yakin bahwa apa yang kita sampaikan punya manfaat.

Meski banyak pengalaman, namun diakui Rezvi sampai sekarang ia masih sering gugup kalau mau mulai public speaking. Menurutnya, gugup itu wajar, dan gagal bukan berarti kalah. Rumusnya sederhana: takut gagal sama dengan takut berhasil. Justru kegagalan itu adalah pembelajaran, jadi jangan sampai kita merasa tidak berharga hanya karena pernah gagal.

"Saya pribadi sering mengalami kegagalan, tapi justru itulah yang membentuk saya menjadi Rezvi yang sekarang. Untuk mengatasi gugup, biasanya saya pakai teknik relaksasi sederhana: tarik napas, hembuskan, senyum, lalu mulai. Kuncinya adalah tenang, karena semakin kita tenang, penyampaian akan terasa lebih natural dan mengalir," tandasnya.

Secara prestasi Rezvi juga peraih Best Creative Content IMC YAE #10 Bangkok, Thailand 2025. Menurutnya, ini cukup unexpected, karena awalnya ia memang suka sekali mendokumentasikan teman-teman delegasi saat mengikuti kunjungan kegiatan atau program. 

"Itu murni kesenangan pribadi saja, saya foto, saya edit, lalu langsung posting. Ternyata dari kebiasaan itu, tanpa saya sadari, orang-orang mulai mengenal saya sebagai Rezvi si Content Creator atau semacam PDD kegiatan. Jadi bukan karena saya sengaja mengejar nominasi, tapi lebih karena hobi saya mendokumentasikan momen. Alhamdulillah, dari hal yang saya lakukan dengan senang hati itu, akhirnya saya mendapat penghargaan Best Creative Content. Buat saya, ini justru makin membuktikan bahwa sesuatu yang kita kerjakan dengan tulus dan bahagia bisa membawa hasil yang luar biasa," ungkapnya.

Baginya, menjadi salah satu delegasi Indonesian Millennial of Change adalah pengalaman yang sangat menyenangkan, karena keberdampakannya berskala internasional. Ia memang sudah menargetkan di tahun 2025 untuk bisa mengabdi di luar negeri. Kalau sebelumnya saya sudah banyak terjun di dalam negeri, kali ini ia ingin mencoba pengalaman baru agar lebih seimbang.

"Artinya untuk perjalanan saya ke depan, saya bisa belajar memahami berbagai karakter dari daerah dan negara yang berbeda. Hal ini sangat penting, karena sebagai calon dokter nanti saya akan berhadapan dengan pasien dari latar belakang yang beragam. Jadi kesempatan ini saya anggap sebagai proses belajar sejak sekarang, mumpung masih muda dan ada peluang untuk itu," bebernya.

Menurutnya, prestasi tidak harus selalu diwujudkan dalam bentuk piala atau trofi. Prestasi bisa hadir dalam banyak bentuk, termasuk kebermanfaatan yang kita berikan untuk orang lain. Kadang, sekadar hadir di hidup seseorang pun bisa jadi alasan mereka merasa bahagia karena ada kita.

"Bagi saya, prestasi sejati adalah ketika tindakan kita membawa dampak positif, sekecil apa pun itu. Jadi selama ada manfaat yang bisa dirasakan orang lain, itulah prestasi yang sebenarnya, meskipun tidak selalu terlihat atau dipajang dalam bentuk penghargaan," pungkasnya. (Salmah saurin)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved