Musim Kemarau Panjang

El Nino Godzilla Bakal Datang, Distanhorbun Tanahlaut Kalsel Percepat Tanam

kemunculan El Nino berkekuatan kuat atau “Godzilla” yang beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) mulai diwaspadai Distanhorbun Tala

Penulis: BL Roynalendra N | Editor: Irfani Rahman
Dok. Humas Kementan
SAWAH KERING (ILUSTRASI)- Sawah kekeringan saat musim kemarau. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI- Ancaman musim kemarau panjang dan kering kembali menghantui sektor pertanian di Kalimantan Selatan.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memprediksi kemunculan El Nino berkekuatan kuat atau “Godzilla” yang beriringan dengan Indian Ocean Dipole (IOD) fase positif pada pertengahan April hingga Oktober 2026.

Kombinasi dua fenomena ini berpotensi memicu kemarau ekstrem. Dampaknya, pembentukan awan hujan berkurang drastis karena pusat curah hujan bergeser ke Samudra Pasifik, sehingga wilayah seperti Tanah Laut rawan mengalami kekeringan lebih awal.

Menghadapi kondisi tersebut, Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (Distanhorbun) Tanahlaut (Tala) mulai melakukan antisipasi.

Kepala Distanhorbun Tala HM Faried Widyatmoko menegaskan pihaknya mendorong petani melakukan percepatan tanam, khususnya untuk komoditas padi dengan menggunakan varietas berumur pendek sekitar empat bulan

Baca juga: El Nino Godzilla Picu Kemarau Ekstrem, BPBD Kalsel Minta Siaga Dini Kebakaran Lahan dan Hutan

Baca juga: Gempa Guncang Sulawesi Utara Rabu 25 Maret 2026, Cek Kekuatan dan Pusat Wilayah Getaran

“Percepatan tanam ini penting agar tanaman bisa dipanen sebelum puncak kemarau. Kami juga terus mengingatkan petani untuk tidak lagi bergantung pada varietas lokal berumur panjang,” ujarnya, Selasa (24/3).

Faried mengungkapkan, pihaknya telah melakukan sosialisasi melalui penyuluh pertanian dan akan memperluasnya secara masif, termasuk memanfaatkan media sosial agar informasi cepat menjangkau petani di berbagai wilayah.

Namun, upaya tersebut tidak lepas dari sejumlah kendala. Salah satunya adalah keterlambatan musim tanam akibat ketersediaan air yang belum mencukupi.  

Berdasarkan pemantauan Distanhorbun, kondisi tinggi muka air saat ini hampir sama dengan periode akhir Maret 2025. Kala itu, sebagian besar wilayah Batibati, Bumimakmur, hingga Kurau baru bisa memulai tanam pada Mei.

Kondisi serupa diperkirakan kembali terjadi tahun ini, di mana petani kemungkinan baru bisa turun tanam pada akhir April atau awal Mei.

itu menjadi tantangan serius. Kalau tanam mundur, sementara kemarau datang lebih cepat, maka risiko puso juga akan semakin besar.

Ia juga mengingatkan, seluruh komoditas pertanian pada dasarnya rentan terdampak karena sangat bergantung pada ketersediaan air.

Namun, tanaman padi terutama varietas lokal berumur 6–7 bulan menjadi yang paling rentan. Pengalaman 2023 menjadi pelajaran, ketika banyak padi lokal gagal panen akibat kemarau yang datang lebih awal.

Untuk mengurangi risiko, pemanfaatan sumber air alternatif seperti embung dan irigasi sederhana bisa menjadi pilihan yang dapat dilakukan meski diakui belum merata di semua wilayah.

Dengan berbagai keterbatasan tersebut, kesiapan petani dalam menyesuaikan pola tanam menjadi kunci.

Pemerintah daerah berharap sinergi antara penyuluh dan petani dapat meminimalkan dampak kemarau panjang, sehingga ketahanan pangan di Tanahlaut tetap terjaga di tengah ancaman El Niño ekstrem. (roy)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved