BTALK

Pengelolaan Sampah Menjadi Energi Listrik Banjar Raya, Libatkan 3 Pemerintah Daerah

Barusan dicanangkan Menteri Lingkungan Hidup pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Banjar Raya,

|
Penulis: Rifki Soelaiman | Editor: Ratino Taufik
Banjarmasin Post/Aya Sugianto
SAMPAH TEKSTIL - Kepala DLH Kalsel Rahmat Prapto Udoyo menjelaskan penanganan sampah tekstil kepada Jurnalis BPost R Hari Tri Widodo, Rabu (22/4). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - Setiap tahun terdapat 92 juta ton limbah tekstil di seluruh dunia. Limbah yang sebagian besar dari produksi fashion ini berujung di tempat sampah dan perlahan membusuk. Bahan kimia dan mikroplastiknya kemudian larut dalam tanah serta air sehingga mencemari bumi.

Sesuai pesan Hari Bumi 2026, Our Power, Our Planet, upaya penyelamatan tempat kita berpijak bisa dimulai dari langkah mendaur ulang limbah.

Bagaimana caranya? BTalk-Banjarmasin Post Bicara Apa Saja membahasnya bersama Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalsel Rahmat Prapto Udoyo, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kapuas dr Tonun Irawaty Panjaitan dan Direktur PT Reswara Minergi Hartama Iwan Hermawan, Rabu (22/4) sore.

Dipandu Jurnalis R Hari Tri Widodo. Berikut petikannya:

Apa yang bisa kita lakukan untuk mengurai sampah termasuk limbah tekstil di Kalsel, khususnya Banjarbakula?

Rahmat: Beberapa waktu lalu DLH melibatkan sejumlah mahasiswa memeriksa komposisi sampah dari Banjarmasin, Banjar dan Banjarbaru di TPA Regional Banjarbakula. Hasilnya dari Banjarmasin ada 8 persen limbah tekstil, kemudian dari Banjarbaru 6 persen dan Banjar 3 persen.

Baca juga: Donasi Pakaian Tak Layak Batch 2 Resmi Dimulai, Target Terkumpul 2 Ton Limbah Tekstil

Kita jangan hanya dekralasi saat event. Harus konsisten dan melibatkan semua sektor baik swasta, pemerintah dan media. Apalagi produki sampah kita semakin besar.

Alhamdulillah kita sudah menuju beberapa opsi untuk pengelolaan dan pemanfaatan. Barusan dicanangkan Menteri Lingkungan Hidup pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Banjar Raya, yang melibatkan Banjarmasin, Baritokuala dan Banjar.

Tapi itu tidak menghentikan kita untuk memilah sampah. Kami juga melakukan pendekatan ke berbagai pihak.

Mengapa isu limbah tekstil atau pakaian tidak layak pakai ini dinilai penting PT Reswara?

Iwan: Bagi kami sangat penting, karena sangat dekat dengan sehari-hari. Hampir semua orang mempunyai pakaian tidak terpakai dan menumpuk di lemari lalu dibuang tanpa benar-benar dipikirkan dampaknya. Pada tahun lalu, kami berhasil mengumpulkan donasi dan mengelola sekitar 1,6 ton pakaian bekas menjadi produk bernilai guna. Dan di Batch 2 ini kami menargetkan mengolah dua ton.

Jadi keberlanjutan penting dalam program ini ?

Iwan: Kami berharap program ini terus berlanjut. Kita harus bijak dan berusaha memilih pakaian yang tahan lama guna memperpanjang usia pakaian.

Bisa digambarkan permasalahan sampah di Kapuas?

Irawaty : Peraturan tentang sampah sudah kami buat dan ini masih tahap sosialisasi kepada masyarakat. Hal ini karena kami tidak mau menimbulkan gejolak. Jadi kami melakukan secara persuasif. Jadi peraturan tentang pengelolaan sampah diisi dengan sanksi mulai dari lisan, tertulis dan pidana. Itu yang kami lakukan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved