Rumah Banjar Gajah Baliku, Penuh Simbol Tradisional

Rumah tipe ini dulu banyak ditemui di perkampungan masyarakat Banjar, namun sekarang sudah banyak yang punah.

Tayang:
Penulis: Yayu Fathilal | Editor: Halmien
banjarmasinpost.co.id/yayu fathilal
Rumah Gajah Baliku di Jalan Martapura Lama nomor 28 RT 4, Desa Teluk Selong Ulu, Kecamatan Martapura Barat, Kota Martapura, Kabupaten Banjar. 

"Di situ calon pengantin melakukan berbagai aktifitas hariannya seperti makan, tidur, menjalani ritual batimung (mandi uap), balulur (luluran), dan aktifitas lainnya menjelang pernikahannya. Sebelum hari pernikahan tiba, dia tak boleh turun dari loteng itu," jelasnya.

Sekarang, kendati aktifitas itu masih banyak dilakukan calon pengantin perempuan Banjar, namun tidak lagi di atas loteng rumah karena rumah adatnya sudah banyak yang punah, makanya oleh pemiliknya loteng ini difungsikan sebagai gudang.

Bagian dapurnya agak menurun ke bawah dan masih tampak nuansa klasik Banjarnya walau pemilik rumah sekarang memasak dengan kompor gas.

Menurutnya, semua perabotan klasik di rumah ini adalah warisan nenek moyangnya.

Rumah ini satu komplek dengan rumah adat yang satu lagi, yaitu Bubungan Tinggi yang letaknya di belakang rumah Gajah Baliku ini.

Pemilik dua rumah ini adalah ayah dan anak.

"Rumah Bubungan Tinggi itu milik orangtua Hajjah Esah, yaitu HM Arif dan Hj Fatimah. Jadi, pemilik dua rumah ini masih satu keluarga. Perabotan-perabotan kuno di rumah ini merupakan warisan dari HM Arif," jelasnya.

HM Arif dulu merupakan orang kaya di kampungnya ini. Dia saudagar sukses yang berniaga hingga ke beberapa negara seperti India, Belanda, Singapura, Jerman, dan sebagainya.

Tak heran jika di rumah adat ini ada perabotan-perabotan produksi asing seperti piring malawin berbahan porselen bergambar gajah dari India dan lukisan kincir angin dari Belanda.

Beberapa perabotan itu kemudian diwarisi oleh putrinya, Hajjah Esah yang memiliki rumah Gajah Baliku ini.

Bagaikan sebuah cerita kilas balik, beberapa hari lalu ada seorang turis dari Jakarta yang baru saja pulang berwisata ke Belanda kemudian berkunjung ke rumah adat ini.

Rupanya di Belanda dia sempat berfoto di depan kincir angin yang gambarnya ada di lukisan warisan HM Arif itu.

Foto itu ditunjukkannya ke Abu Najib dan bangunan serta pemandangan di sekitar kincir angin itu sama persis seperti yang ada di lukisan tersebut.

"Baru tahu saya ternyata bangunan kincir angin di lukisan warisan kakek buyut saya itu hingga sekarang masih ada di Belanda sana," ujarnya.

Di dinding ruang tamunya ada ukiran-ukiran khas Banjar berupa tumbuhan seperti kangkung dan buah manggis.

Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved