Ekonomi dan Bisnis

Budaya Membuat Bubur Asyura Tak Sebabkan Gejolak Harga Tahun Ini

Budaya unik masyarakat di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada tanggal 10 Muharram yaitu membuat dan mengkonsumsi Bubur Asyura.

Budaya Membuat Bubur Asyura Tak Sebabkan Gejolak Harga Tahun Ini
banjarmasinpost.co.id/achmad maudhody
Pedagang beras di pasar tradisional Kota Banjarmasin

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Budaya unik masyarakat di Kalimantan Selatan (Kalsel) pada tanggal 10 Muharram yaitu membuat dan mengkonsumsi Bubur Asyura masih banyak ditemui dan sangat kental dengan budaya Banjar.

Karena banyaknya masyarakat yang membuat Bubur Asyura bertepatan dengan 10 Muharram bahkan tidak jarang menyebabkan naiknya harga bahan pokok menjelang dan beberapa waktu setelah peringatan tangga 10 Muharram.

Namun tidak pada tahun ini, saat pantauan Bpost Senin (2/10/2017) di beberapa pasar tradisional yaitu Pasar Kuripan dan Pasar Sederhana tidak didapati kenaikan harga yang biasa terjadi setiap tahun pada momen ini.

Pedagang beras di Pasar Kuripan Hikmah menyatakan harga beras tetap stabil selama momen ini dan tidak ada kenaikan harga walaupun diakuinya jumlah permintaan meningkat beberapa hari terakhir.

"Tetap stabil, mungkin karena masih di musim panen jadi stok tetap banyak," kata Hikmah.

Hal ini diakuinya berbeda dengan tahun lalu, harga beras sempat naik karena permintaan beras meningkat karena beras merupakan bahan utama pembuatan Bubur Asyura.

Di tokonya Hikmah menjual cukup banyak jenis berS lokal Kalsel mulai dari siam, siam rukut, mutiara dan mayang mulai Rp 7.000 hingga Rp 13.000 perliter.

Pun demikian dengan pedagang sayur Minah. Dijelaskannya harga sayuran seperti tomat, wortel, terong, cabai, selada, daun bawang, pare, bawang, brokoli dan yang lainnya tetap stabil.

Padahal di momen yang sama di tahun sebelumnya komoditas sayuran juga sempat naik karena banyaknya permintaan.

Secara umum tidak ada kenaikan harga berarti pada komoditas di dua pasar tradisional ini. Hanya gula pasir di level agen yang mengalami sedikit kenaikan harga yaitu dari Rp 535.000 menjadi Rp 545.000 perkarung berisi 50 kilogram.

"Naik sedikit, tapi eceran masih dipertahankan Rp 12.000 perkilogram. Kalau naik lagi baru kami naikkan juga, tapi sementara ditahan Rp 12.000," kata pedagang gula Nur Hidayah.(*)

Penulis: Achmad Maudhody
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved