Berita Banjar

Nelayan Aluhaluh Banjar Tetap Bisa Melaut, Suriansyah Andalkan Solar Subsidi

Nelayan Aluhaluh mengaku terbantu dengan penyaluran solar subsidi yang diberikan pemerintah melalui SPBN dan kuota untuk koperasi nelayan

Tayang:
Istimewa/kapolsek
WARGA atau nelayan di aluh aluh masih normal melaut menggunakan solar subsidi untuk nelayan. 


BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Jika di beberapa daerah solar alami kelangkaan. Namun solar untuk nelayan di Aluhaluh tetap terjaga. Karena itu nelayan di Aluhaluh Kabupaten Banjar tetap melaut.

Nelayan mengaku terbantu dengan penyaluran solar subsidi yang diberikan pemerintah melalui SPBN dan kuota untuk koperasi nelayan.

Bantuan tersebut membuat aktivitas melaut tetap berjalan di tengah tingginya biaya operasional.
Suriansyah, misalnya.

Satu nelayan di Aluhaluh itu mengatakan, dirinya masih bisa memperoleh solar bersubsidi karena terdaftar dalam program Kartu Kusuka dan tergabung di Koperasi Mina Membangun Mandiri di Desa Simpang Warga, Kecamatan Aluhaluh.

Menurutnya, keberadaan subsidi BBM sangat membantu para nelayan, termasuk sekitar 280 anggota koperasi lainnya yang masih aktif melaut.

Bapak dua anak itu menjelaskan, koperasi nelayan tersebut mendapat kuota sekitar 80 kiloliter solar setiap tiga bulan. 

Baca juga: Ditemukan Ponsel Tersembunyi di Plafon Toilet Sentra Antasari Banjarmasin, Diduga untuk Merekam 

Baca juga: Pemko Banjarmasin Larang Konsumsi Ikan Sapu-sapu, Berisiko Mengandung Logam Berat

Baca juga: Pertemuan Pedagang Harum Manis dan Wali Kota Bahas Kios yang Terbakar Belum Terjadwal

Disampaikan dia, melalui skema subsidi, nelayan dapat membeli solar sesuai harga eceran tertinggi sebesar Rp 6.800 per liter.

Harga tersebut jauh lebih murah dibanding membeli solar secara eceran yang kini bisa mencapai Rp 12 ribu per liter.

“Kami bersyukur karena subsidi ini membuat nelayan bisa tetap operasional dan menghemat hampir separuh biaya dibanding membeli solar eceran,” urai Suriansyah, Selasa (12/5/2026).

Penjual udang dan ikan laut itu menambahkan, jatah solar yang diterima setiap nelayan berbeda-beda, tergantung jenis dan kapasitas mesin kapal yang digunakan.

Untuk kapal bermesin tunggal misalnya, nelayan mendapat sekitar 350 liter per bulan dan biasanya hanya cukup untuk operasional selama 12 hari. 

Sementara kapal bermesin ganda memperoleh sekitar 450 liter per bulan dengan daya tahan sekitar 10 hari melaut.

Adapun kapal dengan mesin berkapasitas lebih besar mendapatkan sekitar 470 liter per bulan, namun hanya cukup digunakan selama lima hari operasional.

Petugas SPBN setempat, Heri, menjelaskan, penyaluran solar subsidi disesuaikan dengan kategori mesin kapal nelayan.

“Untuk mesin kecil sekitar 280 liter per bulan, sedangkan mesin yang paling besar maksimal kurang lebih 351 liter per bulan,” katanya.

Kapolsek Aluhaluh, Ipda Junaedi, membenarkan aktivitas nelayan di wilayahnya masih berjalan normal. “Nelayan di Aluhaluh sejauh ini masih tetap operasional melaut,” singkatnya. (Banjarmasinpost.co.id/nurholis huda)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved