Opini Publik
Kurban, Ketakwaan, dan Kesadaran Peternakan Modern
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang memilih hewan kurban hanya berdasarkan ukuran tubuh atau harga murah.
Oleh: Dr. Suharlina, S.Pt., M.Si
Dosen Program Studi Peternakan
Universitas Islam Kalimantan Muhammad Arsyad Al Banjari
BANJARMASINPOST.CO.ID - Menjelang Hari Raya Iduladha, suasana penjualan hewan kurban mulai ramai di berbagai daerah, termasuk Kalimantan Selatan. Lapak sapi dan kambing dipadati pembeli, sementara harga ternak perlahan meningkat mengikuti tingginya permintaan masyarakat. Momentum ini bukan hanya ritual keagamaan tahunan, tetapi juga menjadi peristiwa sosial dan ekonomi yang penting bagi sektor peternakan rakyat.
Dalam Islam, kurban merupakan simbol ketakwaan dan kepedulian sosial. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Hajj ayat 37 bahwa daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, melainkan ketakwaan manusia itu sendiri. Artinya, inti kurban bukan sekadar menyembelih hewan, melainkan tentang keikhlasan, pengorbanan, dan manfaat yang diberikan kepada sesama.
Namun demikian, Islam juga menekankan pentingnya kualitas hewan kurban. Rasulullah SAW melarang penggunaan hewan yang sakit, pincang, buta, atau terlalu kurus untuk dijadikan kurban. Dalam perspektif ilmu peternakan, ketentuan tersebut sangat relevan dengan prinsip kesehatan hewan dan keamanan pangan modern. Hewan yang sehat akan menghasilkan daging yang aman, bergizi, dan layak dikonsumsi masyarakat.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang memilih hewan kurban hanya berdasarkan ukuran tubuh atau harga murah. Padahal, tubuh besar belum tentu menghasilkan daging lebih banyak. Dalam ilmu peternakan dikenal istilah bobot hidup, karkas, dan daging konsumsi. Bobot hidup adalah berat ternak sebelum dipotong.
Setelah disembelih, tidak semua bagian tubuh dapat dimakan karena ada darah, kulit, kepala, kaki, dan organ dalam yang dipisahkan. Bagian yang tersisa disebut karkas.
Pada sapi, persentase karkas umumnya hanya sekitar 45 hingga 55 persen dari bobot hidup. Artinya, sapi berbobot 400 kilogram rata-rata menghasilkan sekitar 200 kilogram karkas. Dari jumlah tersebut, daging konsumsi biasanya sekitar 70 hingga 80 persen karena masih terdapat tulang dan lemak. Dengan demikian, seekor sapi 400 kilogram umumnya menghasilkan sekitar 150 kilogram daging siap konsumsi.
Hal serupa terjadi pada kambing dan domba yang memiliki persentase karkas lebih rendah dibanding sapi. Pemahaman ini penting agar masyarakat tidak keliru memperkirakan jumlah daging yang diperoleh dari hewan kurban. Edukasi mengenai karkas juga membantu masyarakat memahami bahwa kualitas ternak tidak hanya dilihat dari besar tubuh, tetapi juga efisiensi produksi dagingnya.
Dalam dunia peternakan, kualitas ternak dipengaruhi oleh faktor genetik, umur, pakan, dan sistem pemeliharaan. Ternak yang dipelihara dengan nutrisi baik akan memiliki pertumbuhan otot yang optimal sehingga menghasilkan karkas lebih tinggi. Sebaliknya, ternak yang dipelihara secara tradisional dengan kualitas pakan rendah cenderung menghasilkan produksi daging yang kurang maksimal.
Momentum Iduladha sebenarnya menjadi peluang besar bagi peternak lokal. Permintaan ternak yang meningkat mampu membantu perekonomian peternak rakyat. Di banyak daerah, penjualan hewan qurban bahkan menjadi sumber pendapatan utama tahunan bagi peternak kecil. Karena itu, meningkatnya kesadaran masyarakat membeli ternak lokal dapat memperkuat ketahanan pangan sekaligus mendukung ekonomi daerah.
Di sisi lain, aspek kesehatan hewan tetap harus menjadi perhatian utama. Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia pernah menghadapi ancaman penyakit mulut dan kuku yang berdampak besar terhadap sektor peternakan. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pemeriksaan kesehatan hewan sebelum penyembelihan. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian juga telah menerapkan prinsip ASUH, yaitu Aman, Sehat, Utuh, dan Halal dalam penyediaan pangan asal hewan.
Selain kesehatan ternak, kesejahteraan hewan atau animal welfare juga menjadi isu penting. Islam sesungguhnya telah mengajarkan konsep tersebut jauh sebelum dikenal dalam ilmu peternakan modern. Rasulullah SAW mengajarkan agar hewan diperlakukan dengan baik, tidak disiksa, dan tidak dipotong di hadapan hewan lain. Perlakuan kasar terhadap ternak tidak hanya bertentangan dengan nilai agama, tetapi juga dapat menurunkan kualitas daging akibat stres pada hewan sebelum penyembelihan.
Pelaksanaan kurban juga perlu memperhatikan kebersihan lingkungan. Masih ditemukan lokasi penyembelihan yang kurang higienis serta penanganan limbah yang tidak baik. Padahal, kebersihan merupakan bagian penting dalam ajaran Islam dan kesehatan masyarakat.
Pada akhirnya, kurban bukan sekadar ritual penyembelihan hewan. Kurban adalah perpaduan nilai ibadah, kepedulian sosial, kesehatan masyarakat, dan kesadaran peternakan modern. Momentum Iduladha seharusnya menjadi sarana edukasi bahwa memilih hewan qurban yang sehat dan berkualitas merupakan bagian dari tanggung jawab moral dan keagamaan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/banjarmasin/foto/bank/originals/Dr-Suharlina-SPt-MSi-Dosen-Program-Studi-Peternakan-Uniska.jpg)