Tribun Smart

Maeyza Buktikan Berani Mengambil Peran

Maey ingin membuktikan bahwa mahasiswa khususnya perempuan memiliki peran strategis dalam dunia akademik dan kepemimpinan.

Tayang:
Penulis: Salmah | Editor: R Hari Tri Widodo
Banjarmasin Post
Maeyza Kholisyatul Ilmiah, Mahasiswa Teladan UIN Antasari 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Sejak masa sekolah, perempuan ini sudah terbiasa aktif di berbagai kegiatan akademik maupun organisasi. 

Ya, walaupun terlahir dari keluarga petani, namun tidak mematahkan semangatnya untuk menggapai cita-cita dan impian.

Maey yang lahir 22 Mei 2003 berasal dari Desa Kambang Habang Baru, Kecamatan Salam Babaris, Kabupaten Tapin. 

"Motivasi terbesar saya adalah keinginan untuk terus bertumbuh dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar. Saya meyakini bahwa pendidikan dan organisasi adalah ruang terbaik untuk membentuk karakter, integritas, dan kepedulian sosial," katanya.

Selain itu, ia ingin membuktikan bahwa mahasiswa khususnya perempuan memiliki peran strategis dalam dunia akademik dan kepemimpinan.

"Ketertarikan saya pada dunia kepemimpinan dan public speaking tumbuh sejak dini, terutama melalui kegiatan debat tiga bahasa, Arab, Inggris dan Indonesia, pidato dan organisasi sekolah," katanya.

Ketika melanjutkan studi di FEBI UIN Antasari Banjarmasin, ia berkomitmen untuk tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga mengembangkan potensi diri melalui organisasi dan kompetisi. 

"Perjalanan ini penuh proses dan pembelajaran, hingga akhirnya saya dipercaya meraih predikat Mahasiswa Teladan dan Berprestasi FEBI tahun 2024," katanya.

Selama berkuliah di UIN Antasari, hal yang paling membentuk karakter dan kemampuan Maey adalah lingkungan kampus yang dinamis dan penuh semangat kolaborasi sangat membentuk karakter saya. 

Interaksi dengan dosen, teman organisasi, serta keterlibatan dalam berbagai kegiatan ilmiah dan kemahasiswaan mengajarkan saya tentang disiplin, tanggung jawab, serta keberanian untuk mengambil peran.

Peran Maey sebagai Sekretaris Departemen Sosial dan Keagamaan Dema FEBI juga membentuk perspektif dan membuka wawasan bahwa mahasiswa tidak hanya membutuhkan ruang akademik, tetapi juga dukungan sosial dan spiritual. 

"Program yang dijalankan harus mampu menjawab kebutuhan tersebut secara holistik," katanya.

Maey belajar bahwa kepemimpinan bukan tentang posisi, melainkan tentang tanggung jawab dan keteladanan. Pemimpin harus mampu mendengarkan, hadir untuk tim, dan mengambil keputusan dengan bijak.

Melihat peran generasi muda, khususnya perempuan, dalam ekonomi syariah,  menurutnya memiliki peran strategis sebagai penggerak dan inovator Ekonomi Syariah. 

"Perempuan tidak hanya sebagai pelaku, tetapi juga pemimpin dalam menciptakan sistem ekonomi yang adil dan berkelanjutan," tukasnya.

Sosok yang paling menginspirasi Maey adalah orangtua, guru, dan dosen yang selalu memberikan dukungan dan kepercayaan. Mereka menjadi sumber motivasi untuk terus melangkah.

Rencana dan cita-cita setelah lulus, Maey ingin berkiprah di bidang ekonomi syariah, pendidikan, atau pengembangan masyarakat, serta terus terlibat dalam kegiatan sosial yang berdampak luas.

Cara Maey membagi waktu antara akademik, organisasi, dan kompetisi adalah dengan manajemen waktu dan penetapan prioritas menjadi kunci utama. 

"Saya selalu menempatkan akademik sebagai fondasi, kemudian menyesuaikan aktivitas organisasi dan kompetisi secara proporsional. Komitmen dan kedisiplinan sangat membantu saya menjaga keseimbangan tersebut," jelasnya.

Jadi, tantangan terbesar adalah mengelola waktu dan energi di tengah tanggung jawab yang beragam. Setiap organisasi memiliki dinamika berbeda, namun dari situlah ia belajar tentang kerja tim, komunikasi efektif, dan profesionalisme.

Kerap menjuarai lomba pidato dan orasi, kunci keberhasilan Maey adalah pemahaman materi yang kuat, latihan berkelanjutan, dan ketulusan dalam menyampaikan pesan. 

Prestasi baginya adalah amanah dan tanggung jawab moral untuk terus memberi kontribusi positif. Ini bukan akhir perjalanan, melainkan motivasi untuk terus berkembang dan menginspirasi.

Salah satu even yang menantang menurut Maey adalah Kompetisi pidato 3 bahasa tingkat Nasional (umum se-Kalimantan) karena persaingan yang ketat dan tuntutan kualitas yang tinggi. 

"Namun, pengalaman tersebut sangat berharga dalam membentuk kepercayaan diri," katanya.

Kemampuan public speaking bagi Maey adalah seni menyampaikan gagasan dengan empati dan kejujuran.

Sebagai master of ceremony di acara nasional dan internasional, persiapan dilakukannya dengan memahami (run down) alur acara, karakter audiens, serta latihan intonasi dan bahasa. 

"Ketenangan dan penguasaan materi menjadi kunci tampil percaya diri di panggung besar," paparnya.

Maey ingin menanamkan bahwa keberanian berbicara adalah bagian penting dari kepemimpinan. Setiap individu memiliki potensi, asalkan mau belajar dan berlatih. (Salmah saurin)

 

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved