Public Communication Summit 2026
CEO Tribun Network Ingatkan Pentingnya Mengenali Sumber Informasi di Era AI
Ia menilai kesalahan yang sering terjadi adalah memperlakukan semua sumber informasi dengan cara yang sama.
Penulis: Rifki Soelaiman | Editor: Ratino Taufik
BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI) membuat batas antara media, platform digital, hingga pembuat konten semakin kabur. Kondisi tersebut menuntut pemerintah maupun praktisi komunikasi publik untuk memahami siapa pembuat informasi sebelum menentukan cara meresponsnya.
Hal itu disampaikan Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers sekaligus CEO Tribun Network, Dahlan Dahi, dalam Public Communication Summit 2026 di Mahligai Pancasila Banjarmasin, Rabu (3/6/2026).
Menurut Dahlan, saat ini publik menerima informasi dari berbagai sumber yang memiliki karakter berbeda, mulai dari perusahaan pers, media sosial, influencer, hingga kanal informasi yang tidak memiliki identitas yang jelas.
Ia menilai kesalahan yang sering terjadi adalah memperlakukan semua sumber informasi dengan cara yang sama.
“Kalau anda memahami identitasnya, maka anda tahu bagaimana harus memperlakukannya. Selama kita tidak bisa mengidentifikasi dia apa, selama itu kita tidak bisa memahaminya,” ujarnya.
Dahlan menggambarkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan sebagai sesuatu yang tidak memiliki bentuk fisik, tetapi mampu hadir di berbagai ruang informasi sekaligus.
“Mesin intelijen itu tidak mempunyai fisik. Dia seperti roh,” katanya.
Baca juga: Kabar Gembira Bagi ASN dan PPPK di Kalsel, Besok Pemerintah Mulai Menyalurkan Gaji ke 13
Karena itu, menurutnya, langkah pertama yang perlu dilakukan dalam mengelola komunikasi publik adalah mengidentifikasi sumber informasi yang beredar.
Ia kemudian mengingatkan kembali definisi dasar dalam Undang-Undang Pers. Menurutnya, wartawan adalah pihak yang mencari, mengolah, dan melaporkan informasi, sementara berita merupakan informasi yang telah melewati proses verifikasi dan penyaringan berdasarkan Kode Etik Jurnalistik.
“Wartawan bekerja di perusahaan pers dan perusahaan pers berbadan hukum. Itu tiga penanda sederhana yang bisa digunakan untuk mengenali sumber informasi,” jelasnya.
Dahlan mengatakan, strategi komunikasi publik saat ini juga harus menyesuaikan karakter audiens dan perkembangan teknologi yang digunakan masyarakat.
Menurutnya, platform generative AI kini mampu memproses informasi dari berbagai sumber secara bersamaan, mulai dari situs web, media sosial hingga platform video.
Akibatnya, batas audiens menjadi semakin kabur atau borderless karena informasi dapat menyebar lintas platform dalam waktu yang sangat singkat.
Dalam kondisi tersebut, reputasi sebuah institusi tidak lagi hanya dibentuk oleh satu pemberitaan atau satu unggahan media sosial.
“Informasi tersimpan di server dan memori publik selamanya. Demikian juga reputasi,” tegasnya.
Karena itu, ia mengingatkan pengelola komunikasi publik untuk lebih cermat dalam membangun narasi dan memahami karakter setiap platform agar pesan yang disampaikan dapat diterima oleh audiens yang tepat.
(Banjarmasinpost.co.id/rifki soelaiman)
Public Communication Summit 2026
CEO Tribun Network Dahlan Dahi
Diskominfo Kalsel
Banjarmasinpost.co.id
TribunBreakingNews
| Bakom RI Sebut Komunikasi Publik Harus Berangkat dari Akal Sehat Masyarakat |
|
|---|
| Pemprov Kalsel Akui Maraknya Akun Anonim di Media Sosial Jadi Tantangan |
|
|---|
| Semua Pemda di Kalsel Deklarasi Komitmen Bersama Pengelolaan Isu Publik |
|
|---|
| Kelola Isu Sejak Dini, Pemprov Kalsel Dorong Komunikasi Publik yang Kredibel dan Terkoordinasi |
|
|---|
| Sejumlah Pejabat dan Tokoh Hadiri Public Communication Summit 2026 di Mahligai Pancasila Banjarmasin |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Ketua-Komisi-Digital-dan-Sustainability-Dewan-Pers-sekaligus-CEO-Tribun-Network-Dahlan-Dahi.jpg)