Opini Publik

Tragedi Bekasi dan Faktor Manusia

DI tengah situasi ekonomi global yang galau, tetiba kita dikagetkan dengan kecelakaan kereta api yang merenggut nyawa tidak kurang dari 15 orang

Tayang:
Editor: Hari Widodo
banjarmasinpost.co.id/Istimewa
Dr Nugroho Dwi Priyohadi, MSc., MH, Alumni S3 Universitas Airlangga dan Port Management WMU Swedia, Dosen STIAMAK Barunawati Surabaya. 

Oleh:  Dr Nugroho Dwi Priyohadi, MSc., MH

Alumnus S3 PIO Universitas Airlangga, Dosen STIAMAK Barunawati Surabaya

BANJARMASINPOST.CO.ID- DI tengah situasi ekonomi global yang galau, tetiba kita dikagetkan dengan kecelakaan kereta api yang merenggut nyawa tidak kurang dari 15 orang dan puluhan luka-luka serius (lihat: https://banjarmasin.tribunnews.com/news/1359393/update-kecelakaan-kereta-api-di-bekasi-renggut-15-nyawa-perlu-delapan-jam-evakuasi-korban).

Kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek dengan KRL di Bekasi Timur tersebut menjadi satu dari rangkaian kecelakaan transportasi darat, dalam hal ini kereta api, yang jika ditelusuri akan mengundang diskusi apakah disebabkan oleh faktor teknis (technical error), faktor manusia (human error), atau memang hukum alam musibah akan berjalan sesuai dengan iramanya sendiri.

Data menunjukkan setidaknya tercatat ada 5 peristiwa kecelakaan kereta api yang menewaskan tidak kurang dari 36 orang (2010), 14 orang (2006), 31 orang (2001), 20 orang (1993), dan legenda kecelakaan Bintaro yang menewaskan 156 orang (1987).

Pemicu umum biasanya adalah ada mobil mogok di tengah lintasan kereta api, baik dengan pintu palang yang diterobos, atau tanpa palang dan tidak menghiraukan suara sirine peringatan kereta mau lewat.

Akibatnya laju kereta yang memiliki gerbong panjang, tidak bisa direm mendadak berhenti, dan terjadi benturan simultan dari gerbong satu ke gerbong yang lain, dan seterusnya.

Sekian lama ada tuduhan faktor teknis, misalnya mobil mogok karena efek magnetic dari rel kereta api yang mematikan mesin mobil di tengah lintasan, namun akhirnya kita semakin tahu bahwa faktor manusia lah penyebab utama banyak kecelakaan transportasi darat selama ini.

Perilaku Tidak Aman

Dalam dunia kerja, telah mengenai penyebab kecelakaan telah lama diteliti. Ditemukenali bahwa 90 persen kecelakaan kerja, ternyata disebabkan oleh faktor manusia yang lazim disebut sebagai human error atau kesalahan manusia.

Perilaku tidak aman, lebih tepat adalah perilaku tidak selamat,  umumnya mencakup tindakan tidak aman (unsafe act) akibat kelalaian, ketidaktahuan, kurangnya keterampilan, maupun pelanggaran prosedur kerja (SOP).

Setidaknya ada 3 poin utama dalam perilaku tidak selamat yang disebabkan oleh manusia (human error/human factor)

Pertama, Perilaku Tidak Aman (Unsafe Act, unsafe behavior). Hal ini nampak dari tindakan yang disengaja atau tidak disengaja, seperti tidak menggunakan Alat Pelindung Diri (APD), bekerja tergesa-gesa, atau bercanda saat bekerja.

Kedua, Keterbatasan Manusia (physical factor). Faktor fisik dan mental seperti stamina rendah, kurang konsentrasi, kelelahan, atau keterbatasan panca indera.

Sebagian pengendara motor atau mobil di jalanan dalam kondisi fatique (lelah), sehingga hilang konsentrasi dan setengah linglung. Akibatnya, main terobos atau tidak peduli terhadap aspek keselamatan diri maupun orang lain.

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved