Rumah Banjar Gajah Baliku, Penuh Simbol Tradisional

Rumah tipe ini dulu banyak ditemui di perkampungan masyarakat Banjar, namun sekarang sudah banyak yang punah.

Penulis: Yayu Fathilal | Editor: Halmien
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Rumah Gajah Baliku di Jalan Martapura Lama nomor 28 RT 4, Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kota Martapura, Kabupaten Banjar. 

BANJARMASINPOST.CO.ID, MARTAPURA - Rumah Gajah Baliku merupakan satu dari beberapa rumah adat Banjar.

Rumah tipe ini dulu banyak ditemui di perkampungan masyarakat Banjar, namun sekarang sudah banyak yang punah.

Hanya ada sedikit yang masih bertahan di tengah gempuran bangunan-bangunan modern, di antaranya adalah Rumah Gajah Baliku di Jalan Martapura Lama nomor 28 RT 4, Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kota Martapura, Kabupaten Banjar.

Rumah ini tampak kuno, berusia 150 tahun dan masih dihuni pemiliknya.

Pemiliknya sekarang adalah ahli waris dari pemilik rumah yang pertama, yaitu Hajjah Esah.

Keturunan Hajjah Esah yang sekarang menempati rumah ini adalah generasi kelima di keluarganya.

Di dalam rumah ini, banyak ditemui perabotan kuno seperti baki kuningan, baskom kuningan, guci, piring malawin berbahan porselen, lukisan kincir angin Belanda berbahan batu porselen putih, setrika arang, gelas-gelas kaca, lemari kayu, cermin kayu hingga peti berbahan kayu jati dan koper kuno.

Perabotan modern yang tampak ada di rumah bahari ini hanya televisi, radio, DVD player serta kompor gas.

Seluruh rumah ini berbahan kayu ulin.

Memasuki pelatarannya, disambut oleh pintu masuk yang penuh ukiran.

Ruang tamunya tampak luas dan lega, dilengkapi beberapa kursi dan meja kayu serta perabotan-perabotan kuno tersebut di atas.

Di dindingnya tampak foto-foto bahari milik penghuni rumah dan surat keputusan dari Pemerintah Daerah Provinsi Kalimantan Selatan tentang penetapan rumah ini sebagai salah satu situs cagar budaya.

Agak ke belakang lagi, ada ruangan yang dipenuhi perabotan seperti tempat tidur, kelambu, tantaran atau tempat menggantungkan baju bagi pengantin baru orang Banjar serta beberapa gelas kaca klasik.

Di bagian bawah atapnya, ada celah mirip loteng yang di sekelilingnya dipagari dan berukiran.

Menurut pemilik rumah ini, Abu Najib, tempat ini dulu merupakan wadah calon pengantin perempuan Banjar dipingit sebelum hari pernikahannya tiba.

Halaman 1/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved