Breaking News

Syiar Ramadan

Keistimewaan Bulan Ramadan

Rasulullah menyambut Ramadan sejak dua bulan sebelumnya dengan doa Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadan

Tayang:
Editor: Irfani Rahman
Tribunnews
KH M Cholil Nafis Ph.D, Wakil Ketua Umum MUI 

KH M Cholil Nafis Ph.D
Wakil Ketua Umum MUI

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, segala puji bagi Allah Subhanahu wa Ta’ala yang telah memberikan nikmat iman, nikmat Islam, serta nikmat umur dan kehidupan.

Pemirsa Tribun di manapun berada, Alhamdulillah, kita telah memasuki bulan yang sangat dinantikan oleh orang-orang beriman. Bagi orang yang beriman, datangnya bulan Ramadan adalah kebahagiaan. Karena itu, mereka mempersiapkannya jauh-jauh hari.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam telah menyambut Ramadan sejak dua bulan sebelumnya dengan doa yang kita kenal: Allahumma barik lana fi Rajab wa Sya’ban wa ballighna Ramadan. “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami ke bulan Ramadan.”

Inilah tanda kebahagiaan Nabi dalam menyambut Ramadan. Bahkan, sebagian ulama salaf disebutkan telah mempersiapkan diri sejak enam bulan sebelumnya.

Mengapa Ramadan begitu istimewa bagi orang beriman? Karena di bulan inilah terjadi keintiman yang luar biasa antara seorang hamba dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Namun, bagi orang yang tidak beriman, Ramadan justru terasa menakutkan.

Di sinilah Ramadan menjadi ujian keimanan kita: Apakah kita menyambutnya dengan bahagia, penuh suka cita, atau justru menganggapnya sebagai beban?

Keistimewaan Ramadan bagi orang beriman yang pertama adalah kedekatan dan keintiman dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala, keintiman yang tidak kita temukan dalam ibadah lainnya.

Allah berfirman dalam hadis qudsi, bahwa setiap amal anak Adam kembali kepada dirinya sendiri. Salat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Zakat kembali kepada kita dengan membersihkan harta dan menolong sesama. Haji pun memberikan manfaat rohani dan jasmani.

Namun puasa berbeda. Allah berfirman: “Puasa itu untuk-Ku, dan Aku sendiri yang akan membalasnya.”

Berapa balasannya? Tidak ada yang tahu. Allah memberikan balasan minimal sepuluh kali lipat, bisa tujuh ratus kali lipat, bahkan bisa lebih baik daripada seribu bulan, sebagaimana kemuliaan Lailatul Qadar.

Inilah makna berkah: bertambahnya kebaikan. Puasa menjadi ibadah yang sangat istimewa karena dilakukan secara rahasia. Ketika kita salat, orang lain melihat.

Ketika zakat, orang lain tahu. Ketika haji, banyak orang terlibat. Tetapi puasa, tidak ada yang tahu kecuali Allah.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved