Harga Pertamax di Kalsel Naik
Imbas Kenaikan Harga Pertamax, Driver Ojol Tanahbumbu Terancam Migrasi Total ke Pertalite
lonjakan harga yang tiba-tiba ini membuat mereka kesulitan menentukan pengeluaran operasional dan tarif ongkos selanjutnya.
Penulis: Muhammad Fikri | Editor: Ratino Taufik
BANJARMASINPOST.CO.ID, BATULICIN – Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax 92 dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter sejak Rabu (10/6/2026) memicu gejolak di kalangan pekerja transportasi daring.
Jagat media sosial langsung ramai oleh keluhan warga akan kenaikan ini, khususnya di Tanah Bumbu yang kaget karena kebijakan ini berlaku mendadak tanpa pemberitahuan.
Ketua Serikat Pekerja Ojek Nusantara (SPION) Tanah Bumbu, Suriyani mengungkapkan bahwa kondisi psikologis para rekan driver di lapangan saat ini diselimuti kebingungan, lonjakan harga yang tiba-tiba ini membuat mereka kesulitan menentukan pengeluaran operasional dan tarif ongkos selanjutnya.
“Tentunya sangat ramai, banyak yang membuat status media sosial tentang ini karena terjadi dengan tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan. Ini membuat kebingungan dalam menentukan ongkos ojek selanjutnya,” ujar Suriyani saat diwawancarai.
Menurut Suriyani, kenaikan harga BBM yang mencapai sekitar 31 persen tersebut menjadi beban berat baru bagi operasional harian driver, apalagi, beban itu harus dipikul di tengah situasi biaya perawatan kendaraan seperti servis dan ganti oli yang sudah lebih dulu mengalami kenaikan harga.
Dampak finansial ini langsung memangkas pendapatan bersih yang dibawa pulang para driver untuk keluarga mereka. Suriyani menjelaskan, penyesuaian tarif pada ojek aplikasi membutuhkan waktu yang tidak sebentar dari pihak aplikator, padahal tarif dasar di Tanah Bumbu sejak awal dinilai masih lebih rendah dibanding biaya hidup setempat.
Situasi ini diprediksi kuat akan memicu migrasi besar-besaran driver ojol yang biasa mengonsumsi Pertamax untuk beralih total ke Pertalite.
Baca juga: Ribuan IKM di Banjarmasin Belum Terintegrasi Siinas, Disperdagin Ungkap Kendala di Pengurusan NIB
Pasalnya, selisih harga yang menyentuh Rp7.000 per liter dianggap terlalu lebar dan sangat menguras kantong jika tetap bertahan menggunakan Pertamax.
Namun, beralih ke Pertalite nyatanya bukan tanpa kendala dan justru berpotensi memicu masalah baru di lapangan, Suriyani melihat risiko antrean yang membludak di SPBU akan semakin parah, sehingga waktu produktif para driver untuk mencari penumpang akan terbuang sia-sia di jalan.
“Pertalite akan menjadi pilihan utama, namun masalah antrean yang membludak lebih parah. Sebagai ojek, waktu akan terbuang jika memaksakan antre,” tuturnya.
Dilanjutkanya, organisasi pekerja ojek ini menilai kebijakan penyesuaian harga tersebut sangat tidak berpihak kepada pekerja sektor transportasi daring.
Kenaikan yang mendadak ini dinilai janggal karena abai terhadap nasib para pekerja rentan yang menggantungkan hidup di jalanan.
Hingga saat ini, SPION Tanah Bumbu belum membangun komunikasi dengan pihak perusahaan aplikator terkait penyesuaian tarif per kilometer.
Ketiadaan kantor cabang aplikator di Tanah Bumbu membuat koordinasi harus dipersiapkan matang karena harus merujuk pada kantor induk yang berada di Banjarmasin.
Merespons kondisi pelik ini, Suriyani menegaskan bahwa langkah paling mendesak yang diharapkan dari pemerintah saat ini adalah hadirnya regulasi yang berpihak.
| Pertamax Naik, Warga Barabai HST Beralih ke Pertalite, Stok Pertalite di SPBU Sempat Habis |
|
|---|
| Pertalite di SPBU Lain Kosong, Antrean Sempat Memanjang Pagi Tadi di Pengisian Bypass Kandangan |
|
|---|
| Pertamax Naik Jadi Rp17 Ribu, Pembeli Pertalite di SPBU Mabuun Tabalong Alami Peningkatan |
|
|---|
| Pekerja di Banjarmasin Rela Antre Panjang Demi Pertalite, Harga Pertamax Dinilai Terlalu Berat |
|
|---|
| Harga Pertamax Naik, Stok 8.000 Liter Pertalite di SPBU Pulau Laut Banjarmasin Habis Sebelum Siang |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/ANTREAN-kendaraan-di-SPBU-di-Batulicin-Tanahbumbu-01.jpg)