Kasus Pneumonia Balita di Kalsel 

Dinkes Banjarmasin Ingatkan Kasus ISPA Sering Terjadi pada Anak-anak

Wali Kota Banjarmasin HM Yamin HR mengimbau warga untuk lebih waspada dan menjaga kesehatan di tengah meningkatnya kasus flu

Tayang:
Penulis: Muhammad Rahmadi | Editor: Edi Nugroho
BANJARMASINPOST.CO.ID
RUMAH SAKIT- Ilustrasi: RSUD Sultan Suriansyah Banjarmasin. Dinkes Banjarmasin Ingatkan Kasus ISPA Sering Terjadi pada Anak-anak. (arsip 2023). 

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN-  Wali Kota Banjarmasin, Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel).HM Yamin HR mengimbau warga untuk lebih waspada dan menjaga kesehatan di tengah meningkatnya kasus flu musiman.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan Banjarmasin, kasus ISPA sepanjang 2025 menunjukkan lonjakan. Khusus September, mencapai 11. 261 kasus. Ini hampir dua kali lipat dibandingkan September 2024 yang sebanyak 6.571 kasus.

Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Banjarmasin Emma menjelaskan ISPA sering terjadi pada anak-anak dan lansia. "Karena sistem kekebalan tubuh mereka yang lebih lemah," katanya, Selasa.

Adapun sejumlah gejala yang dapat muncul, di antaranya batuk dan bersin dengan hidung tersumbat. Pilek, demam dan sakit kepala, nyeri tenggorokan, sesak napas, hingga pembesaran kelenjar getah bening.

Baca juga: Apotek di Sultan Adam Banjarmasin Ini Akui Ada Peningkatan Permintaan Obat Pilek dan ISPA

Baca juga: Tanahlaut Terjadi Peningkatan Kasus ISPA, Dinkes: Sebaran Penyakit Cukup Merata

Sebagai langkah antisipasi penularan, masyarakat diimbau untuk menjaga pola hidup bersih dan sehat. "Segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan bila mengalami gejala," ujarnya.

Tidak hanya periode September, angka ISPA setiap bulannya di 2025 tak pernah lebih sedikit dari tahun 2024. Bila di total, ISPA pada tahun 2025 periode Januari-September mencapai 60.204 kasus. Sedangkan di 2024 periode yang sama, hanya sebanyak 49.729 kasus.

Tingginya angka kasus ISPA ini bahkan sempat membuat ruang perawatan khusus anak-anak di RSUD Sultan Suriansyah penuh. "Memang kebanyakan anak-anak. September lalu, semua bed di ruang anak-anak terisi," ujar Direktur RSUD Sultan Suriansyah, dr Syaukani.

Meski demikian, semua pasien tersebut, ujar Syaukani, dapat terlayani dengan baik, berkat dukungan fasilitas yang tersedia. "183 bed kami sudah disiapkan untuk pasien. Tapi bila tidak cukup juga, maka segera kami beri rujukan ke faskes terdekat," ujarnya.

Selain faktor cuaca, ISPA umumnya juga disebabkan oleh virus yang mudah menular. Penyakit ini biasanya bisa sembuh dengan sendirinya.

Namun, bila daya tahan tubuh seseorang menurun, gejalanya bisa memburuk hingga memerlukan perawatan intensif. 

Sementara meningkatnya kasus flu di Kota Banjarmasin turut berdampak pada pembelian obat batuk dan pilek di sejumlah apotek. 

Meski kedua obat tersebut laris, dua apoteker menegaskan peningkatan tersebut tidak serta-merta menandakan lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Apoteker dari Apotek Sultan Adam K24 menyampaikan permintaan obat pilek dan pernapasan memang meningkat belakangan ini. 

Namun bukan berarti permintaan datang dari orang yang positif ISPA. Pemeriksaan medis masih perlu dilakukan untuk memastikan gelaja ISPA atau hanya flu biasa.

“Harus dipastikan dulu ke dokter apakah ISPA atau bukan. Kalau obat-obat pilek memang banyak dibeli akhir-akhir ini. Kami ada obat untuk pernapasan khusus. Batuk pilek juga ada,” ujarnya melalui sambungan telepon resmi, Selasa (14/10) pukul 14.00 Wita.

Senada dengan apoteker dari Apotek Murah Sehat Teluk Dalam. “Kalau pembeli obat batuk pilek benar meningkat karena memang musimnya kan. Tapi untuk memastikan itu ISPA, harus periksa ke dokter dulu. Belum tentu semua yang pilek itu ISPA,” jelasnya melalui sambungan telepon resmi.

Kedua apoteker mengimbau masyarakat untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa gejala flu atau pilek yang dialami adalah ISPA. Pemeriksaan medis tetap menjadi langkah utama untuk diagnosis yang akurat.

Di Kabupaten Tanahlaut juga terjadi peningkatan Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) .
"Peningkatan terjadi pada September. Tapi tidak terlalu luar biasa," sebut Kepala Dinkes ala dr Hj Isna Farida, Senin (13/10).

Pada tahun ini hingga September, rinci Isna, total kasus ISPA pada balita sebanyak 7.921. Untuk dewasa sebanyak 18.149.

