Jendela

Metafora Salsabila

Sebagai tamsil dari perjalanan hidup, Isra dan Mikraj menunjukkan bahwa awal dan akhir perjalanan adalah Allah.

Metafora Salsabila
Mujiburrahman

Oleh: MUJIBURRAHMAN, Akademisi UIN Antasari Banjarmasin

MENCERMATI kata-kata selalu menarik, apalagi kata-kata kunci dalam kepercayaan keagamaan seperti Isra dan Mikraj.

Kata isrâ’ adalah kata benda (isim) dari kata kerja asrâ yang merupakan kata kerja transitif (muta’ddî). Asalnya adalah sarâ yang berbentuk intransitif (lâzim). Sarâ artinya berjalan, sedangkan asrâ berarti memperjalankan. Jika berjalan dilakukan sendiri oleh yang bersangkutan, maka memperjalankan berarti membuat orang lain berjalan. Dalam peristiwa Isra Mikraj, Allah-lah yang memperjalankan Nabi SAW.

Mengapa berjalan dan memperjalankan? Mengapa jalan? Dalam Alquran, kata sabîl yang berarti jalan banyak sekali disebutkan. Dalam Al-Fatihah yang dibaca tiap rakaat salat, satu-satunya permintaan kaum Muslim kepada Allah adalah Ihdina al-shirâth al-mustaqîm (tunjukkanlah kami jalan yang lurus). Jalan yang lurus artinya jalan yang benar sehingga dengan mengikutinya, orang akan sampai ke tujuan.

“Jalan yang lurus” itu diberi penjelasan dengan dua lawannya: “Bukan jalan yang dimurkai dan bukan pula jalan orang-orang yang sesat”. Sebagian ulama berkata, lawan jalan lurus itu adalah dua sikap ekstrem. Memilih salah satu dari kesalehan pribadi atau sosial, formalitas hukum atau tujuan hukum, ritual atau spiritual, adalah ekstrem. Jalan lurus itu berada di tengah, memadukan keduanya dengan mesra.

Manusia memohon petunjuk ke jalan yang lurus karena dia seringkali berjumpa dengan godaan. Seperti dalam perjalanan Isra dan Mikraj, Nabi ditawari dua gelas yang berisi susu dan khamar. Dengan tepat, Nabi memilih susu yang putih bersih. Nabi juga dipanggil-panggil oleh seorang wanita tua berpakaian mempesona, tetapi dia tidak mempedulikan. Ternyata wanita tua itu adalah simbol kesenangan duniawi.

Kisah Isra Mikraj juga mencerminkan hidup kita. Banyak hal dalam hidup kita terjadi begitu saja tanpa kita minta. Kita tidak bisa memilih siapa ayah-ibu kita, kapan dan di mana kita dilahirkan. Semua itu telah ditetapkan Tuhan. Kita diperjalankan-Nya. Namun, kita juga bisa memilih. Kita bisa memilih pakaian dan makanan. Kita bisa memilih yang baik dan buruk. Dalam hal ni, kita ‘berjalan’ sendiri.

Jika isrâ’ digambarkan sebagai perjalanan mendatar, maka mi’râj adalah gerakan menaik. Mi’râj secara bahasa artinya tangga. Tangga adalah alat untuk naik dan turun. Digambarkan, Nabi menaiki tangga itu dengan kecepatan luar biasa sehingga menembus tujuh lapisan langit hingga ke Sidratul Muntaha, suatu tempat yang dekat dengan surga. Nabi terus naik ke Mustawa hingga ‘berjumpa’ dengan Sang Pencipta.

Dalam Mikraj itu, Nabi juga menerima perintah salat lima kali sehari. Salat adalah sarana agar kita bisa ‘berjumpa’ dengan Allah. Kata shalâh seakar dengan kata shilah yang berarti hubungan. Nabi berkata, ia menyukai tiga hal: parfum, perempuan dan salat. Parfum adalah keindahan tanpa bentuk. Perempuan adalah keindahan berbentuk. Salat menghubungkan manusia dengan sumber segala keindahan itu.

Sebagai tamsil dari perjalanan hidup, Isra dan Mikraj menunjukkan bahwa awal dan akhir perjalanan adalah Allah. Dia adalah awal perjalanan karena Dia-lah yang menciptakan kita. Dia akhir perjalanan karena suka atau tidak, maut pasti akan menjemput kita untuk menemui-Nya. Baik jalan mendatar ataupun mendaki, lurus ataupun melingkar, semua adalah jalan yang kita pilih sekaligus dipilihkan.

Kita semua tentu mendamba bahagia sempurna di akhir perjalanan. Namun, adakah perjalanan itu dapat berakhir jika tujuannya adalah Dia Yang Tak Terbatas? Tentu tidak. Mungkin ini sebabnya, kata Nurcholish Madjid, minuman di surga disebut salsabîla, yang jika dipisah menjadi sal-sabîla artinya tanyalah atau carilah (terus) jalan. Ayat-ayat Tuhan memang tak terbatas dan nikmat-Nya tak terhitung.

Muhammad Iqbal mungkin benar ketika mengatakan bahwa surga bukanlah tempat untuk bermalas-malasan. Kebahagiaan surgawi, baik bayangannya di dunia ini atau kenyataannya kelak di akhirat, adalah gerakan dan kreativitas tanpa akhir. (*)

Editor: Elpianur Achmad
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2018 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved