Tajuk

Ditambah Bukan Dikurangi

Alasan utamanya mengakar pada masalah klasik pengelolaan aset daerah, yakni peremajaan besar atau overhaul.

Tayang:
Editor: Ratino Taufik
Banjarmasin Post
BUS BRT milik Pemprov Kalsel yang terparkir rapi Terminal KM 6 tanpa kejelasan operasional, Selasa (19/5/2026). 

BANJARMASINPOST.CO.ID - BELASAN armada BRT Banjarbakula tampak terparkir dan diselimuti debu di Terminal Induk Km 6 Banjarmasin. Sudah beberapa bulan terakhir si “Tayo Biru” memang berhenti beroperasi.

Vakumnya operasional bus biru ini sudah dikonfirmasi Kepala Dinas Perhubungan Kalsel Fitri Hernadi. Pihaknya tidak menampik kondisi mandeknya layanan angkutan massal yang sempat jadi idola tersebut. 

Alasan utamanya mengakar pada masalah klasik pengelolaan aset daerah, yakni peremajaan besar atau overhaul. Armada tersebut memang telah mengaspal tanpa henti sejak 2019.

Proses penyesuaian regulasi baru dan kepastian alokasi anggaran daerah pun belum kunjung rampung. Bagi publik Kalsel, mandeknya BRT Banjarbakula jelas merupakan sebuah kerugian.

Ambil contoh di kolom komentar unggahan Instagram Banjarmasin Post, yang mengangkat kabar berhentinya operasi si “Tayo Biru”.

Kepala Dinas Perhubungan Kalsel, Fitri Hernadi bahkan sampai turun tangan menjawab satu per satu keluhan sampai permintaan tambah rute pada unggahan tersebut.

Saat ini, praktis angkutan publik Banjarbakula hanya mengandalkan Buy the Service (BTS) Trans Banjarbakula alias si “Tayo Hijau”.

Tak jarang, “Tayo Hijau” kewalahan melayani penumpang terutama pada rute Banjarbaru–Banjarmasin maupun sebaliknya dan di jam-jam sibuk. Bus Tayo, entah hijau maupun biru salah satu langkah pemerintah daerah yang sewajarnya diapresiasi.

Publik Kalsel sudah kadung ketergantungan pada hadirnya Bus Tayo.

Dari pelajar, mahasiswa sampai emak-emak sudah merasakan enaknya punya transportasi publik yang layak. “Bus Tayo” sedikit mengalihkan mimpi kalau Kalsel punya kereta api suatu saat nanti, seperti di Jawa sana. Mimpi yang tampaknya masih kejauhan.

Kita tentu berharap, langkah pemerintah provinsi yang sudah sukses menghadirkan transportasi publik yang layak tadi menjadi langkah yang konsisten.

Di tengah ketidakpastian harga BBM, transportasi publik yang layak bisa jadi solusi bagi sebagian masyarakat. Dan memang itulah tugas pemerintah.

Kalau melihat faktanya, sederhana. Mau hijau mau biru, seharusnya “Bus Tayo” ya ditambah, bukan dikurangi. Itu intinya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved