Maulid dan Natal
Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (20 April 571 M) menurut pendapat yang masyhur.
Oleh: KH Husin Naparin LC MA
Wakil Ketua MUI Kalsel
Maulid dan Natal sama-sama berarti kelahiran, tapi penggunaannya berbeda. Kata maulid digunakan untuk kelahiran Nabi Muhammad SAW, sedang kata natal digunakan untuk kelahiran Isa Al-Masih. (Kamus Besar Bahasa Indonesia hal.567 dan 620).
Nabi Muhammad SAW dilahirkan pada 12 Rabiul Awal Tahun Gajah (20 April 571 M) menurut pendapat yang masyhur. Agak istimewa maulid tahun ini (1437 H) jatuh pada 24 Desember 2015. Hari dan tanggal tersebut menjadi hari libur nasional di negeri kita. Besoknya, 25 Desember 2015 juga hari libur nasional, karena hari dan tanggal ini bertepatan dengan natal Isa Al-Masih.
Beberapa catatan, bahwa Isa yang dilahirkan tanpa ayah mengundang dua pendapat bertolak belakang. Pertama beranggapan adanya unsur ketuhanan dalam diri Isa As, dan pendapat kedua menuduh Maryam (ibu Isa As) sebagai perempuan tidak terhormat dan bahkan ada yang meragukan keberadaan Isa As. (Thobbarah, hal.319).
Kedua pendapat itu dijawab oleh Alquran, yang artinya; Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), maka jadilah dia.” (Qs Ali Imran 59). Bahkan penciptaan Adam lebih unik, karena ia diciptakan dari tanah sedangkan Isa As mempunyai ibu.
Penciptaan Isa As di dalam Alquran digambarkan secara jelas dan rinci, mulai Jibril As meniupkan roh ke dalam rahim Maryam lewat kantong jubahnya, lahirnya Isa di tempat terpencil, sedihnya Maryam sampai menginginkan kematian agar dilupakan kalangan manusia, suara gaib yang menghiburnya agar tidak bersedih, sampai Isa dibawa ke tengah-tengah masyarakat Bani Israil, munculnya tuduhan yang bukan-bukan dan berbicaranya Isa di pangkuan sang ibu bahwa dirinya adalah hamba Allah, kepadanya diberikan Al-Kitab, dijadikannya ia seorang Nabi, penuh berkat dan keselamatan ketika hari dilahirkan, hari kematian dan hari kebangkitan. (Qs Maryam 27-33).
Salah satu tugas Isa As sebagai Rasulullah adalah memberikan kabar gembira akan datangnya seorang rasul. Rasul itu nantinya adalah paraclet dalam bahasa Yunani piriciatus. Hal ini tersebut di dalam Injil Yahya pasal 16 ayat 17. Paraclet atau piriciatus diartikan penghibur. Lembaga Al-Kitab Indonesia menerjemahkan dengan penolong.
Menurut seorang orientalis Italia, ahli Injil bernama Dr Karlo Nallino, paraclet atau piriciatus artinya adalah yang banyak mendapat pujian.(Kiblat No 17/XXVIII/hal. 15 dan Thobbarah hal.323). Bila rasul yang diberitakan itu nantinya banyak mendapat pujian, maka itulah dia Ahmad. Allah berfirman yang artinya;” Dan (Ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: “Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad).” (Qs Ash-Shaff 6)
Di hari ke tujuh usianya, sang bayi digendong oleh kakeknya Abdul Muttalib dibawa ke samping Ka’bah, diberi nama Muhammad. Ketika ditanya, mengapa diberi nama Muhammad? Ia menjawab, diharapkan bayi ini sesuai artinya terpuji, terpuji di sisi Allah di atas langit dan terpuji di sisi manusia di permukaan bumi.(Haikal, Hayatu Muhammad, hal.109). (*)