Sebaran kasus ISPA tersebut dikatakannya cukup merata pada semua wilayah di Tala.

Tahun ini karena kemarau dan kabut asap tak terlalu besar lanjut Isna, pihaknya tidak ada kegiatan atau program khusus terkait penanganan ISPA.

Sedangkan edukasi terkait bahaya debu dan sebagainya, apakah oleh cuaca ataupun polusi, selalu dilakukan. Ini bagian dari kegiatan rutin semua petugas kesehatan di tiap puskesmas.

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) juga mendapat perhatian serius Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tabalong.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Tabalong mencatat sepanjang Januari-September 2025 kasus ISPA mencapai 14.220 kasus. Peningkatan terjadi sejak Agustus dan meningkat lagi pada September untuk semua kategori usia.

Di Agustus tercatat 1.861 kasus dan September naik menjadi 2.139 kasus. Terbanyak di rentang usia 19-59 tahun dan 0-kurang dari 5 tahun.

Plt Kepala Dinkes Tabalong Husin Ansari mengatakan ISPA disebabkan virus, bakteri serta faktor lingkungan. "Saat ini faktor penyebabnya karena musim peralihan atau pancaroba dan kasusnya hampir merata di seluruh wilayah," ujarnya, Selasa sore.

Udara lembab dan suhu tidak stabil inilah yang mempermudah tumbuhnya virus dan bakteri.

ISPA ditandai oleh hidung tersumbat atau berair, batuk kering atau berdahak, sakit tenggorokan, pilek, suara serak, demam dan sakit kepala. "Pada ISPA ringan dapat sembuh 5-7 hari, sedangkan yang berat bisa sampai 3 minggu baru sembuh," jelasnya.

Untuk pengobatannya, lanjut Husin, harus istirahat cukup, minum banyak air, dan pengobatan simptomatik. Sedangkan ISPA berat perlu dilakukan pengobatan medis dan perlu antibiotik serta rawat jalan atau rawat inap, agar tidak menjadi pneumonia yang mengakibatkan sesak napas.

Sementara dampak buruk ISPA terhadap kesehatan masyarakat selain menyebabkan gangguan fungsi pernapasan, juga menurunnya daya tahan tubuh dan komplikasi yang bisa menyebabkan pneumonia atau radang paru.

 Bahkan bisa saja menyebabkan kematian, terutama pada balita, lansia, serta orang dengan penyakit kronis seperti TBC, asma, diabetes, dan gizi buruk apabila tidak ditangani secara cepat.

Untuk menekan jumlah penderita ISPA, Dinkes Tabalong melakukan deteksi dini melalui Program Pemeriksaan Kesehatan Gratis (PKG) di sekolah dan skrining saat kegiatan Homecare. Sedang untuk mencegah ISPA menjadi pneumonia, dengan cara menemukan secara dini pasien ISPA agar diobati dan pemberian vitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh.

Sementara Dinkes Kalsel mengimbau masyarakat mewaspadai gejala  Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti batuk, pilek, demam, dan sesak napas, serta segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.

“Pencegahan bisa dilakukan lewat pola hidup bersih, imunisasi, dan penggunaan masker, terutama saat kualitas udara memburuk,” tutur Anhar.

Kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) dan pneumonia balita di Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel). menunjukkan tren meningkat sejak Agustus 2025.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kalsel mencatat sepanjang September total penemuan pneumonia atau radang paru-paru pada balita mencapai 1.856 kasus, dengan rata-rata pelaksanaan tata laksana standar sebesar 91,80 persen.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Anhar Ihwan mengatakan, kenaikan kasus mulai terlihat sejak Agustus. “Faktornya karena kondisi cuaca kita cukup ekstrem. Kadang panas, kadang hujan. Itu berpengaruh terhadap daya tahan tubuh, terutama anak-anak,” ujarnya, Selasa (14/10).

Namun Anhar mengakui pendataan kasus ISPA belum sepenuhnya lengkap. “Masih ada puskesmas yang belum melapor. Untuk Kabupaten Banjar, data dari rumah sakit juga baru masuk setelah infografis dibuat,” tambahnya.

Berdasarkan data Dinkes Kalsel, Kabupaten Banjar, Tapin dan Kota Banjarbaru menjadi daerah dengan jumlah pneumonia balita tertinggi. Masing-masing 235, 264 dan 148 kasus.

Sementara Banjarmasin tercatat 174 kasus dengan capaian tata laksana standar terendah, yakni 67,82 persen.

Dari sisi pengobatan, rata-rata penderita pneumonia (balita dan anak) yang mendapatkan antibiotik mencapai 96,15 persen, melebihi target nasional tahun 2024 sebesar 95 persen.

Beberapa daerah seperti Hulu Sungai Selatan, Hulu Sungai Tengah, Hulu Sungai Utara, Tanahbumbu, dan Balangan, bahkan mencatat penanganan mencapai 100 persen.

Sementara Kabupaten Batola belum mengirimkan laporan presentase penemuan kasus ISPA dan pneumonia untuk periode September 2025.
(sai/mel//msr/dny/roy)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved