Puting Beliung di Bumimakmur
Puting Beliung di Bumimakmur Tanahlaut, Atap Lenyap Rumah Rahimah Tersisa Dinding dan Lantai
Atap beserta kuda-kudanya terangkat, melayang, lalu jatuh jauh ke area sawah padi di belakang rumah.
BANJARMASINPOST.CO.ID, PELAIHARI - SORE itu langit di Desa Handilbirayang Bawah, Kecamatan Bumimakmur, Tanahlaut (Tala), tak memberi tanda apapun. Hanya rintik yang datang perlahan, sebelum kemudian angin berubah menjadi amukan.
Bagi Rahimah (40) dan adiknya, Normi (30), Rabu (29/4) sore menjelang petang itu menjadi garis batas antara kehidupan yang biasa—dan kenyataan yang mendadak berubah.
Rumah kecil milik Normi di halaman depan, berukuran sekitar 3x4 meter, adalah yang pertama kehilangan bentuknya. Atap asbes dan dinding papan partisi lenyap seketika, seolah tak pernah ada. Yang tersisa hanya lantai, dingin dan terbuka, tanpa pelindung.
Tak jauh di belakangnya, rumah kayu milik Rahimah (kakak)—hasil bantuan bedah rumah—pun tak luput. Atap beserta kuda-kudanya terangkat, melayang, lalu jatuh jauh ke area sawah padi di belakang rumah.
Rahimah masih sibuk merapikan barang-barang yang tersisa saat ditemui, Kamis (30/4) pagi. Sementara Normi menjemur pakaian yang sempat basah kuyup diterpa hujan. Senyum tipis mereka tetap terjaga, namun gurat lelah dan pilu tak bisa disembunyikan. “Awalnya cuma rintik,” cerita Rahimah pelan.
Angin datang, makin kencang, semakin mengkhawatirkan. Normi yang merasa rumahnya tak cukup aman, bergegas membawa dua anaknya ke rumah sang kakak.
Rahimah bersama dua anaknya, Nur Muhammad Rizki (11) dan Askia Yasmin (6), berada di kamar. Sementara Normi dan dua anaknya, Siti Hodijah (11) dan Halisa Rahma (5), di ruang depan.
Lalu, semuanya terjadi begitu cepat. “Ada suara ‘klek’, listrik langsung mati. Habis itu suara gemeretak tiga kali, seperti paku atap lepas,” kenang Rahimah.
Tak sampai hitungan detik, atap rumahnya hilang. Langit yang tadi di atas kepala, mendadak benar-benar terbuka.
Baca juga: Heboh Pesta Pernikahan Lansia di Kotabaru Kalsel, Ketahui Manfaat dan Kerugian Kawin di Usia Senja
Hujan deras langsung mengguyur tubuh mereka. Tak ada yang sempat diselamatkan. Mereka berlari, basah kuyup, ke rumah tetangga di sebelah.
Namun di tengah hujan yang masih menggila, Rahimah sempat kembali. Ia menutupi sebagian barang yang tersisa, berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan. Sementara Normi hanya mampu menutup sisa barangnya dengan pecahan asbes—karena rumahnya sendiri sudah rata, menyisakan lantai saja.
Ketika hujan reda, sekitar pukul 18.00 Wita, mereka tak lagi punya tempat untuk kembali.
Malam itu juga, keduanya bersama anak-anak mengungsi ke rumah keluarga di Desa Kurau Utara, sekitar empat kilometer dari rumah mereka.
Kini, yang tersisa adalah barang-barang yang basah: sepeda, sepeda motor, kulkas, mesin cuci, pakaian, hingga seragam sekolah anak-anak. “Seragamnya basah semua, jadi hari ini anak belum bisa sekolah,” ujar Rahimah.
Beruntung, buku-buku sempat diamankan ke rumah tetangga sebelum semuanya terlambat.
| Daftar Rumah dan Bangunan di Tanahlaut Kalsel yang Hancur Diterjang Angin, Tak Mungkin Dihuni Lagi |
|
|---|
| Bantuan Awal Pemkab Tanahlaut Disalurkan, Sasar Delapan Desa Terdampak Angin Kencang |
|
|---|
| Polsek Kurau Tanahlaut Salurkan Bantuan untuk Korban Angin Kencang di Handilbirayang Bawah |
|
|---|
| Dahsyatnya Angin Kencang Terjang Handilbirayang Bawah Tanahlaut, Rahimah Kaget Atap Sudah Hilang |
|
|---|
| Gandeng Perguruan Tinggi, UMKM Desa Bumijaya 'Naik Kelas' Lewat Digitalisasi Keuangan |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Rahiman-korban-angin-kencang-di-Handilbirayang-Tala.jpg)