Idulfitri 2026
Link Live Streaming Hasil Sidang Isbat Idulfitri 2026, Diumumkan Langsung Menag
Tak lama lagi pemerintah akan menggelar sidang isbat penentuan Idul Fitri 2026. Berikut link live streaming sidang isbat.
Pratikno menyampaikan, kalaupun penetapan Hari Raya Idul Fitri antara pemerintah dan Muhammadiyah berbeda, sebenarnya itu tidak masalah.
Hanya saja, Pratikno tetap berharap pemerintah dan Muhammadiyah ber-Lebaran pada hari yang sama.
"Nah ini nanti 1 Syawal-nya itu beda atau tidak, ya semoga sama, kalaupun beda tidak apa-apa," ucap Pratikno.
Menurut Pratikno, yang paling penting adalah bagaimana umat Muslim saling menghargai pilihannya satu sama lain.
"Jadi ya kita memang ya kita tidak harus sama, kita bisa berbeda. Tapi yang penting adalah kita saling menghormati, saling menghargai jika memang terdapat perbedaan hasil sidang isbat di tanggal 1 Syawal," imbuhnya.
Hari raya Idulfitri tahun ini diprediksi akan terjadi perbedaan, dimana PP Muhammadiyah sudah menetapkan 20 Maret 2026.
Sementara itu berdasarkan hisab BMKG diperkirakan Idul Fitri 1447 Hijriah bertepatan 21 Maret 2026.
Baca juga: Jalur Mudik Pelaihari-Kintap Dikabarkan Rawan Longsor dan Banjir, BPBD Ungkap Fakta Sesungguhnya
Ketua Tim Kerja Bidang Tanda Waktu BMKG, Himawan Widiyanto, menjelaskan, berdasarkan hisab atau perhitungan astronomi, Hari Raya Idul Fitri 1447 H memang diperkirakan jatuh pada 21 Maret 2026.
Himawan menjelaskan, ketinggian hilal pada 29 Ramadhan 1447 H atau 19 Maret 2026 berada antara 0° 54' 27" di Merauke, Papua, hingga 3° 07' 52" di Sabang, Aceh.
Sementara elongasinya berkisar antara 4° 32' 40" di Waris, Papua, sampai 6° 06' 10" di Banda Aceh.
"Berdasarkan kriteria MABIMS atau kesepakatan antarnegara Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Singapura), ketinggian minimal hilal adalah 3 derajat dengan elongasi 6,4 derajat. Karena ketinggian hilal pada 19 Maret belum memenuhi kriteria ini, bulan Ramadhan 1447 H digenapkan menjadi 30 hari," jelas Himawan saat dihubungi Kompas.com, Minggu (8/3/2026).
Dengan demikian, menurut perhitungan BMKG, 1 Syawal 1447 H atau Hari Raya Idul Fitri jatuh pada 21 Maret 2026.
Hal serupa juga diungkapkan Peneliti BRIN, Thomas Djamaluddin beberapa waktu lalu.
Beberapa telaahan dirinya menjadi dasar kemungkinan besar Idulfitri 1447 akan berbeda.
Sementara PP Muhammadiyah sudah menetapkan Idulfitri 1447 Hijriah bertepatan 20 Maret 2026.
Djamaluddin menjelaskan potensi perbedaan Hari Lebaran 2026 terjadi karena perbedaan antara hilal di lokal dan secara global.
Dalam penjelasannya, hilal belum memenuhi kriteria MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia dan Singapura) pada 19 Maret 2026. Artinya 1 Syawal 1447 H akan terjadi pada 21 Maret 2026.
MABIMS mensyaratkan hilal dinyatakan terlihat jika memiliki tinggi minimal 3 derajat dan sudut elongasi 6,4 derajat.
Dia juga memberikan catatan, kepastian ini akan menunggu hasil sidang isbat yang digelar pemerintah melalui Kementerian Agama nantinya.
"Pada saat maghrib 19 Maret 2026, di wilayah Asia Tenggara, Hilal belum memenuhi kriteria baru mabim. Maka 1 Syawal 1447 hijriah jatuh pada 21 Maret 2026 akan menunggu keputusan sidang isbat," kata Thomas.
Perbedaan lainnya, katanya, terjadi pada kategori KHGT atau Kalender Hijriah Global Tunggal.
Menurut kategori ini, posisi Bulan telah masuk kriteria begitu juga ijtimak terjadi sebelum fajar di Selandia Baru.
"Maka menurut kriteria KHGT, satu syawal 1447 hijriah jatuh pada 20 Maret 2026," ungkapnya.
Muhammadiyah sendiri telah mengumumkan penetapan 1 Syawal 1447 H, bersamaan dengan awal Ramadhan dan Zulhijah.
Ini dituangkan dalam Maklumat Nomor 2/MLM/I.0/E/2025 tentang Penetapan Hasil Hisab Ramadan, Syawal, dan Zulhijah 1447 H yang dikeluarkan oleh Majelis Tarjih dan Tajdid Muhammadiyah.
