Pengelola RS Siap Lakukan Mediasi

Kain di Perut Disimpan Dalam Botol

Setelah beberapa kali BPost mengucap salam, baru ada sahutan dari seorang perempuan dari dalam rumah bercat kuning tersebut.

Editor: Halmien

TANJUNG, BPOST - Rabu (20/11) siang, suasana lengang terlihat di rumah permanen berteras keramik  di kawasan Kecamatan Upau, Tabalong. Setelah beberapa kali BPost mengucap salam, baru ada sahutan dari seorang perempuan dari dalam rumah bercat kuning tersebut.

Perempuan kurus dengan banyak uban di kepalanya itu adalah Maikem (65). Dia adalah istri Husnaen (70) yang selama tujuh tahun mengalami sakit karena ada kain kasa (perban) di dalam perutnya. Seperti diwartakan koran ini pada edisi kemarin, keluarga Husnaen menduga kain itu tertinggal saat dia menjalani operasi prostat di RSUD Pembalah Batung, Amuntai, Hulu Sungai Utara (HSU) pada 2006.

Semula, Maikem enggan berkisah tentang derita yang dialami sang suami. Namun, secara perlahan dia bersedia mengungkapkan. “Bapak memang sakit selama tujuh tahunan ini. Malam tadi (Selasa malam) baru datang dari berobat di Banjarmasin,” ujar dia.

Menurut Maikem, kondisi itu terjadi setelah Husnaen menjalani operasi di Amuntai. Kian hari, kondisi kesehatan pria tersebut bukan makin baik tetapi tetapi justru kian parah. Yang semula bisa pergi bersama Maikem ke kebun untuk menyadap getah pohon karet, setelah operasi justru tidak bisa lagi melakukannya. Husnaen lebih banyak berbaring di rumah.

“Di rumah ini cuma kami berdua. Anak-anak sudah punya rumah sendiri. Sejak Bapak tambah sakit, anak-anak sering ke sini,” katanya.

Karena kondisi itu pula, Maikem terpaksa tiap pagi pergi sendiri ke kebun. Dia baru meninggalkan rumah setelah mengurus sang suami.

“Setiap pagi sebelum ke kebun, saya siapkan makanan buat Bapak. Setelah itu baru berangkat,” ucap dia.

Semula, keluarga mengira sakit yang dialami Husnaen hanya sakit biasa. Baru ketahuan ada yang aneh di perut Husnaen setelah berobat ke RSUD Ulin Banjarmain. Itupun terjadi setelah penyakit Husnaen makin parah.

“Makanya saya tidak tahu soal itu (kain) sebab yang membawa berobat ke Banjarmasin adalah anak-anak,” kata ibu empat anak itu.

Saat ditemui di kamarnya, Husnaen dalam kondisi cukup baik meski selang kateter masih terpasang. Dia mengaku lebih banyak berbaring dan harus berjalan perlahan jika ingin ke kamar mandi.

“Kalau saya inginnya segera sembuh. Sudah bertahun-tahun tidak bisa bekerja. Setelah operasi di Banjamasin (pengambilan kain dari dalam perut) sudah tidak seperti dulu lagi sakitnya,” kata pria yang dipanggil dengan sebutan Mbah oleh para tetangganya tersebut.

Di mana kain itu Mbah? Husnaen mengatakan berada di rumah anaknya. “Kalau tidak di rumah Suwandi (anak pertama) mungkin di rumah Agus (anak ketiga),” ujarnya.

Berbekal informasi itu, BPost menuju rumah Suwandi yang berada satu desa dengan rumah Husnaen.  Namun, kain itu tidak berada di sana.

“Kain itu ada tetapi kami tidak pernah memegang karena sudah ditaruh di dalam botol dan dilapis lakban (sejak dari rumah sakit). Kain itu disimpan Agus,” kata dia.

Menurut Suwandi, setelah kain itu dikeluarkan melalui operasi di RSUD Ulin, kondisi kesehatan bapaknya terus membaik. Yang dialami saat ini hanyalah dampak infeksi karena lamanya kain itu bersarang di dalam perut.  “Semoga Bapak cepat sembuh,” ucapnya.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved