Serambi Ummah

PAI Cuma Dua Jam, Guru: Tak Adil Masalah Moral Diserahkan ke Sekolah dan Ibu

Siswa lebih condong mengurus HP atau bercanda ketimbang mengikuti salat berjemaah Zuhur yang sudah ditetapkan di sekolah.

PAI Cuma Dua Jam, Guru: Tak Adil Masalah Moral Diserahkan ke Sekolah dan Ibu
Serambi Ummah
Cover Serambi Ummah Edisi 9/9/2016 

BANJARMASINPOST.CO.ID BANJARMASIN - Sejumlah kolah, masih memberlakukan materi Pendidikan Agama Islam (PAI) dua jam sepekan. Ini disebut-sebut sebagai satu penyebab rendahnya akhlak dan akidah anak muda, sehingga gampang terjerumus pergaulan bebas dan kriminal yang kasusnya terus meningkat.

Seorang guru PAI di Banjarmasin dalam sebuah forum mengungkapkan, dua jam pelajaran (90 menit) dalam sepekan dirasakan sangat kurang untuk menghantarkan anak didik ke tujuan pendidikan nasional, yaitu bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta bermoral di kehidupan sosial.

“Siswa lebih condong mengurus HP atau bercanda ketimbang mengikuti salat berjemaah Zuhur yang sudah ditetapkan di sekolah. Harus dihalau dulu baru mereka bergerak ke musala,” ujar sang guru PAI itu dalam forum yang diselenggarakan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Kalsel bersama ratusan ibu-ibu di Banjarmasin.

Dengan dua jam pelajaran PAI sepekan, sang guru pesimis sekolah mampu menjalankan perannya secara maksimal dalam membantu orangtua mewujudkan generasi muda bertakwa, bermoral dan berketerampilan berimbang.

“Jadi orangtua jangan menyerahkan bulat-bulat untuk urusan ini ke sekolah,” ujarnya.

Sementara era gadget sudah menguasai seluruh lapisan masyarakat, terlebih generasi muda di mana kandungan informasinya bukan hanya positif tetapi juga banyak situs porno dan judi yang merusak moral, menggiring ke kriminalisasi.

Tentang dua jam PAI sepekan, menurut Kepala Bidang Kurikulum Dinas Pendidikan Kota Banjarmasin, HA Zurkani MPd, memang masih ada sekolah yang memberlakukan.

“Tetapi setelah kita kembali ke Kurikulum 2013 pelajaran PAI ada tiga jam sepekan plus satu jam pelajaran untuk baca Alquran yang masuk sebagai mata pelajaran lokal (mulok). Jadi ada empat jam pelajaran, ini sudah cukup,” ujar Zurkani. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help