Muhammadiyah menggunakan metode hisab hakiki dengan rujukan KHGT. Ditetapkan bahwa 1 Syawal terjadi pada 20 Maret 2026.
Pendapat Ahli Falaq
Potensi terjadinya perbedaan penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah bakal terjadi tahun ini.
Pendapat ini datang dari ahli falaq yang menyatakan kemungkinan Idulfitri 1447 Hijriah bertepatan 21 Maret 2026.
Hal ini ditegaskan Ahli falak Aceh, yang juga Dosen Ilmu Falak Fakultas Syariah UIN Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe, Dr Tgk Ismail S.Sy M.A.
Ahli falaq ini menjelaskan, kondisi hilal pada 19 Maret 2026 nantinya belum memenuhi kriteria kriteria imkan rukyat MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura).
Sehingga hal ini mengakibatkan jumlah hari bulan Ramadhan 1447 H akan digenapkan 30 hari dengan ketetapan 1 Syawal 1447 H bertepatan pada hari Sabtu 21 Maret 2026.
Dr Tgk Ismail S.Sy M.A, Rabu (11/3/2026), menjelaskan, dalam kajian ilmu falak, untuk mengetahui awal bulan Hijriah sangat tergantung pada kondisi hilal secara astronomis.
Sehingga ada tiga data yang perlu diketahui secara astronomis yakni pertama, konjungsi geosentrik atau ijtma’ yaitu peristiwa ketika nilai bujur ekliptika Bulan sama dengan nila ekliptika Matahari dengan diandaikan pengamat berada di pusat Bumi.
Peristiwa ini kembali terjadi pada Kamis 19 Maret 2026 pukul 08.23.25 WIB atau pukul 09.23.25 WITA atau pukul 10.23.25 WIT.
Kedua, tinggi hilal adalah jarak bulan yang dihitung dari garis ufuk barat ke pusat piringan bulan.
Tinggi hilal di ufuk barat pada hari Kamis tanggal 19 Maret 2026 M atau 29 Ramadhan 1447 H saat matahari terbenam di seluruh Indonesia berkisar antara 03 derajat 07 menit 15 detik busur (tertinggi) di Sabang, sampai 00 derajat 53 menit 58 detik busur (terendah) di Merauke, artinya bulan sudah berada di atas ufuk barat saat matahari terbenam di Seluruh Indonesia.
Ketiga, sudut elongasi bulan adalah jarak sudut antara pusat piringan bulan dengan pusat piringan matahari yang terbentuk saat Matahari terbenam di tempat pengamatan.
Nilai sudut elogasi Bulan saat Matahari terbenam pada hari Kamis 19 Maret 2026 atau 29 Ramadhan 1447 H di seluruh Indonesia berkisar antara 06 derajat 06 menit 39 detik busur (tertinggi) di Lhoknga, sampai 04 derajat 32 menit 57 detik busur (terendah) di Waris.
Dari data tersebut, kata Tgk Ismail dapat disimpulkan bahwa hilal sudah wujud di atas ufuk barat saat matahari terbenam di Indonesia.
"Namun kondisi hilal belum memenuhi kriteria imkan rukyat MABIMS (Menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, Singapura). Kondisi hilal tersebut pun belum memungkin untuk dilihat baik dengan kasat mata atau dengan bantuan alat obtik seperti teleskop," katanya.
Karena kondisi hilal baru memungkinkan untuk dilihat bila memiliki ketinggian minimal 3 derajat di atas ufuk barat saat matahari terbenam dengan elongasi minimal 6,4 derajat.
Atas dasar data tersebut, tambah Tgk Ismail, bisa dipastikan hilal pada sore hari Kamis 19 Maret 2026 yang bertepatan 29 Ramadhan 1447 H di seluruh Indonesia tidak mungkin dilihat walaupun cuaca cerah.
Hal ini mengakibatkan jumlah hari bulan Ramadhan 1447 H akan digenapkan 30 hari dengan ketetapan 1 Syawal 1447 H bertepatan pada hari Sabtu 21 Maret 2026.
Link Live Streaming Sidang Isbat Penentuan Idul Fitri 2026 :
(banjarmasinpost.co.id/tribunnews.com/kompas.com)
| Panduan Shalat Idul Fitri, Amalan Sunah Sangat Dianjurkan Memasuki 1 Syawal |
|
|---|
| Niat Mandi Idul Fitri Sebelum Shalat Ied, Buya Yahya Ingatkan Amalan Sunah Lain |
|
|---|
| Salat Id di Sabilal Muhtadin Banjarmasin Dipusatkan di Halaman, Daya Tampung Capai 40 Ribu Jamaah |
|
|---|
| Daftar Amalan Sunah Sebelum dan Sesudah Shalat Idul Fitri, UAH Ingatkan Cukur Kumis |
|
|---|
| 50 Link Twibbon dan Ucapan Idulfitri 2026, Usai Download Gampang Dibagi di Medsos |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Menteri-Agama-Menag-Nasaruddin-Umar-mengumumkan-hasil-Sidang-Isbat-2025-lebaran-Senin-31-Maret.jpg)