Masjid Tertua di Tabalong

Lima Kali Renovasi, Bentuknya Masjid Pusaka tak Banyak Diubah, Ini Makna 17 Tiang Guru

Dalam perjalanannya sejak awal, Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas ini juga mengalami beberapa kali renovasi.

Lima Kali Renovasi, Bentuknya Masjid Pusaka tak Banyak Diubah, Ini Makna 17 Tiang Guru
banjarmasinpost.co.id/dony usman
Penampakan bagian dalam Masjid Pusaka Banua Lawas Tabalong 

BANJARMASINPOST.CO.ID, TANJUNG - Dalam perjalanannya sejak awal, Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas ini juga mengalami beberapa kali renovasi.

Selain untuk perluasan ruang induk agar bisa banyak menampung jemaah, renovasi juga dilakukan dalam rangkan perbaikan.

"Dari awal berdasarkan catatan yang ada, setidaknya sudah lima kali renovasi dilakukan," kata Jupel Masjid Pusaka Banua Lawas, Misran.

Menurutnya, masjid yang bangunannya dominan berbahan kayu ulin mengalami pertama kali renovasi di tahun 1669.

Saat itu renovasi dilakukan untuk pergantian 4 tiang guru yang semula dari batang batung (bambu besar) menjadi kayu ulin.

Baca: Masjid Tertua di Tabalong Ini Dibangun Sejak Tahun 1625, Ternyata Dulunya Rumah Adat Suku Dayak

Lalu yang kedua pada tahun 1769 untuk melakukan penambahan tinggi tiang guru dari kayu ulin yang sudah terpasang.

Selanjutnya, renovasi ketiga di tahun 1791, saat itu tujuan renovasi hanya untuk penyempurnaan saja.

Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong. 2
Masjid Pusaka di Desa Banua Lawas, kecamatan Banua Lawas, Kabupaten Tabalong. 2 (banjarmasinpost.co.id/dony usman)

Berselang beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 1849, dilakukan renovasi untuk menambah daya tampung dengan melebarkan ruang induk masjid.

"Terakhir, renovasi dilakukan sekitar tahun 1932, untuk mengganti lantai dari ulin menggunakan lantai keramik," katanya.

Baca: Satu Areal dengan Makam Ulama Penjuang Penghulu Rasyid yang Sangat Dibenci Belanda, Ini Ceritanya

Hanya saja dari lima kali renovasi yang dilakukan, semuanya tidak ada yang membuat bangunan menjadi berubah dari bentuk aslinya.

Disampaikan Misran juga, dalam pembangunan masjid dengan menggunakan tiang dan tangga itu ternyata memiliki makna tersendiri.

Untuk 4 buah tiang guru dan tangga yang ada di tengah, melambangkan rukun Islam, dimana 4 tiang filosofinya sahadat, salat, zakat, puasa dan tangga adalah naik haji.

Kemudian untuk jumlah tiang guru dan tiang pendukung yang ada dalam ruang induk berjumlah 17 buah melambangkan jumlah rakaat salat lima waktu yang harus selalu dilaksanakan. (dony usman)

Penulis: Dony Usman
Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help